Syarah Hadits Arbain ke (5) Penjelasan Apa Itu Bid’ah


السَّلامُ علَيكُم و رَحمَة اللّٰهِ و بَركَاتُه

Bismillah wasshalaatu wassalaamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa man tabi’ahu bi ihsaan ilaa yaumid diin, amma ba’du,

Hadits Arbain Nawawi ke 5

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.   [رواه البخاري ومسلم وفي رواية لمسلم : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ ]

Dari Ummul Mu’minin; Ummu Abdillah; ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dia berkata: Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda: “Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka dia tertolak.” (Riwayat Bukhari dan Muslim), dalam riwayat Muslim disebutkan: “Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka dia tertolak

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya, kitab Asshulh Bab Idzashthalahu ‘ala shulhin jauwr nomor 2697. Dan diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dalam shahihnya, kitab al Aqdiyah Bab al Ahkam bathilah wa raddun muhdatsatil umur

Derajat hadits ini Shahih

Sekilas profil periwayat

Ummul Mukminin ‘Aisyah binti Abu Bakar adalah salah satu ummul mukminin istri dari Nabi Muhammad ﷺ yang terbaik, istri beliau satu-satunya yang dinikahi saat gadis, dilahirkan 7 tahun sebelum hijrah, di kota makkah. Beliau adalah putri khalifah pertama Rasulullah ﷺ manusia terbaik setelah beliau ﷺ, seorang putri yang jujur dari ayah yang jujur pula

Beliau menjadi rujukan para sahabat saat membutuhkan jawaban tentang sebuah hadits sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu “Tidaklah kami merasa kesulitan dalam memahami satu hadits saja kecuali kita bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha kecuali kami akan dapatkan ilmu yang baru”. Imam al Hakim berkata dalam kitab mustadraknya menunjukan bahwasannya banyak sekali ilmu tentang syariat ini yang dibawa oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang disebabkan karena mulazamah dan kedekatan ‘Aisyah dengan baginda Rasulullah ﷺ

Tidaklah ada orang baik kecuali ada orang buruk yang mendengkinya. Beliau radhiyallahu ‘anha pernah difitnah telah berzina dengan Shafwan bin al Mu’atthal radhiyallahu ‘anhu seorang sahabat nabi yang mulia oleh orang-orang munafik  namun Allah datangkan firmanNya dan selesailah semua perkara

Beliau wafat dirumahnya pada malam selasa 17 ramadhan 57 Hijriah, beliau dishalati oleh para sahabat yang diimami oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

Syarah dan faidah hadits

(مَنْ أَحْدَثَ) “Barang siapa yang melakukakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya” kalimat ini ditunjukan bagi mereka yang melakukan sesuatu yang baru sebuah perbuatan yang dianggap baik dalam beribadah kepada Allah ﷻ sebuah amalan yang belum pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan tidaklah disetujui oleh beliau karena beliau telah wafat meninggalkan agama yang hanif ini secara sempurna, tidak butuh tambahan lagi dari manapun asalnya, itulah hikmah Allah bagi hamba-hambaNya yang berfikir. Hal ini juga berlaku bagi mereka yang melakukan amalan yang hanya mengikuti para guru dan nenek moyang mereka padahal Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkannya, juga termasuk dalam hadits ini, sebagaimana yang disebutkan dari riwayat lain (مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ) “Barangsiapa yang melakukan sebuah perbuatan” melakukan perbuatan, meski bukan mereka yang mengada-ngadakannya. Adapun kisah Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu yang dikatakan sebagian orang bahwa beliau berbuat bid’ah dengan melakukan shalat 2 raka’at setelah wudhu, seperti yang tercantum dalam hadits yang shahih

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Bilal bin Rabah setelah menunaikan shalat Subuh, ‘Wahai Bilal, beritahukanlah kepadaku tentang perbuatan-perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya dalam Islam! Karena sesungguhnya tadi malam aku mendengar suara terompahmu di depanku di surga.’ Bilal radhiyallahu ‘anhu menjawab, ‘Tidak ada satu perbuatan pun yang pernah aku lakukan, yang lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan (harapanku terhadap) perbuatanku yang senantiasa melakukan shalat (sunat) yang mampu aku lakukan setiap selesai bersuci dengan sempurna di waktu siang ataupun malam.’” (HR. Muslim)

Beliau Bilal radhiyallahu ‘anhu sering melakukan shalat sunnah setelah wudhu, dan dikarenakan perbuatan beliau radhiyallahu ‘anhu akhirnya beliau mendapatkan kemuliaan yang teramat diinginkan oleh setiap mukmin, yaitu Rasullah ﷺ mendengar suara derap terompah beliau didepan beliau di surga saat Rasulullah ﷺ melakukan perjalanan isra mi’raj, namun hal ini adalah kesalah pahaman yang sudah terlanjur tersebar luas, padahal Rasulullah ﷺ pernah mengajarkan tentang disunnahkannya shalat setelah berwudhu, sebagaimana dalam hadits berikut

Dari Humran bekas budak ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu minta diambilkan air wudhu lalu berwudhu. Dia basuh kedua telapak tangannya tiga kali. Kemudian berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung lalu mengeluarkannya. Lalu membasuh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh tangan kanannya hingga ke siku tiga kali, begitupula dengan tangan kirinya. Setelah itu, ia usap kepalanya lantas membasuh kaki kanannya hingga ke mata kaki tiga kali, begitupula dengan kaki kirinya. Dia kemudian berkata, ‘Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu sebagaimana wudhuku ini, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian shalat dua raka’at dan tidak berkata-kata dalam hati dalam kedua raka’at tadi, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.’” (HR. Bukhari 164, Muslim 226)

Dan sebagian cerita-cerita yang disalah fahami oleh sebagian orang yang kami akan jelaskan in syaa Allah ditulisan kami yang lain

(فِي أَمْرِنَا) “Dalam perkara (agama) kami” yaitu dalam hal ibadah, perkara yang bersangkutan dengan amalan-amalan agama, bukan perkara baru dalam hal yang bersifat duniawi atau umum, karena Rasulullah ﷺ pernah menegur sahabatnya di kota madinah, saat mereka melakukan penyerbukan terhadap pohon kurma, namun para sahabat itu menjelaskan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya kurma itu cepat berbuah jika dibantu penyerbukannya, maka beliau ﷺ  bersabda

أنتُم أعلَمُ بِأمرِ دُنيَاكُ

“Kalian lebih tahu terkait perkara dunia kalian”

Hadits yang mulia ini shahih diriwayatkan oleh imam muslim dalam shahih beliau kitab al Fadhail bab Wujub imtitsal ma qaalahu syar’an duna maa dzakarahu shallallahu ‘alaihi wasallam min ma’ayisyiddunya ‘ala sabiilir ra’yi

Dalam hal duniawi, Rasulullah ﷺ membebaskan ummatnya untuk berinovasi, bebas dengan batas-batas syariat yang dibenarkan. Inilah islam, yang menjadikan ummatnya bebas berinovasi, bebas berkarya untuk kemajuan kehidupan tanpa batas kecuali batasan halal dan haram semata, yang telah Allah ﷻ dan RasulNya gariskan

(مَا لَيْسَ مِنْهُ) “Apa yang bukan dari perkara syariat” apa yang tidak ada tuntunan, pengajaran dan penetapan oleh rasulullah ﷺ sebelumnya

(فَهُوَ رَدٌّ) “Maka dia tertolak” maka amalan tersebut tertolak, tidaklah sah dan tidak pula mendapatkan pahala, karena syarat diterimanya amalan seseorang ada 3

  1. Islam :

Dia harus seorang muslim sebagaimana firman Allah ﷻ

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ ٨٥

Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.QS. Ali Imran 85

  1. Ikhlas :

Dia harus melakukan amalan tersebut hanya karena mengharap Ridha Allah ﷺ semata, bukan karena mengharap pujian ataupun jabatan duniawi, sebagaimana firman Allah ﷻ

وَمَنْ يَّدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهٗ بِهٖۙ فَاِنَّمَا حِسَابُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖۗ اِنَّهٗ لَا يُفْلِحُ الْكٰفِرُوْنَ  ١١٧

Dan barang siapa menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntungQS. Al Mukminun 117

  1. Mutaba’ah :

Dia haruslah melakukan amalan tersebut sesuai dengan apa yang Rasulullah ﷺ ajarkan atau tetapkan, tidak boleh melakukan amalan ibadah selain apa yang beliau ﷺ tuntunkan, tidak boleh kita mendahului beliau ﷺ dalam perkara agama, sebagaimana Allah ﷻ berfirman

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ  ١

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha MengetahuiQs. Al Hujuraat 1

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam mentafsirkan ayat ini “Janganlah mendahului beliau dalam perkara apapun yakni bertindak sebelum (arahan)nya, dan hal ini menjadi adab yang disyariatkan sebagaimana hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu yang ditanya oleh Rasulullah ﷺ tatkala beliau diutus berdakwah ke negeri yaman, “Dengan apa kamu berhukum?”, beliau menjawab “Aku berhukum dengan apa yang Allah turunkan”, kemudian beliau ditanya lagi “Jika kau tidak mendapatinya?”, “Maka  dengan Sunnah Rasulillah”, kemudian beliau ditanya lagi “Jika kau tidak mendapatinya?”, beliau menjawab “(barulah) aku berijtihad dengan pendapatku”, kemudian Rasulullah ﷺ bersabda “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufiq kepada utusan rasulNya, dengan apa yang RasulNya ridhai” (Kitab Tafsir Al Qur’an al Adzhim 7/364)

Dan dalil lain dari sabda Rasulullah ﷺ yang sedang kita bahas saat ini, sebagai bukti kuat bahwasanya setiap amalan ibadah haruslah dilandasi dengan apa yang Rasulullah ﷺ ajarkan

Faidah-faidah Hadits

  1. Beriman kepada Rasulullah ﷺ adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim, maka hendaknya muslim yang beriman dengan sebenar-benarnya iman, mentaati setiap perintah RasulNya dan menjauhi segala larangannya tanpa ditawar maupun diubah sedikitpun
  2. Islam itu telah sempurna, dengan diutusnya Baginda Nabi Muhammad ﷺ ke tengah-tengah manusia, sebagai penutup para nabi dan rasul membawa risalah tauhid yang maha suci yang turun temurun diwariskan pula oleh para nabi, serta dengan syariatnya yang telah sempurna tanpa kurang maupun cela,

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamuQs. Al Maidah 3

  1. Amatlah penting bagi ummat ini untuk mengikuti dan patuh akan segala perintah dan menjauhi segala larangan yang telah ditetapkan oleh Allah ﷻ serta disampaikan melalui lisan rasulNya

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗوَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًاۗ – ٣٦

Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyataQs. Al Ahzab 36

لَا تَجْعَلُوْا دُعَاۤءَ الرَّسُوْلِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاۤءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًاۗ قَدْ يَعْلَمُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ يَتَسَلَّلُوْنَ مِنْكُمْ لِوَاذًاۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ اَمْرِهٖٓ اَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ اَوْ يُصِيْبَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ – ٦٣

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul (Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang keluar (secara) sembunyi-sembunyi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih” Qs. An Nur 63

  1. Sungguh kesempurnaan agama ini telah mencapai derajat tertingginya, maka tidaklah perlu adanya penambahan dalam syariat ini dan tidak pula diperbolehkan pengurangan sedikitpun dalam perkara ini

Wasshallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin

Thariq Aziz Alahwadzy

12 April 2020 M/ 18 Sya’ban 1441 H

Pondok Hijau Permai

Daftar Pustaka

  1. Al Qur’an al Karim
  2. Kitab Syarah Arba’in an-Nawawi karangan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah cetakan daar tsaarayaa 2004
  3. Kitab Syarah al-Arba’in hadiitsan an-Nawawiyah karangan Ibnu Daqiq al-I’ed rahimahullah cetakan Maktabah fayshaliyah
  4. Kutub Hadits al Aaly
  5. Kitab Jami’il Ulum wal Hikam karangan Imam Abul Faraj Abdurrahman bin Syihabuddin Imam Ibnu Rajab rahimahullah cetakan Daar ibnu Katsir Beirut
  6. Kitab Tafsir al Qur’an al ‘Adzhim karangan Imam Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir al Qurasyi ad Dimasyqi
  7. Web 1
  8. Web 2
  9. Web 3

Thariq Aziz al Ahwadzy

Thariq Aziz al Ahwadzy, seorang kelahiran kota Bekasi pada 21 Juli 2000, penuntut ilmu dan CEO Menjadi Muslim yaitu Platfrom untuk belajar bersama menjadi seorang muslim seutuhnya. Belajar dan belajar itulah jalan hidupnya

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. September 22, 2020

    […] HR. Bukhari dan Muslim […]

  2. September 26, 2020

    […] Syarah Hadits Arbain ke (5) Penjelasan Apa Itu Bid’ah […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: