Ibu Jangan Bandingkan Aku

Ibu jangan bandingkan aku
gue gak suka dibanding bandingin sama anak lain

السلَامُ عليكم و رحمةُ اللهِ و بركَاته

Kamu dibilangin kok paham-paham !, lihat tuh si pendi dia dibilangin sekali langsung nurut, gak seperti kamu !

Cecar ibu kepadaku

Yaa Allah, kamu itu kenapa sih mas, kerjaannya main hape aja, tidur-tiduran aja, kerja sana loh kayak anaknya pak sabeni gitu loh, rajin ke masjid, pagi-pagi udah rapi ke kantor

Dipagi hari depan kamar ku

Kok kamu gak pernah dapat nilai bagus sih farhan !, kan ibu dah bilang, belajar yang bener biar bisa dapet nilai bagus, malu sama Budi anaknya bu Tuti tuh, dia meski orang pas-pas an, tapi rajin belajar dan ranking satu terus

Hari pembagian rapor

Mungkin banyak hal dan kejadian semisal yang pernah kita alami, ibu sering banget marahin kita bahkan membandingkan kita dengan orang lain, padahal kita yaa kita, dia yaa dia, beda orangtua dan beda pula latar belakangnya, jadi yaa gak bisa lah disamakan

Kesal? Ya sebagian besar kita geram jika ibu sudah membandingkan kita dengan orang lain.

Namun, pernahkah kita berfikir secara adil dari perspektif ibu, dengan pertanyaan

Apakah ibu lebih mencintai anak tetangga daripada gue ?

Kalo boleh jujur, gue berani jawab kalo ibu itu amat cinta sama kita, lah buktinya, kalo ibu gak cinta dengan kita, yakin gak akan pernah dinasihati olehnya

Terus ?? kenapa harus bandingin anaknya dengan anak tetangga yang notabenenya beda asal dan beda usulnya ?

Jawabannya simpel

Thariq Aziz al Ahwadzy

Thariq Aziz al Ahwadzy, seorang kelahiran kota Bekasi pada 21 Juli 2000, penuntut ilmu dan CEO Menjadi Muslim yaitu Platfrom untuk belajar bersama menjadi seorang muslim seutuhnya. Belajar dan belajar itulah jalan hidupnya

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: