Sifat – Sifat Terpuji Hamba Pilihan ar Rahman (Part 2)

Sifat Terpuji Hamba Pilihan ar Rahman
Photo by Sidekix Media on Unsplash

Sifat – Sifat Terpuji Hamba Pilihan ar Rahman

Disarikan dari Kitab Sifat ‘Ibadirrahman Karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al Badr حفظه الله تعالى


Bismillahi wal hamdulillah, wasshalaatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa man waalah, amma ba’du,

Sungguh penghambaan diri secara totalitas kepada Allah ﷻ adalah sebuah kemuliaan, keutamaan yang agung, yang Allah ﷻ puji dengannya para nabi dan rasul serta para waliNya yang mulia dalam banyak ayat dan hadits dari firmanNya.

Kita telah membahas sebagian sifat-sifat ini pada artikel sebelumnya Sifat – Sifat Terpuji Hamba Pilihan ar Rahman (Part 1) 

Pada part ini akan saya sampaikan 3 sifat lainnya yang in syaa Allah bermanfaat bagi kita dan ummat muslim seluruhnya.

Allah ﷻ berfirman,

وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا ٦٧ وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُوْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَامًا ۙ ٦٨ يُّضٰعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَيَخْلُدْ فِيْهٖ مُهَانًا ۙ ٦٩ اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ٧٠ وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَاِنَّهٗ يَتُوْبُ اِلَى اللّٰهِ مَتَابًا ٧١ وَالَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَۙ وَاِذَا مَرُّوْا بِاللَّغْوِ مَرُّوْا كِرَامًا ٧٢

Al Furqon 67 – 72

Ayat-ayat diatas menyampaikan kepada kita, tentang sifat-sifat mulia dari hambaNya sang Maha Mulia, Allah janjikan kepada mereka kebaikan dan balasan terindah di akhirat kelak di akhir ayatnya, sifat-sifat inilah yang sudah sepatutnya kita sebagai seorang muslim menghiasi diri dengan perangai terbaik yang Allah dan rasulNya ajarkan, berusaha melaksanakannya dengan sebenar-benarnya.

SIFAT KEEMPAT

Sikap pertengahan dalam membelanjakan hartanya, tidak pelit juga tidak boros

﴿وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا ٦٧ ﴾

“Dan, orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya.”

Al Furqon 67

Dan diantara sifat terbaik hamba-hamba Arrahmaan adalah adil dalam menggunakan hartanya, tidak pelit untuk diri sendiri maupun orang lain, namun juga tidak boros dan terlalu loyal. Karena sungguh mereka mengetahui bahwa segala yang mereka miliki dan mereka belanjakan dari hartanya akan dihisab disisi Allah, semua akan terhitung dan ternilai disisiNya, darimana mereka dapat harta itu dan kemana pula mereka belanjakan dan keluarkan harta tadi.

Adapun bentuk dari tidak pelit dan borosnya mereka adalah dengan tidak tabdzir alias mubadzir sehingga melampaui batas dari batasan-batasan yang Allah bolehkan untuk kebutuhan primer dan sekunder mereka. Adapun tindakan pelit yang mereka jauhkan, adalah dengan serius dalam memenuhi hajat mereka untuk kehidupan mereka dan bekal akhirat mereka.

Seperti inilah menjadi muslim yang baik, mengambil tindakan pertengahan dan tidak kurang maupun berlebihan.

Diriwayatkan oleh Imam Atthabary -rahimahullahu ta’ala- dalam tafsirnya, bahwa Mutharrif bin Abdillah –rahimahullah- berkata

خير هذه الأمور أوسطها, و الحسنة بين سيئتين

“Perkara yang paling baik adalah pertengahan, dan kebaikan itu ada diantara dua keburukan”

Apa yang dimaksud dengan “dan kebaikan itu ada diantara dua keburukan” ?

Yaitu adalah firman Allah ﷻ

﴿وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا ٦٧ ﴾

“Dan, orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya.”

Al Furqon 67

SIFAT KELIMA

Jauhnya diri mereka dari melakukan dosa-dosa besar dan berat

﴿وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُوْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَامًا ۙ ٦٨ ﴾

“Dan, orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain, tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Siapa yang melakukan demikian itu niscaya mendapat dosa.”

Al Furqon 68

Diantara sifat yang  dimiliki oleh Hamba-hamba pilihan Arrahman yaitu mereka senantiasa menjauhi perbuatan keji dan dosa-dosa besar. Adapun dosa-dosa besar yang Allah ﷻ sebutkan disini adalah dosa yang paling besar dari jajaran dosa-dosa besar yang ada, yaitu Syirik kepada Allah, Membunuh Jiwa yang tidak bersalah, dan Berzina.

Adapun syirik kepada Allah adalah hal yang berkaitan dengan hak Allah ﷻ atas hambaNya, dosa syirik adalah dosa yang tak akan diampuni oleh Allah jika pelakunya mati dan belum sempat bertaubat darinya, sebagaimana firmanNya

﴿اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِاللّٰهِ فَقَدِ افْتَرٰٓى اِثْمًا عَظِيْمًا ٤٨ ﴾

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar”

QS. An Nisa’ 48

Barangsiapa yang meniatkan suatu ibadah untuk selain Allah atau atas nama selain Allah, seperti shalat, puasa, nadzar, menyembelih untuk selain Allah, maka dia telah berbuat kesyirikan, pelakunya wajib menyadari kesalahannya dan segera bertaubat sebelum Allah ﷻ mengakhiri kehidupannya.

Adapun membunuh seorang yang tidak bersalah baik itu muslim maupun non-muslim, maka haram hukumnya, dan sungguh tercela perbuatannya. Allah ﷻ berfirman

﴿مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَ ۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًاۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا ۗوَلَقَدْ جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ ٣٢ ﴾

“Oleh karena itu, Kami menetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil bahwa siapa yang membunuh seseorang bukan karena (orang yang dibunuh itu) telah membunuh orang lain atau karena telah berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Sebaliknya, siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, dia seakan-akan telah memelihara kehidupan semua manusia. Sungguh, rasul-rasul Kami benar-benar telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Kemudian, sesungguhnya banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.”

Qs. Al Maidah 32

Maka tidak dibenarkan pembunuhan terhadap siapapun tanpa sebab yang jelas dan kesalahan yang diperbuat sehingga dia harus dibunuh. Jika pembunuhan tersebut adalah bentuk qishas atas kematian orang lain atau rajam maka yang berhak melakukannya adalah Ulil Amri, sungguh kita sebagai seorang mukmin harus benar-benar menjaga dan menghormati darah muslim lainnya dan manusia secara umum.

Adapun berzina, maka itu adalah perbuatan yang paling keji yang menjangkiti hati dan merusaknya, serta merusak personal maupun masyarakat secara umum dalam berbagai aspek, mulai dari aspek keimanan, fisik, jiwa dan sosial.

Bahkan rasululullah ﷺ bersabda tentang orang yang berzina

إذا زنى الرجلُ خَرَجَ منه الإيمان ُ، كان عليه كالظُّلَّةِ ، فإذا انقَطَعَ رَجَعَ إليه الإيمانُ.

Jika seorang mukmin berzina maka keluar dari dirinya keimanan, diatasnya bagai naungan, jika sudah selesai berzina maka kembali lagi imannya”

HR. Abu Daud 4690

Tidak dapat dibayangkan jikalau pelakunya mati saat sedang berzina, dan imannya keluar menjauhi dirinya, dia mati dalam keadaan terhina tanpa imannya, wal’iyaadzubillah.

Dikarenakan zina ini adalah penyakit diantara penyakit hati yang berbahaya lagi membinasakan, maka Allah ﷻ telah mewanti-wanti hambaNya agar menjauhi dosa zina dan apapun yang membawa kepadanya, Allah ﷻ berfirman

﴿وَلَا تَقْرَبُوْا مَالَ الْيَتِيْمِ اِلَّا بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ حَتّٰى يَبْلُغَ اَشُدَّهٗۖ وَاَوْفُوْا بِالْعَهْدِۖ اِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْـُٔوْلًا ٣٤ ﴾

“Janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan (cara) yang terbaik (dengan mengembangkannya) sampai dia dewasa dan penuhilah janji (karena) sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.”

Qs. Al Isra’ 34

Allah ﷻ jadikan keharaman atas hamba-hambaNya berkhalwat dengan lawan jenis, menggunakan pakaian yang menampilkan aurat, berlemah gemulai terhadap pria asing dan bukan pasangan, bersolek untuk yang tidak halal baginya dan sebagainnya. Allah ﷻ jadikan wajib bagi pria maupun wanita muslimah untuk menundukan pandangan dan menjaga kemaluan, sungguh itulah yang lebih mulia buat mereka dan lebih terhormat, Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana.

 SIFAT KEENAM

Jauhnya diri mereka dari majelis-majelis bathil dan munkar

﴿وَالَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَۙ وَاِذَا مَرُّوْا بِاللَّغْوِ مَرُّوْا كِرَامًا ٧٢ ﴾

“Dan, orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu serta apabila mereka berpapasan dengan (orang-orang) yang berbuat sia-sia, mereka berlalu dengan menjaga kehormatannya.”

Al Furqon 72

Dan diantara akhlak terpuji hamba-hamba pilihan Arrahmaan dan sifat terbaik mereka adalah, usaha mereka untuk menjauhi majlis-majlis kebathilan, keburukan dan tidak berfaidah. Mereka berusaha menjauhi segala percakapan bohong dan tidak dibenarkan.

Diantara majlis atau perkumpulan-perkumpulan yang mereka jauhi adalah, perkumpulan yang berisi Ghibah, Namimah, Mencaci maki, mengolok-olok, perdustaan, nyanyian, menonton hal-hal munkar, begitupula termasuk perkumpulan yang membahas dan mengajak kepada kesesatan, penyimpangan, dan juga termasuk perayaan-perayaan non-muslim yang kita dilarang untuk mengikutinya.

Sungguh majlis-majlis demikian haruslah kita jauhi, agar diri dan jiwa terselamatkan dari keburukan dan ajakan kebatilan yang membuat kita terjerumus pada dosa dan maksiat kepadaNya.

Sungguh indah perkara orang-orang yang berbuat shalih, indah kebiasaan mereka terpuji perbuatan mereka, maka seyognyanya kita sebagai seorang muslim untuk berhias diri dengan akhlak dan sifat-sifat mereka

In syaa Allah sifat-sifat lainnya akan kami jelaskan dalam artikel berikutnya biidznillah, semoga apa yang kita baca ini menjadi manfaat buat pembaca dan penulis, serta bisa menjadikan kita lebih bersemangat lagi dalam memperbaiki diri dan menghiasinya dengan perangai terpuji hamba-hamba pilihan arrahman, syukran Baarakallahu fiikum


Akhukum Fillah Thariq Aziz al Ahwadzy

Bekasi, 12 Januari 2022 / 08 Jumadats Tsaniyah 1443H

Perumahan Pondok Hijau Permai


Baca Juga :

Shalat Yang Disaksikan Malaikat Keutamaan Shalat Jama’ah Subuh dan Ashar

Hukum Larangan Memotong Kuku dan Rambut Saat Hendak Berkurban

(Fiqh) Macam Bentuk Thaharah / Bersuci

Sahabat Muslim

Thariq Aziz al Ahwadzy, seorang kelahiran kota Bekasi pada 21 Juli 2000, penuntut ilmu dan CEO Menjadi Muslim yaitu Platfrom untuk belajar bersama menjadi seorang muslim seutuhnya. Belajar dan belajar itulah jalan hidupnya

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: