Syarah Hadits Arba’in (4) Memahami TakdirNya

السَّلامُ علَيكُم و رَحمَة اللّٰهِ و بَركَاتُه

Bismillah wasshalaatu wassalaamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa man tabi’ahu bi ihsaan ilaa yaumid diin, amma ba’du,

Semua hal telah digariskan, dari awal manusia diciptakan, semua rizki, ajalnya, amalannya dan takdir baik dan buruknya telah dituliskan, namun kita tak ada yang tahu bagaimana hal tersebut terjadi serta bagaimana akhir dari kehidupan kita kelak, semua dirahasiakan disisiNya

اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ – ٣٤

“Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal” Qs. Luqman 34

Rasulullah bersabda

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata : Telah bersabda kepada kami Rasulullah ﷺ dialah seorang yang benar (dalam mengabarkan) dan dibenarkan (apa yang dikabarkannya) “Sesungguhnya kalian dijadikan penciptaannya didalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk setetes mani (Nuthfah), kemudian menjadi segumpal darah (‘Alaqah) dalam waktu yang sama (empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging (Mudghah) dalam waktu yang sama  (empat puluh hari), kemudian diutus kepadanya malaikat, kemudian ditiupkan padanya Ruh, lalu ditetapkan empat perkara, Rizkinya, ajalnya, amalnya, kesulitannya atau kesenangannya. Demi Allah yang tiada Ilah selainNya, sesungguhnya diantara kalian akan melakukan amalan-amalan penghuni surga, sampai jarak diantara dirinya dengan surga semakin dekat, namun ketetapan mendahuluinya, kemudian dia melakukan amalan-amalan penghuni neraka lalu dia memasukinya, dan juga ada diantara kalian yang melakukan amalan-amalan penghuni neraka, sampai jarak diantara dirinya dengan neraka semakin dekat, namun ketetapan mendahuluinya, maka dia melakukan amalan-amalan penghuni surga lalu dia memasukinya”  HR. Bukhari 3208 dan Muslim 2643


Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardizbah al Bukhari rahimahullah (194-256H) dalam shahihnya Kitab Bad’u al Khalq Bab Dzikrul Malaaikat  nomor hadits 3208

dan diriwayatkan pula oleh Imam Muslim bin Hajjaj bin Muslim al Qusyairi an Naisaburi dalam shahihnya Kitab al Qadar Bab Kayfiyatul Khalqil Adami fi Bathni Ummihi nomor hadits 2643


Sekilas Profil Periwayat

Profil tentang Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu sudah pernah dibahas sebelumnya di dalam syarah hadits ke empat belas


Syarah dan Faidah Hadits

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan hadits ini dengan menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ adalah الصادق  dan المصدوق  yang mana menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin dalam kitab syarah arba’innya yaitu “Yang benar dan jujur penyampaiannya dan juga benar apa yang disampaikannya” (hal. 99) yaitu Rasulullah yang benar ucapannya karena bukan berasal dari mulutnya semata, namun dari Wahyu Allah jalla wa ‘ala sebagaimana firmanNya

مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)

“Tidaklah teman kalian (Muhammad) itu tersesat (2) dan tidaklah dia berbicara dengan hawa nafsunya (3) melainkan itu adalah Wahyu yang di sampaikan” QS. An-Najm 2-4

Diantara faidah dari perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ini adalah, karena apa yang akan disampaikan dalam hadits ini adalah hal-hal ghaib yang manusia biasa tidak menjangkaunya, dan pada saat itu pula belum ada ilmu kedokteran yang bisa menjabarkan perihal perkembangan janin di dalam rahim ibunya, namun Allah ﷻ mewahyukannya kepada nabiNya secara langsung, kemudian beliau sampaikan melalui sabdanya


Kita sebagai manusia terlahir dari rahim yang mulia, ibu kita yang semoga Allah rahmati dan lindungi beliau, dan Allah balas jasa-jasanya dengan sebaik-baik balasan dari Nya. Dari mulai belum ada wujud kita hingga menjadi manusia yang berdiri sempurna, semua tak lepas dari kuasa dan takdir Nya, sebagaimana firmanNya

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا (1) إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعًا بَصِيرًا (2)

“Apakah telah datang kepada manusia kabar bahwa dulu waktu dia belum menjadi sesuatu yang dapat disebutkan? (1) Sesungguhnya Kami lah yang menciptakan manusia dari setetes air mani yang bercampur yang hendak kami mengujinya maka kami jadikan dia bisa mendengar dan melihat” Qs. Al-Insan 1-2

Manusia Allah ﷺ didalam rahim ibunya selama kurang lebih 9 bulan 10 hari, dan disapih oleh ibunya selama kurang lebih 21-24 bulan, maka Allah ﷺ berfirman

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا

“Dan telah kami wasiatkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, lama mengandung dan menyapihnya tiga puluh bulan lamanya…” Qs. Al-Ahqof 15

Proses penciptaan manusia dari mulai setetes mani hingga diberikan nyawa disebutkan dalam hadits ini, berikut fase-fase yang dijelaskan dalam sabda beliau ﷺ

  1. Nuthfah Setetes mani, manusia masih dalam bentuk mani yang bercampur selama kurang lebih 40 hari didalam rahim ibunya hingga kemudian membentuk ‘Alaqah segumpal darah
  2. ‘Alaqah segumpal darah atau yang dalam ilmu kedokteran disebut dengan Blatokista selama kurang lebih empat puluh hari hingga menjadi Mudghah segumpal daging
  3. Mudghah segumpal darah atau yang disebut juga embrio dan terus berkembang hingga menjadi janin utuh selama kurang lebih empat puluh hari hingga diutus malaikat padanya dan ditiupkan Ruh kedalamnya

Proses ini juga Allah ﷻ jelaskan dalam kitabNya secara urut

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوا أَشُدَّكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُتَوَفَّى وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْئًا وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ (5)

“Wahai manusia, jika kalian ragu akan dibangkitkan, maka (ketahuilah) kami lah yang menciptakan kalian dari (saripati) tanah kemudian menjadi setetes mani (sperma) kemudian menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging yang sempurna maupun tidak sempurna bentuknya untuk kami jelaskan kepada kalian, dan kami tetapkan sesuai kehendak kami di dalam rahim-rahim (itu) hingga waktu yang telah ditentukan, kemudian kami keluarkan kalian dalam bentuk anak kecil hingga kalian mencapai usia dewasa, dan diantara kalian ada yang diwafatkan dan ada pula yang di kembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya. Dan engkau akan melihat bumi ini kering kemudian apabila telah kami turunkan air hujan diatasnya hiduplah bumi itu dan menjadi subur menumbuhkan pasangan tumbuhan yang indah” Qs. Al-Hajj 5

Kemudian Allah utus malaikat kepada manusia, malaikat disini adalah malaikat secara mutlak, karena tidak disebutkan malaikat siapa yang diutus secara ta’yin (spesifik).

Kemudian ditiupkan kepada embrio tadi ruh, dan ruh itu berwujud, namun hanya Allah lah yang mengetahuinya, tiada manusia yang dijelaskan tentangnya kecuali sedikit saja

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا (85)

“Dan mereka bertanya kepadamu (muhammad) tentang ruh, maka katakanlah ‘Perkara ruh adalah disisi Tuhanku, dan pengetahuan apa yang diberikan kepada kalian hanyalah sedikit saja” Qs. Al-Israa’ 85


Kemudian dituliskan takdir setiap manusia, tidak diketahui secara pasti dengan bahasa apa tulisan tersebut dan dimana tulisan itu diletakan, namun menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin dalam kitab syarahnya, “Banyak Atsar bahwasanya tulisan itu di kening bayi, namun tulisan itu bisa jadi berada di atas kening bayi atau diatas kertas sesuai kehendak Allah” (hal. 199)

Hal yang ditetapkan saat itu adalah,

  1. Rizkinya

Allah ﷺ telah tetapkan rizki setiap makhlukNya, sebelum semuanya terlahir di muka bumi ini, Allah telah atur dan takar dengan hikmahNya sebelum manusia menghirup oksigen di alam ini

Maka tidak akan ada istilah Rizki yang tertukar, karena semua sudah ditetapkan

Namun kita sebagai manusia yang sehat dan memiliki akal yang baik, kita harus berusaha mengambil bagian dari rizki kita tersebut, semua sudah ditetapkan, namun di dunia ini harus kita usahakan, bukan tunggu dan percaya bahwa rezki itu akan datang sendiri

Ada sebab ada pula akibat, begitupula rizki, ada usaha maka akan ada hasil yang kita peroleh, itulah tawakkal namanya

Rasulullah ﷺ bersabda

لَو أنَّكُم تَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقتُم كَما يُرزَقُ الطَّيرُ تَغدُو خِمَاصًا وَ تَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberikan rezeki sebagaimana burung diberikan rezeki, dia (burung itu) pergi dipagi hari dalam perut kosong, dan kembali dalam keadaan perut yang kenyang” HR. At Tirmidzi 2344

Begitulah tawakkal kita yang benar, kita harus mengambil langkah untuk mendapatkan rezeki yang telah ditetapkan olehNya, bukan menunggu dan mengandalkan ketiadaan untuk mendapatkan sesuatu yang ada

Rizki yang dimaksud disini adalah setiap hal yang kita dapatkan di kehidupan ini, dari keperluan primer utama hingga keperluan tersier, semua Allah tetapkan, dan manusia tidak akan mati kecuali telah habis semua rizkinya

Dikisahkan ada seorang yang tercebur kedalam sumur yang cukup dalam, namun Allah ﷻ masih memanjangkan umurnya, dia masih dapat diangkat keatas dan dapat menghirup udara segar diatas sumur, setelah dia ditolong, dia diberikan segelas susu segar agar tenaganya pulih, namun ternyata setelah beberapa saat menghabiskan susu tersebut, dia tergeletak tak bernyawa, bukan karena susu itu beracun, namun karena susu itu adalah rizki terakhirnya di muka bumi ini

Rasulullah ﷺ bersabda

أَيُّهَا النَّاسُ فَاتَّقُوا اللهَ وَ أَجمِلُوا فِي الطَّلبِ فَإِنَّ نَفساً لَن تَمُوتَ حَتَّى تَستَوفِيَ رِزقهَا وَ إِن أَبطَأَ عَنهَا فَاتَّقُوا اللهَ وَ أَجمِلُوا فِي الطَّلَب خُذُوا مَا حَلَّ وَ دَعُوا مَا حرُمَ

“Wahai manusia bertakwalah kepada Allah dan baguskanlah perbuatan dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya jiwa tidak akan mati hingga ia telah benar-benar menghabiskan rezekinya walaupun diperlambat kepadanya, maka bertakwalah kepada Allah dan baguskanlah perbuatan dalam mencari rezeki, ambillah yang halal dan tinggalkanlah yang haram” HR. Ibnu Majah 2344 dishahihkan oleh Syaikh al Albani rahimahullahu ta’ala

Maka carilah rezeki itu dengan cara yang baik, niscaya Allah mudahkan untuk kita semua

Ada pertanyaan

“Bagaimana mungkin rezki kita sudah ditetapkan, tapi kita harus mencarinya? Berarti itu belum ada dan belum ditetapkan, karena kalau sudah ditetapkan maka kita tidur pun rezeki itu akan datang dengan sendirinya”

Saat dalil ditabrakan dengan logika manusia yang terbatas, maka kami akan membalasnya dengan logika yang kuat in syaa Allah

Bukankah kita mengerti dan pernah melihat burung didalam sangkarnya? Jika pernah maka permisalan ini dapat dengan mudah difahami

Burung didalam sangkar, tidaklah bisa keluar menuju ke sumber air di sungai, walaupun dia telah berusaha semaksimal mungkin, akan tetapi, si pemilik burung akan memberikan burung itu air di dalam wadah khusus, yang mana isi dari wadah tersebut tak akan sebanding dengan air di sungai, akan tetapi itu lah rezeki yang telah ditakar untuk si burung. Saat siburung kehausan akankah dia berdiam di satu sisi tak bergerak hanya menunggu agar wadah air tadi datang kepadanya, sedang wadah air itu terpasang di sisi lainnya?

Jawaban sehatnya TIDAK AKAN burung itu berdiam ditempatnya, meski dia tahu bahwa air di dalam wadah itu miliknya, namun dia tidak akan bisa lepas dari rasa hausnya jika tidak berjalan menuju wadah itu dan meminumnya hingga hilang dahaganya

Begitupula kita dan kehidupan ini yang jauh lebih kompleks dari permasalah yang si burung hadapi

Kita harus berusaha walaupun kita yakin bahwa rezki itu sudah ada yang menakar dan mengaturnya


  1. Ajalnya

Ajal adalah perkara yang pasti namun hanya Allah ﷻ sajalah yang mengetahuinya secara pasti akan waktu terjadinya

اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ – ٣٤

Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha MengenalQs. Luqman 34

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ – ١٨٥

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayaQs. Ali ‘Imran 185

Karena setiap yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya, dan segala sesuatu selainNya akan hancur pada saatnya

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۖ – ٢٦ وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ – ٢٧

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa (26) tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal” Qs. Ar-rahmaan 26-27

Dan seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa manusia tak akan mati sampai habis semua rezkinya di dunia ini sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ

إِنَّهُ لَن تَمُوتَ نَفسٌ حَتَّى تَستَكمِلَ رِزقَهَا

“Sesungguhnya jiwa tak akan mati sampai dia sempurnakan jatah rezekinya” HR. Abu Daud 2144

Datangnya ajal secara tiba-tiba maka kita sebagai muslim yang baik harus mempersiapkan segalanya, karena kita tidak tahu dimana, saat apa, dan kapan kita akan mati, mari persiapkan amalan terbaik kita untuk menemuiNya

Rasulullah ﷺ bersabda

مَن أَحَبَّ لِقَاءَ اللهِ أَحَبَّ اللهُ لِقَاءَهُ وَ مَن كرِهَ لِقَاءَ الله كرِهَ اللهُ لِقَاءَه

“Barangsiapa yang senang jika bertemu Allah, niscaya Allah akan senang menemuinya, dan barangsiapa yang tidak suka bertemu dengan Allah, niscaya Allah tidak senang menemuinya” HR. Ahmad 12047

Setiap kita memang khawatir akan kematian, namun maksud sabda Rasulullah ﷺ tersebut sebagaimana yang dijelaskan di hadits yang sama, yaitu seorang Mukmin jika didatangi oleh malaikat pencabut nyawa maka akan diperlihatkan amalan-amalan baiknya dan akhir baik untuknya, maka dia akan berbahagia dan amat menunggu pertemuan dengan Allah dengan penuh syukur dan rasa bahagia

Adapun jika seorang fajir pendosa atau seorang kafir, jika dia didatangi oleh malaikat maut, akan ditampakkan padanya amalan-amalan buruknya dan akan diperlihatkan tempat kembalinya yang buruk, maka dia tidak akan senang menerimanya dan berharap tidak pernah bertemu dengan Allah karena takut akan adzabNya

Maka dari itu kita selalu dianjurkan untuk meminta keistiqomahan di jalan kebaikkan agar kelak kita menemuiNya dalam keadaan baik lagi bersyukur


  1. Amalnya

Amalan manusia telah Allah ﷻ tetapkan, namun semua itu harus kita jalani dan lakukan, kita harus memulainya, karena apa yang kita usahakan akan Allah takdirkan sesuai ketetapannya

اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ – ٤٩

Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuranQs. Al-qomar 49

Hal ini tidak berarti kita hanya cukup diam tak melakukan apa-apa karena kalau Allah sudah takdirkan pasti terlaksana, atau kita berbuat apa saja bahkan perbuatan dosa dan keji sekalipun dengan dalih ‘kalau sudah Allah takdirkan mau bagaimana lagi ?’ atau kita melakukan perbuatan bodoh dan semua itu kita salahkan bahwa Allah ﷻ sudah takdirkan

Sekali kali tidak!, karena Allah takdirkan apa yang telah kita usahakan, kita harus mengambil sebuah tindakan, dan setelah itu kita serahkan kepada Allah ﷻ hasilnya, Allah akan berikan yang terbaik untuk hambaNya, dan hasil tak akan pernah khianati usaha karena hikmahNya

Itulah konsep takdir yang benar, itulah tawakkal sesungguhnya, rasulullah ﷺ menerangkan akan hal itu

عَن أَنَس بن مَالكٍ قَالَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ للِنَّبيِّ ﷺ : يَا رَسُولَ اللهِ أَعٌقِلُهَا وَ أَتَوَكَّل أَو أُطلِقُهَا وَ أَتَوكَّل ؟

فَقَالَ ﷺ : “اعقِلهَا وَ تَوَكَّل”

Dari Anas bin Malik beliau berkata bahwasannya ada seseorang yang bertanya kepada Nabi : Wahai Rasulullah apakah aku ikat dulu unta ini lalu aku bertawakkal ataukah aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal?, beliau ﷺ menjawab “Engkau ikat lalu kau bertawakkal” HR. At Tirmidzi hadits hasan nomor 2517

Dan Allah ﷻ berfirman

اِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتّٰىۗ – ٤ فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ – ٥ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰىۙ – ٦ فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰىۗ – ٧ وَاَمَّا مَنْۢ بَخِلَ وَاسْتَغْنٰىۙ – ٨ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنٰىۙ – ٩ فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْعُسْرٰىۗ – ١٠

“Sungguh, usahamu memang beraneka macam (4) Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa (5) dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga) (6) maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan) (7) dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah) (8) serta mendustakan (pahala) yang terbaik (9) maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan)” Qs. Al-Lail 4-10


  1. Senang dan Sedihnya

Senang dan sedihnya seseorang yaitu pada akhir hayatnya, apakah dia termasuk dari orang-orang yang berbahagia dengan surgaNya ataukah dia termasuk dari orang-orang yang bersedih dan sengsara dengan nerakaNya

Hal itu sudah Allah takdirkan, namun bukan berarti kita pasrah begitu saja, kita pasrah kalau memang kita menjadi penghuni surganya maka bagaimanapun juga akan menjadi penghuninya begitupula sebaliknya

Namun semua itu harus kita usahakan, setiap amalan shaleh harus kita kejar, dan setiap amalan buruk harus kita tinggalkan, berat memang, namun itulah tantangan kita untuk mencapai surganya

Karena Rasulullah ﷺ bersabda

حُفَّتِ الجَنَّةُ بِالمَكَارِه وَ حُفَّت النَّارُ بِالشَّهوَةِ

“Surga dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai (jiwa) dan neraka dikelilingi dengan hal-hal yang menyenangkan (jiwa)” HR. Muslim 2823

Setiap kita harus berusaha agar Allah jadikan mudah bagi kita jalan menuju surgaNya

Meski takdir telah tertulis, namun tiada satupun dari kita yang mengetahui akhirnya, dan tidaklah boleh bagi kita untuk menyerah dan berkata “Kalau memang aku penghuni surga, tanpa beramal pun aku akan masuk kedalamnya, namun jika takdirku menjadi penghuni neraka, maka buat apa aku beramal baik, karena aku akan masuk kedalamnya”

Kalimat ini adalah kalimat yang keliru, kalimat syubhat yang dihembuskan dari was-was syaithan la’natullah ‘alaihi.

Rasulullah ﷺ bersabda

“مَا مِنكُم مِن أَحَدٍ إِلَّا قَد كُتِبَ لهُ مَقعَدُهُ مِن الجَنَّةِ وَ مَقعَدُهُ مِنَ النَّارِ” فَقَالوا ’يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلَا نَّتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَ نَدَعُ العَمَل’ فقَالَ ﷺ “اعمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ, أَمَّا أَهلُ السَّعادَة فَيُيَسَّرُونَ لِعمَلِ أَهلِ السَّعادَة وَ أَمَّا أَهلُ الشَّقَاوَة فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهلِ الشَّقَاوَة” ثُمَّ تلَا قَولَه سبحَانه (فَاَمَّا مَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰىۙ – ٥ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰىۙ – ٦ فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰىۗ – ٧ وَاَمَّا مَنْۢ بَخِلَ وَاسْتَغْنٰىۙ – ٨ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنٰىۙ – ٩ فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْعُسْرٰىۗ – ١٠)

“Tiada diantara kalian kecuali sudah ditetapkan tempat duduknya (tempat kembalinya) kesurga maupun keneraka” Para sahabat bertanya ‘Wahai Rasulullah kalau begitu kita bergantung saja pada takdir kita, dan kita tak perlu beramal’ beliau ﷺ menjawab “Tetaplah beramal karena semuanya dimudahkan atas apa yang ditakdirkan untuknya, orang-orang yang mendapat akhir yang baik maka akan dimudahkan untuk beramal amalan yang baik, begitupula seorang yang ditakdirkan mendapat akhir yang buruk maka akan dimudahkan untuknya beramal amalan yang buruk pula” kemudian beliau ﷺ membaca firman ﷻ “Maka barangsiapa memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa (5) dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (surga) (6) maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan) (7) dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup (tidak perlu pertolongan Allah) (8) serta mendustakan (pahala) yang terbaik (9) maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kesukaran (kesengsaraan)” Qs. Al-Lail 4-10 HR. Muslim 2647

Bahkan dalam sebuah riwayat disampaikan

فَسَأَلَهُ عُمَر ’هَل نَعمَلُ فِي شَيءٍ نَستَأنِفُهُ أَم فِي شَيءٍ قَد فَرغَ مِنهُ’ فقَال ﷺ “بَل فِي شَيءٍ قَد فرغ مِنهُ” قَالَ ’فَفيمَ العمَل؟’ قَال ﷺ “يَاعُمَر لَا يُدريكَ ذَالِكَ إلَّا بَعدَ العَمَل” قَال ’إِذاً نَجتَهِدُ يَا رَسُلَ اللهِ’

“Maka umar bertanya kepada beliau ‘apakah kita beramal dengan sebuah amalan yang kita adakan atas kehendak kita, ataukah amalan yang sudah ditakdirkan sebelumnya? Beliau ﷺ menjawab Dengan amalan yang telah ditakdirkan sebelumnya’ beliau radhiyallahu ‘anhu bertanya ‘Lalu buat apa kita (berusaha) beramal?’ beliau ﷺ menjawab ‘Wahai umar, kamu tidak akan tahu hal itu sampai kamu beramal’ beliau menjawab ‘kalau begitu kita harus bersungguh-sungguh wahai rasulullah’” HR. Al Bazzar 168

Kita tidak mengetahui apa yang telah tertulis untuk kita, maka dari itu kita harus berusaha mencapai surgaNya dengan penuh usaha dan pengorbanan

Jika diri ini terasa malas beribadah dan beramal, maka paksa lah jiwa ini dan mohon ampun serta kemudahan dari Allah agar kita bisa beramal amalan yang baik dan mendapat akhir yang baik pula, karena kita seharusnya khawatir jika kita ditakdirkan untuk dimudahkan beramal amalan buruk dan menjadi penghuni nerakaNya

Namun jika jiwa ini mudah untuk beramal kebaikan, maka bersyukurlah, jagalah niat kita agar selalu ikhlas dan istiqomah, jangan pernah merasa kita adalah yang terbaik, namun posisikan jiwa kita sebagai jiwa yang faqir akan rahmat Allah, jiwa yang kotor dihadapanNya agar kita terus meminta ampun kepadaNya dan menujuNya

 وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ-54

Dan kembalilah kepada Rabbmu dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang kepada kalian adzab sedangkan kalian tak akan ditolong” Qs. Az-zumar 54

Disinilah diantara hikmah kita selalu meminta keistiqomahan dalam beragama, yang setidaknya kita minta tujuh belas kali dalam sehari, dalam surat al Fatihah yang kita baca di setiap raka’at shalat kita, dan Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kita agar senantiasa berdoa meminta istiqomah

يَا مُقَلِّبَ القُلُوب ثَبِّت قَلبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat pembolak balik hati, tetapkanlah hatiku ini diatas agamaMu” HR. Attirmidzi 2140

Pembahasan ini juga tidak terpisahkan dengan lanjutan dari hadits ini, yaitu

فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى hingga akhir hadits

Dalam beberapa kitab, disebutkan bahwa ini adalah tambahan (Mudraj) kalimat dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan bukan termasuk sabda nabi ﷺ dan ada yang mengatakan ini adalah sabda nabi ﷺ yang diriwayatkan secara maknawi (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal. 148)

Diriwayatkan dalam hadits ini, bahwasannya akan ada seseorang yang melakukan amal kebajikan, amalannya penghuni surga, namun diakhir dia menjadi penghuni neraka akibat dosa-dosa yang dia perbuat diakhir hidupnya

Hal itu terjadi karena adanya masalah dalam batinnya, dosa dalam hatinya berupa ‘ujub (Merasa lebih hebat), riya’ (ingin disanjung) atau kemunafikan padanya

Dalam riwayat lain beliau ﷺ bersabda

إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِن أَهلِ النَّار

“Sesungguhnya diantara kalian ada yang beramal dengan amalan penghuni surga yang nampak dihadapan manusia, padahal dia adalah penghuni neraka” HR. Bukhari 4207

Mengapa hal itu bisa terjadi? Diantara sebab terbesar ketergelinciran seseorang dari jalan kebaikan adalah

  1. ujub merasa dirinya jauh lebih baik dari saudaranya ini adalah hal yang amat dibenci olehNya dan dilarang oleh RasulNya karena penyakit ini bisa menjangkiti siapa saja, dimana saja, ini adalah penyakit yang berbahaya, dan harus dijauhi, karena ketahuilah, saat kita merasa diri ini lebih baik daripada yang lain dalam keta’atan, maka sesungguhnya kita disisi Allah menjadi paling hina karena perasaan itu. Kita harus membiasakan diri kita untuk tawadhu’ rendah hati, kita tidak merasa kecuali diri kita lebih buruk dari yang lain dan kita selalu mendekatkan diri kepadaNya

Diantara tabi’in berkata “Jika engkau melihat seorang anak kecil, maka pikirkanlah bahwa anak itu jauh lebih sedikit dosanya dari pada diri ini karena dia tidak setua aku dan sebanyak aku dalam berbuat dosa, dan jika engkau melihat seorang yang lebih tua dari dirimu, maka pikirkanlah bahwa orang itu jauh lebih banyak beramal dari dirimu, karena dia telah mendahuluimu menginjakan kaki dimuka bumi ini, itulah tawadhu’”

  1. riya’ rasa ingin dipuji dan disanjung adalah penyakit yang amat mudah menjangkiti kita, padahal Rasulullah ﷺ bersabda

إن أخوف ما أخاف عليكم الشرك الأصغر الرياء

“Sesungguhnya hal yang paling aku takuti terhadap kalian adalah syirik kecil (yaitu) riya’” HR. Ahmad 23636 dan Abu Daud 315

  1. Kemunafikan ini adalah penyakit yang berbahaya, amat sangat transparan, ada dua jenis kemunafikan,
  • Nifaq I’tiqodi kemunafikan jenis ini adalah kemunafikan yang besar, yang mengeluarkan pelakunya dari agama islam, sesungguhnya dia membenci islam namun di hadapan kaum muslimin dia tampak baik dan mendukung

Diantara contoh Nifaq I’tiqodi adalah

  1. Membenci Rasulullah ﷺ
  2. Membenci agama Rasulullah ﷺ
  3. Tidak suka dengan apa yang Rasulullah ﷺ ajarkan
  4. Senang melihat agama Rasulullah ﷺ direndahkan
  5. Tidak suka melihat agama Rasulullah ﷺ mendapat kemenangan

Kemunafikan ini adalah kemunafikan dari musuh-musuh islam, hatinya rusak dan kotor karena dosa-dosa yang mereka perbuat, mereka keluar dari islam karena permusuhan itu, meski terlihat dihadapan manusia dia beramal baik, namun Allah jauh lebih mengetahui apa yang ada didalam hatinya

  • Nifaq Amali kemunafikan jenis ini adalah kemunafikan ringan (tidak sampai mengeluarkan pelakunya dari agama) namun kemunafikan ini besar dosanya, dan sangatlah disayangkan banyak dari kaum muslimin yang terjatuh didalamnya, diantara bentuk kemunafikan ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ bersabda

أَربَعٌ مَن كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقاً خَالصاً وَ مَن كَانَت فِيهِ خَصلَةٌ مِنهُنَّ كَانَت خَصلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤتُمِنَ خَان وَ إِذَا حَدّثَ كَذَبَ وَ إِذَا عَاهَدَ غدَرَ وَ إِذَا خَاصمَ فجَرَ

“Ada empat tanda kemunafikan, jika keempatnya terdapat dalam diri seseorang maka dia adalah munafik tulen, jika salah satunya berada dalam dirinya berarti dia memiliki sifat kemunafikan sampai dia meninggalkannya (yaitu) jika diberi amanah dia khianat dan jika berbicara dia berdusta dan jika berjanji dia menyelisihinya dan jika berselisih dia berbuat zalimHR. Muslim 58

Empat hal ini sering kita jumpai disekitar kita, semoga Allah lindungi kita dan keluarga kita dari sifat-sifat kemunafikan itu

Dan diantara penyebab kita tidak istiqomah dijalanNya adalah kita mengampangkan dosa, padahal Rasulullah ﷺ memperingatkan kita untuk menjauhi dosa-dosa yang besar maupun yang dibawah itu

Terkadang kita merasa sebuah dosa yang remeh maka tidak mengapa sesekali dilakukan, padahal kita tidak tahu kapan kita akan menghadapNya, dimana dan dalam keadaan apa wallahu waliyyuttaufiq

Rasululullah ﷺ bersabda

إِيَّاكُم وَمُحَقِّرَاتِ الذنُوبِ فَإِنَّمَا مَثَلُ مُحقِّرَاتِ الذّنُوبِ كَمَثَلِ قَومٍ نَزَلُوا فِي بَطنِ وَادٍ فَجَاءَ ذَا بِعَودٍ وَ ذَا بِعَودٍ حَتَّى جَمَعُوا مَا أَنضَجُوا بِهِ خُبزَهُم, فَإِنَّ مُحقِّرَاتِ الذُّنُوب مَتَى يُؤخَذ بِهَا صَاحِبُهَا تُهلِكُهُ

“Berhati-hatilah kalian dari dosa-dosa yang diremehkan (dosa kecil) karena sesungguhnya permisalan dosa-dosa yang diremehkan itu seperti suatu kaum yang singgah di sebuah lembah, kemudian satu persatu dari mereka datang membawa dahan-dahan pohon sampai mereka kumpulkan itu semua untuk membakar roti mereka, karena sesungguhnya dosa-dosa yang diremehkan itu tatkala pelakunya diadzab maka akan membinasakannya (karena banyaknya dosa yang sudah terkumpul)” HR. Ahmad 22808

Dalam riwayat lain

إِيَّاكُم وَمُحَقِّرَاتِ الذنُوبِ فَإنَّهُنَّ يَجتَمِعنَ عَلى الرجُلِ حَتَّى يُهلِكنَهُ

“Berhati-hatilah kalian dari dosa-dosa yang diremehkan (dosa kecil) karena sesungguhnya dosa-dosa itu akan berkumpul atas seseorang (karena dianggap remeh) sampai dosa-dosa itu membinasakannya” HR. 3818

Mengapa hal itu bisa terjadi? Mengapa orang yang diawal sudah melakukan ketaatan namun diakhirnya berbuat keburukan lalu menjadi penghuni neraka?

Jawabannya, kita sebagai seorang muslim harus senantiasa berusaha istiqomah hingga akhir menutup mata, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ

إِنَّمَا الأَعمَالُ بِخَوَاتِمِهَا كَالوِعَاءِ إِذَا طَابَ أَعلَاهُ طَابَ أَسفَلُهُ وَ إِذَا خَبُثَ أَعلَاهُ خَبُثَ أَسفَلُهُ

“Sesungguhnya amalan itu sesuai dengan akhirnya, seperti bejana jika bagian atasnya bagus maka bagian bawahnya pun akan bagus namun jika bagian atasnya rusak maka bagian bawahnya pun akan rusak” HR. Ibnu Hibban 339

Nas’alullahat taufiq wal istiqomah semoga kelak akhir hayat kita menjadi seorang muslim dan mukmin yang baik lagi istiqomah

Wasshallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin

Thariq Aziz Alahwadzy

24 Desember 2019 M/ 27 Rabi’u Tsani 1441 H

Pondok Hijau Permai Bekasi

Daftar Pustaka

  1. Al Qur’an al Karim
  2. Kitab Syarah Arba’in an-Nawawi karangan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah cetakan daar tsaarayaa 2004
  3. Kitab Syarah al-Arba’in hadiitsan an-Nawawiyah karangan Ibnu Daqiq al-I’ed rahimahullah cetakan Maktabah fayshaliyah
  4. Kutub Hadits al Aaly
  5. Kitab Jami’il Ulum wal Hikam karangan Imam Abul Faraj Abdurrahman bin Syihabuddin Imam Ibnu Rajab rahimahullah cetakan Daar ibnu Katsir Beirut
  6. Web 1
  7. Web 2
  8. Web 3
  9. Web 4
  10. Web 5
  11. Web 6
  12. Web 7
  13. Web 8
  14. Web 9

Thariq Aziz al Ahwadzy

Thariq Aziz al Ahwadzy, seorang kelahiran kota Bekasi pada 21 Juli 2000, penuntut ilmu dan CEO Menjadi Muslim yaitu Platfrom untuk belajar bersama menjadi seorang muslim seutuhnya. Belajar dan belajar itulah jalan hidupnya

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. September 26, 2020

    […] Syarah Hadits Arba’in (4) Memahami TakdirNya […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: