Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Ancaman Bagi Mereka yang Berkata Tanpa Ilmu

Reading Time: 7 minutes

Ancama Bagi Mereka yang Berkata Tanpa Ilmu

Hukum dan Pandangan syariat atas seseorang yang berkata tanpa ilmu dan dasar yang benar


Bismillahi wal hamdulillah, wasshalaatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa man waalah, amma ba’du,

Banyak terjadi sejak wafatnya Nabi ﷺ dan para sahabatnya terlebih lagi saat ini, dimana banyak manusia yang berkata tentang agama tanpa ilmu, mereka berkata hanya dengan prasangka dan perasaan serta hawa nafsunya saja

Bahkan dengan mudahnya seorang berbicara dan mengomentari hukum agama di media sosial atau bahkan di forum pertemuan padahal membaca Al Qur’an saja belum lancar bahkan bahasa Arab saja tidak faham, ini adalah musibah besar. Padahal tidak ada manusia berakal yang berani berbicara tentang suatu disiplin ilmu kecuali dia bisa memberikan argumentasi berupa jurnal ilmiah atau kaidah yang diakui oleh para ahli.

Tidak ada orang berakal yang berani berkata “5+5 sama dengan 12″, bahkan jika ada yang mengatakan hal demikian dengan berbagai argumen akal dan perasaannya, niscaya tidak akan pernah ada yang menerimanya kecuali mereka yang kurang akal. Tidak akan ada manusia berakal yang berani berkata bahwa “Jantung ada dibelakang Otak, karena saya merasakan ada denyut jantung dibelakang kepala saya” meskipun orang yang berkata memberikan ribuan argumen dari akal dan perasaannya tanpa bukti empiris maka tidak ada yang akan menerimanya kecuali orang yang juga lemah akal seperti dirinya.

Namun perkara Agama Islam dan berkata tentangnya tanpa ilmu jauh lebih besar dan berat konsekuensinya daripada berkata tanpa ilmu dalam ilmu lainnya.

Baca Juga : Cara Terbaik Memuliakan Ilmu – Ringkasan Syarah Ta’dzhimul Ilmi (Bag. Pertama)

Mengapa Manusia Berkata Tanpa Ilmu ?

Mengapa

Sumber

Kita sebagai Manusia memang sangatlah kompleks, seringkali kita menggunakan insting primitifnya untuk bertahan hidup, dan diantara insting primitif manusia untuk hidup adalah merasa “superior” dibanding orang lain

“Behind everyone who behaves as if he were superior to others, we can suspect a feeling of inferiority which calls for very special efforts of concealment. It is as if a man feared that he was too small and walked on his toes to make himself seem tall”

Salah satu ungkapan dari Alfred Adler seorang Psikolog dan Dokter dari Austria

Menurut Adler semua manusia yang terlahir di dunia mau dianggap dan dinilai “superior” dibanding orang lain. Itulah mengapa setiap orang melakukan upaya upaya untuk mewujudkannya. Hal ini umum terjadi karena ini adalah dorongan bawah sadar tiap individu untuk menunjukkan kualitas dari gen dan dirinya.

Bahkan dalam beberapa kasus dan keadaan, seseorang yang seringkali berbicara tanpa ilmu memiliki kondisi gangguan mental yang disebut Dunning-Krugger Effect, yang dapat diartikan sebagai berikut

“Dunning-Kruger Effect dikutip dari Morris, Errol (20 Juni 2010). “The Anosognosic’s Dilemma: Something’s Wrong but You’ll Never Know What It Is (Part 1)”The New York Times “merupakan suatu bias kognitif ketika seseorang tidak memiliki kemampuan tetapi mengalami illusory superiority, artinya ia merasa kemampuannya lebih hebat daripada orang lain pada umumnya. Bias ini diakibatkan oleh ketidakmampuan orang tersebut secara metakognitif untuk mengetahui segala kekurangannya”.

Diantara penyebab gangguan ini, adalah merasa telah banyak belajar, memiliki pikiran yang tidak terbuka, dan berkurangnya metakognisi seseorang alias kurang wawasan dan keilmuan

Jadi dapat ditarik kesimpulan sederhana, seseorang yang bodoh seringkali merasa dirinya lebih pintar sehingga berani berbicara tentang suatu hal padahal dia hanya menggunakan akal dan perasaannya saja

Allah ﷻ berfirman dalam kitabNya

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh”

QS. al Ahzab 72

Manusia memang memiliki sifat Dzalim lagi Bodoh, sehingga mereka bisa berani berkata apapun yang mereka inginkan bahkan seringkali merasa benar dengan berbagai prasangka yang mereka miliki

Namun semakin berilmu seseorang, maka semakin memahami hakikat kebenaran, maka sungguh benar firman Allah ﷻ dalam kitabNyaa

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَـٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama (orang yang berilmu). Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.”

QS. Faathir 28

Ancaman Bagi Orang yang Berkata Tanpa Ilmu

Sumber

Berkata tanpa ilmu terhadap agama ini, sama seperti orang yang berkata dengan kebohongan atas nama Allah dan RasulNya, dan berkata tanpa ilmu dalam hal agama adalah Dosa Besar karenanya. Mengapa demikian?

Baca Juga : Urgensi Ilmu dan Mempelajarinya

Karena agama ini adalah agama yang turun dari Allah kepada seluruh nabiNya, mulai dari Adam alaihissalam hingga penutup para Rasul Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, perkara agama ini adalah perkara Samawi maka tidak boleh seseorang berkata tentang Halal dan Haram, Salah dan Benar dalam perkara agama kecuali memiliki sandaran dari al Qur’an dan Hadits yang shahih dari Rasulullah ﷺ bukan selainnya, hanya para ahli ilmu yang hafal dengan baik al Qur’an dan memahami serta menguasai Hadits yang shahih dari Rasulullah ﷺ saja lah yang dapat ber-ijtihad dalam hal yang ada pintu ijtihad didalamnya (bukan perkara paten yang sudah ada di al Qur’an dan Sunnah) dengan ilmu dan kewara’annya, bukan dengan hawa nafsunya

Allah ﷻ berfirman dalam kitabNya

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّىَ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلْإِثْمَ وَٱلْبَغْىَ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا۟ بِٱللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِۦ سُلْطَـٰنًۭا وَأَن تَقُولُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.”
Allah jadikan larangan berkata terhadapNya tanpa ilmu sejajar dengan larangan berbuat syirik kepadaNya, yang mana syirik adalah dosa terbesar yang tidak akan diampuni pelakunya jika belum bertaubat sampai matinya, dan syirik adalah satu-satunya kedzaliman terbesar yang Allah firmankan dalam kitabNya.
Dan juga Allah ﷻ berfirman dalam beberapa ayat yang melarang keras seseorang untuk berkata tanpa ilmu
وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ ٱلْكَذِبَ هَـٰذَا حَلَـٰلٌۭ وَهَـٰذَا حَرَامٌۭ لِّتَفْتَرُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan ini haram,” untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung.”
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا 
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
Maka barangsiapa yang berbicara atau bahkan berfatwa dalam hal agama ini tanpa ilmu, sungguh dia telah menjadikan dirinya Sekutu yang terlaknat bagi Allah Jalla wa ‘Alaa dalam pensyariatan, sungguh sangat keji perbuatan itu dan sangatlah merusak
Diantara ciri akan segera terjadinya kiamat dan kebinasaan ummat adalah menyebarnya kebodohan dan banyaknya pengikut kesesatan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ yang shahih darinya
‏إن الله لا يقبض العلم انتزاعًا ينتزعه من الناس ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبقِ عالمًا، اتخذ الناس رءوسًا جهالا، فسئلوا فأفتوا بغير علم، فضلوا وأضلوا‏
“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dari muka bumi secara langsung, akan tetapi Allah cabut ilmu dengan mewafatkan para Ulama hingga tidak tersisa seorang ulama pun, manusia akan menjadikan orang bodoh pemimpin mereka, manusia bertanya pada pemimpin bodoh itu lantas pemimpin bodoh itu berfatwa tanpa ilmu, mereka tersesat lagi menyesatkan”
Bahkan dalam diriwayatkan dalam suatu hadits hasan tentang kemarahan Rasulullah ﷺ terhadap seorang sahabat yang berfatwa tanpa ilmu hingga menghilangkan nyawa saudaranya seiman disebabkan kebodohannya, Rasulullah ﷺ berkata terhadap perbuatan orang tersebut dan orang yang membiarkannya berfatwa tanpa ilmu
‏ قَتَلُوهُ قَتَلَهُمُ اللَّهُ أَلاَّ سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِرَ
“Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membinasakan mereka ! Bukankah jika mereka tidak mengetahui, mereka bisa bertanya ?! Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya, sungguh dia cukup bertayammum (tidak perlu mandi janabah)”
Sudah seharusnya bagi kita untuk meninggalkan seorang yang berkata tentang agama tanpa ilmu dan mengecam mereka dengan keras, berkata dalam agama tanpa ilmu adalah mereka yang berkata tentang agama tanpa sandaran al Qur’an dan Hadits shahih diatas pemahaman Rasulullah dan para Sahabatnya, sebagaimana sabdanya tentang siapa ummat yang selamat dari neraka Jahannam
 مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي 
Mereka adalah yang berada diatas apa yang aku dan para sahabatku lakukan”

Solusi Terbaik untuk Masalah ini

Sumber

Solusi terbaik untuk seorang muslim agar tidak berbicara tanpa ilmu adalah dengan belajar ilmu agama sebaik mungkin, dan memahami kapasitas dirinya sendiri juga harus menanamkan ketakwaan yang baik dalam dirinya, sehingga tidak mudah untuk mengatakan suatu hal pun dalam agama kecuali dia sudah mengetahuinya dengan yakin dan terang perkara tersebut baginya

Baca Juga : Membersihkan Hati Tempat Semayam Ilmu

Bahkan para ulama seringkali menjawab “Allahu A’lam” dalam perkara yang belum jelas bagi mereka, bahkan siapakah yang tidak kenal Imam Malik bin Anas? Seorang ulama yang sangat terkenal di zamannya. Bahkan ketenarannya masih kita jumpai di zaman kita dengan bukti madzhab fiqihnya yang masih dipakai oleh sebagian kaum muslimin.

Siapakah yang tidak kenal Imam Malik? Ulama besar yang menjadi guru dari ulama besar. Ya, Imam Malik adalah guru dari Imam Syafi’i. Tidak ada yang meragukan ‘keulamaan’ Imam Malik. Bahkan ada ungkapan terkenal “Tidak ada yang berhak berfatwa sedangkan Imam Malik ada di Madinah”.

Namun dalam kitab Raudhah an-Nazhir Wa Junnah al-Munazhir Ibnu Qudamah al-Maqdisi menukil sebuah riwayat tentang Imam Malik. Imam Malik pernah ditanya tentang empat puluh permasalahan. Namun tiga puluh enam di antaranya beliau jawab dengan jawaban: “Saya tidak tahu”. Riwayat serupa dapat kita temukan dalam kitab al-Intiqa’ karya Ibnu Abdil Barr.

Seorang ulama besar ditanya tentang empat puluh pertanyaan tetapi tiga puluh enam pertanyaan dijawab dengan jawaban: “Saya tidak tahu”. Itu artinya hanya empat pertanyaan yang berhasil beliau jawab. dinukil dari rumahfiqih.com

Dan jika kita menemui orang seperti ini, doakanlah agar dia mendapat hidayah dan beberapa tips dari ahli diantaranya

  • Hindari debat atau argumen dengannya, kecuali diperlukan.
  • Latih empati dan sadari bahwa tindakannya tersebut mungkin berakar dari masalah pribadi, baik keluarga yang problematik maupun gangguan mental.
  • Tidak perlu dimasukan ke hati, sadari saja bahwa komentar dan perilakunya tentang kinerja Anda tidak ada hubungannya dengan sosok Anda sebenarnya.
  • Bila memungkinkan, ajak ia mengikuti pelatihan dan belajar ilmu yang benar yang diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya, sehingga ia akan lebih sejalan dengan penilaiannya sendiri.

Semoga Allah jauhkan kita dan kaum muslimin seluruhnya dari perilaku buruk dan tidak terpuji ini.

Washallallahu ‘ala nabiyyinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin

Share:

Ust. Thariq Aziz al Ahwadzy

Thariq Aziz al Ahwadzy, seorang penuntut ilmu yang menyukai dunia pendidikan dan dakwah islam yang kaaffah, saat ini masih menempuh pendidikan di King Khalid University, Abha, Arab Saudi jurusan Ushuluddin dan Dakwah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *