Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Syarah Hadits Arbain Ke 2 Hadits Jibril-Dasar Dasar Agama

Reading Time: 14 minutes Intisari agama islam yang diringkas oleh utusan yang agung

Reading Time: 14 minutes

Syarah Hadits Arbain Ke 2 – Hadits Jibril (Dasar Dasar Agama)

Disarikan dari Syarah al Arba’in an Nawawiyah Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin


Bismillahi walhamdulillahi wasshalaatu wassalaamu ‘alaa rasulillah Muhammad bin Abdillah wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man tabi’ahu ilaa yaumil qiyamah, amma ba’du

Setiap perkara memiliki sebuah dhabit pengikat sebagai intinya, begitupula dengan ilmu yang juga memiliki inti didalamnya, al Qur’an kita kenal ada namanya Ummul Kitab [1]

yaitu surat al Fatihah karena dengannya surat di al Qur’an dimulai dan tercakup makna serta tujuan al Qur’an didalamnya. Begitupula hadits nabi ﷺ yang juga memiliki Ummul Ahaadits [2]

yaitu hadits Jibril yang masyhur, yang isinya mencakup tentang Islam, Iman, Ihsan dan sebagian tanda hari kiamat

Matan Hadits Kedua

Hadits Jibril (Dasar – Dasar Agama)

Dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : Kita sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ pada suatu hari, kemudian datang kepada kami seorang lelaki berbaju putih bersih, berambut hitam pekat, tidak terlihat bekas safar pada dirinya dan tidak ada dari kami yang mengenalinya, hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi ﷺ, dia sandarkan kedua lututnya ke kedua lutut nabi ﷺ dan dia letakkan kedua telapak tangannya diatas paha beliau ﷺ, kemudian dia berkata Wahai Muhammad jelaskanlah kepadaku tentang Islam

Rasulullah ﷺ bersabda “Islam itu engkau bersyahadat (bersaksi) bahwasanya tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, kemudian kau dirikan Shalat, Tunaikan Zakat, Berpuasa Ramadhan dan berhaji ke Baitullah (al Haram) jika kau mampu” Dia berkata Engkau benar! Kami pun heran dia yang bertanya namun dia juga yang membenarkannya, kemudian dia bertanya lagiMaka jelaskanlah padaku tentang Iman !” Rasulullah ﷺ menjawab “Kau beriman pada Allah, dan pada Malaikatnya, dan pada KitabNya, dan para RasulNya dan beriman pada (datangnya) hari akhir serta beriman terhadap Takdir baik dan buruknya” dia berkata Engkau benar! Dia bertanya lagiKabarkanlah kepadaku tentang Ihsan !” Rasulullah ﷺ menjawab “Kau beribadah kepada Allah seolah kau melihatnya (tunduk dan khusyuk karenanya) dan jika kau tak dapat melihatnya (maka ketahuilah) Dia melihat mu” dia bertanya lagi Kabarkan kepadaku tentang hari kiamat ! Rasulullah ﷺ menjawab “Tidaklah yang ditanya lebih mengetahui dari yang bertanya” dia bertanya lagi Kabarkanlah padaku tentang ciri-cirinya ! Rasulullah ﷺ menjawab “Seorang budak wanita yang melahirkan tuannya, dan kau akan lihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa busana, papa saling berlomba untuk memegahkan bangunan” Kemudian dia pergi, ku berdiam sejenak, Rasulullah ﷺ berkata “Wahai Umar, kau tahu siapa itu yang bertanya?” Aku menjawab Allah dan RasulNya lebih tahu, Rasulullah ﷺ bersabda “Sesungguhnya dia itu Jibril, datang kepada kalian untuk mengajari kalian perkara agama kalian”

HR. Muslim 8

Takhrij Hadits

Sumber

Hadits ini diriwayatkan dari beberapa Imam ahli hadits diantaranya,

Imam Muslim bin Hajjaj al Qusyairi (204H-261H) meriwayatkannya dalam kitabnya Shahih Muslim di Juz 1 halaman 28 nomor hadits 8

Imam Ahmad bin Syu’aib al Khurasani an Nasaa’i (215H-303H) meriwayatkannya dalam kitab Sunan an Nasaa’i Juz ke 8 halaman 97 nomor hadits 4990

Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal (164H-241H) meriwayatkannya dalam kitab Musnad Imam Ahmad Juz ke 1 halaman 434 nomor hadits 367-368

Hadits ini berderajat Shahih dan harus diamalkan karena urgentnya isi yang terkandung didalam hadits yang mulia ini

Sekilas Profil Periwayat Hadits

Sumber

Telah berlalu penjelasan tentang beliau radhiyallahu ‘anhu pada penjelasan Hadits pertama dari kitab ini

Syarah dan Faidah Hadits

Sumber

Termasuk dari adab menuntut ilmu adalah berpakaian bersih dan sopan menghadap seorang guru, sebagaimana Jibril ‘alaihissalaam menghadap penghulu para guru, Rasulullah ﷺ yang sedang berhalaqoh dengan para sahabat beliau ridhwanullahi ‘alaihim.

Rukun islam ada lima, sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits,
Islam sendiri bermakna Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkanNya dan tunduk padaNya dengan keta’atan dan berlepas diri dari kemusyrikan dan pelakunya[3]

Rukun Islam

Rukun Islam yang disebutkan dalam hadits ini ada 5 ;

• Dua kalimat syahadat
• Mendirikan Shalat
• Menunaikan Zakat
• Berpuasa Ramadhan
• Berhaji ke baitullah al haram

Dua kalimat syahadat (أَشهَدُ أَن لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ أَشهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُولُ اللهِ), dua kalimat syahadat adalah rukun pertama keislaman seseorang, dengannya seseorang bisa menjadi muslim yang haram darah dan hartanya serta kehormatannya.
Namun kalimat syahadat bukanlah kalimat biasa yang diucapkan seseorang tanpa sebuah konsekuensi dan tanggung jawab, namun kalimat yang harus disertakan dengan konsekuensi yang mengikutinya.

Konsekuensi kalimat laa ilaaha illallah

Allah ﷻ berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah padaKu”

Qs. Adz Zaariyaat 56

Dan dari sebuah hadits shahih yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah ﷺ berkata padanya saat Mu’adz di bonceng beliau ﷺ diatas keledai,


Beliau ﷺ bersabda “Wahai Mu’adz tahukah engkau apa hak Allah atas hambaNya dan hak hambaNya atas Allah?” Aku (Mu’adz) berkata Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui Beliau ﷺ bersabda “Hak Allah atas hambaNya yaitu mereka sembah Allah tanpa menyekutukanNya dengan suatu apapun, dan hak hamba atas Allah yaitu Allah tidak akan mengadzabnya jika hambaNya tidak menyekutukanNya dan beribadah hanya kepadaNya semata” lantas aku berkata “Wahai Rasulullah bolehkah aku kabarkan kepada manusia?” beliau ﷺ menjawab “Jangan (aku khawatir) mereka bersandar (hanya mengandalkan tauhid tanpa memperhatikan amalannya)”[4]

Dan konsekuensi lain juga ada di ayat al Qur’an

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh telah kami utus kepada setiap ummat seorang Rasul, agar beribadah kepada Allah dan menjauhi Thagut”

Qs. An Nahl 36

Dan dalam ayat lain disebutkan pula

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan beribadahlah kepada Allah dan jangan sekali-kali kalian sekutukan Dia dengan sesuatu apapun serta berbuat baiklah kalian terhadap kedua orang tua”

Qs. An Nisaa 36

Dalam firmanNya ﷻ disebutkan pula

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mensekutukanNya dan mengampuni dosa selain itu bagi mereka yang Allah kehendaki barangsiapa yang mensekutukan Allah sungguh dia telah berbuat dosa yang amat besar”

Qs. An Nisaa 48

Mentauhidkan Allah tidak hanya dalam peribadahan kepadaNya saja, namun juga keyakinan kita bahwa hanya Allah lah yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya sendiri tanpa lelah dan tanpa dibantu, sebagaimana firmanNya[5]

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dia (Allah) lah yang menciptakan untuk kalian apa yang ada dibumi semuanya kemudian Dia beristiwa’ [6] di langit lalu Dia sempurnakan tujuh lapis langit itu dan Dia mengetahui segala sesuatu”

Qs. Al Baqoroh 29

Jadi konsekuensi dari kalimat laa ilaaha illallah adalah Mengesakan Allah dalam peribadahan dan Penciptaan serta segala perbuatan ketuhananNya

Kemudian rukun islam yang kedua adalah Shalat

Shalat adalah Beribadah kepada Allah dengan bacaan dan gerakan khusus (yang dituntunkan-ed) dibuka dengan takbir dan diakhiri dengan salam disertai niat dengan syarat-syarat khusus[7]

Allah ﷺ juga menegaskan tentang hukum shalat ini dalam firmanNya

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Dan jika kalian sudah menyelesaikan shalat, maka berdzikirlah kepada Allah berdiri maupun duduk dan dalam keadaan berbaring, dan jika kalian telah merasa tenang maka dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan (waktunya) bagi orang-orang yang beriman”

Qs. An Nisaa’ 103

Kemudian rukun islam yang ketiga adalah Zakat yang wajib dilaksanakan bagi mereka yang memilik harta lebih dari harta yang wajib dizakati, seperti emas, perak, uang, hasil panen, dan sebagainya, dikeluarkan dengan ketentuan yang telah syariat tetapkan.

Allah ﷻ juga berfirman tentang zakat dalam banyak ayat di dalam kitabNya, diantaranya

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)”

Qs. Al Bayyinah 5

Kemudian rukun islam setelahnya adalah Puasa Ramadhan amalan wajib yang sudah sangat familiar dengan kita, namun sangat disayangkan sebagian dari kaum muslimin yang sudah mulai meninggalkannya, banyak yang sudah menganggap remeh perkara puasa ini, padahal Allah ﷻ yang mewajibkannya dalam firmanNya

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa (ramadhan) sebagaimana orang-orang sebelum kalian juga diwajbkan untuk berpuasa agar kalian bertakwa”

Qs. Al Baqoroh 183

Dan sungguh termasuk dosa besar bagi mereka yang berbuka sebelum waktunya, yaitu yang mereka berbuka (tidak berpuasa) pada saat orang-orang berpuasa, mereka berbuka sebelum saatnya datang (hari raya idul fitri), mereka melalaikan puasa ramadhan, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ

بينا أنا نائم إذ أتاني رجلان فأخذا بضبعي فأتيا بي جبلا وعرا فقالا لي : اصعد فقلت : ” إني لا أطيقه ” ، فقالا : إنا سنسهله لك فصعدت حتى إذا كنت في سواء الجبل إذا أنا بأصوات شديدة فقلت : ” ما هذه الأصوات ؟ ” قالوا : هذا عوى أهل النار ، ثم انطلق بي فإذا أنا بقوم معلقين بعراقيبهم مشققة أشداقهم تسيل أشداقهم دما قال : قلت : ” من هؤلاء ؟ ” قال : هؤلاء الذين يفطرون قبل تحلة صومهم “

“Tatkala aku tidur, datanglah kepadaku dua orang lelaki kemudian keduanya membawaku untuk mendaki sebuah gunung, aku katakan pada mereka ‘aku tidak mampu’ mereka menjawab ‘akan kami mudahkan untuk kamu’ maka akupun mulai naik, sampai aku berada diatas gunung aku dikejutkan dengan suara yang keras, maka aku bertanya ‘suara apa ini?’ mereka menjawab ‘ ini suara teriakan penghuni neraka’ kemudian keduanya beranjak lagi bersamaku, hingga kami melewati kaum yang tergantung dengan urat kakinya (diatas) sedang rahang-rahang mereka pecah mengalirkan darah. Lantas aku bertanya ‘siapa mereka?’ dia menjawab (salah seorang dari keduanya) ‘mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum halal bagi mereka’”

HR. An Nasaa’i 246, Ibnu Hibban 536, Ibnu Khuzaimah 137, hadits shahih sesuai syarat Muslim

Kemudian rukun islam selanjutnya adalah Berhaji ke baitullah al-haram yang mana ini adalah rukun islam yang kelima, yang dilakukan jika kita mampu melakukannya, hal ini yaitu mampu juga berlaku untuk amalan shalih lain, diantara syaratnya adalah ‘mampu’ sebagaimana firman Allah ﷻ dalam surat at Taghabun ayat 16, namun dikhususkan penyebutannya dalam haji dalam konteks ini, karena Allah ﷻ mengetahui akan banyaknya ummat manusia yang mengalami kesulitan akan menunaikan amalan ini karena beberapa sebab yang telah kita ketahui bersama[8]

Allah ﷻ juga berfirman dalam kitabNya

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Dan kewajiban bagi manusia untukNya adalah berhaji ke al-baitu (Ka’bah) bagi mereka yang mampu melaksanakannya, dan barangsiapa yang kafir (mengingkarinya) maka sesungguhnya Allah maha kaya dari semesta ini”

Qs. Ali Imran 97

Pria Asing yaitu Jibril yang menyamar

Betapa asingnya pria yang mendatangi Rasulullah ﷺ hingga para sahabat beliau pun bingung, terlebih setelah Rasulullah menjawab pertanyaan dari pria tadi, bukannya berterimakasih atau ucapan semisalnya, namun pria tersebut seolah mengkoreksi sabda Rasulullah ﷺ dengan kalimatnya “engkau benar”. Yang mana pria itu adalah Malaikat jibril yang datang kepada Rasulullah dihadapan para sahabat beliau untuk mengabarkan kepada mereka tentang perkara-perkara penting dalam agama ini seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ.

Rukun Iman

Rukun Iman yang disebutkan dalam hadits ini ada 6 poin, yaitu
• Iman kepada Allah
• Iman kepada Malaikat
• Iman kepada KitabNya
• Iman kepada RasulNya
• Iman kepada Hari akhir
• Iman kepada takdir baik maupun buruknya

Iman kepada Allah yaitu kita meyakini bahwa Allah ﷻ yang menciptakan kita dan alam semesta ini sendiri, hanya Dia yang berhak disembah, kita percaya dan yakini segala nama dan sifatNya yang Dia kabarkan dalam kitabNya atau melalui rasulNya sesuai dengan keagunganNya tanpa dita’wil ataupun dipalingkan dari makna aslinya apalagi ditolak

Iman kepada Malaikat yaitu kita yakini bahwa malaikat itu ada, mereka adalah ciptaan Allah yang tak pernah memaksiatiNya, tunduk dengan semua perintahNya, selalu mengingatNya, kita yakini eksistensi mereka semua, baik yang disebutkan maupun tidak namanya di alqur’an maupun hadits shahih dari Nabi Muhammad ﷺ

Iman kepada Kitab-kitabNya yaitu kita yakini kitab-kitabNya yang turun dari sisiNya melalui malaikatNya kepada nabi dan rasulNya untuk manusia seluruhnya dari kitab Zabur, Taurat, Injil hingga al Qur’an, dan hanya kitab terakhir lah yang masih terjaga esensi dan eksistensinya dan wajib diamalkan hingga hari akhir kelak

Iman kepada Rasul-rasulNya yaitu kita yakini para Nabi dan RasulNya yang diutus dan dipilih dari manusia lainnya, untuk mengemban tugas dakwah menuju pengesaanNya dalam peribadahan dan penciptaan, berdasar titah Ilahi berupa wahyu dan kitabNya

Iman kepada Hari akhir yaitu kita yakini bahwa dunia dan alam semesta akan berakhir hingga waktu yang Allah tetapkan, semua akan kembali padaNya, mempertanggung jawabkan apa yang telah dilakukan selama masa hidupnya, hancurnya alam semesta beserta isinya tanpa tersisa sesuai kehendakNya hingga waktu yang Allah tentukan tanpa ada yang mengetahuinya kecuali diriNya

Iman kepada Takdir yang baik maupun yang Buruk yaitu kita yakini setiap ketetapanNya berupa takdir yang baik maupun buruk itu ada, dan setiap yang baik dan yang buruk hanya sesuai dengan kehendak dan keputusanNya lah ditetapkan, karena mungkin saja sesuatu yang kita sukai dan kita anggap baik, ternyata Allah tahu itu adalah hal yang buruk bagi kita, begitupula sebaliknya. Dan setiap ketetapanNya kepada hambaNya yang beriman adalah kebaikkan, setiap musibah yang menimpa mereka sebenarnya ada hikmah dibaliknya, namun banyak hambaNya yang tidak mengetahui dan memahaminya.

Ihsan tingkatan Tertinggi Seorang Hamba

Tingkatan tertinggi setelah islam dan iman adalah Ihsan yaitu kita merasa diawasi oleh Allah, dan bersungguh-sungguh dalam beribadah kepadaNya hingga seolah Allah ada dihadapan kita mengawasi setiap gerak gerik kita, setiap yang terlintas dibenak kita, setiap ucapan dan mendengar setiap doa kita yang kita panjatkan kepadaNya

Tentang Hari Kiamat

Kemudian pertanyaan pria tadi kepada nabi ﷺ yaitu tentang hari kiamat, karena Rasulullah ﷺ mengetahui siapa pria tadi, yang akan beliau jelaskan diakhir hadits nanti, maka Rasulullah ﷺ memberikan jawaban “tidaklah yang ditanya lebih mengetahui” yaitu dirinya “dari yang bertanya” yaitu malaikat jibril, yang bermakna Kalau engkau saja tidak mengetahuinya terlebih diriku yang tak mungkin mengetahuinya . Karena perkara hari kiamat hanya Allah ﷻ yang mutlak mengetahuinya, sebagaimana firmanNya

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا

“Manusia bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah, “Ilmu tentang hari Kiamat itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat waktunya”

Qs. Al Ahzab 63

Dan firmanNya dalam ayat lain

يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْۚ لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ اِلَّا هُوَۘ ثَقُلَتْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ لَا تَأْتِيْكُمْ اِلَّا بَغْتَةً ۗيَسْـَٔلُوْنَكَ كَاَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Qs. Al a’raaf 187

Hanya disisiNya lah pengetahuan tentang hari kiamat itu berada, tiada yang mengetahuinya kecuali Allah walaupun nabi yang paling mulia ataupun malaikat yang paling agung sekalipun

Kemudian pria tadi yaitu malaikat jibril menanyakan tentang ciri-ciri datangnya hari kiamat, maka Rasulullah ﷺ mengabarkan diantara ciri-ciri tersebut, yaitu

  • Seorang budak perempuan melahirkan tuannya
    • Akan ada orang yang terlihat miskin, berpakaian lusuh bahkan telanjang, tak beralas kaki, papa, pengembala domba saling berlomba-lomba untuk mendirikan bangunan yang megah
    Banyak ulama yang mentafsirkan dengan berbagai tafsiran dari sabda beliau ﷺ tersebut,
    Seorang budak perempuan yang melahirkan tuannya, banyak sekali pendapat yang mentafsirkan kalimat ini, saya dapati lebih dari 5 pendapat yang berbeda[9]. Namun pendapat yang saya ambil yaitu salah satu pendapat yang dikemukakan didalam kitab Ibnu Daqiq al I’ed rahimahullah, yakni Maraknya durhaka terhadap orang tua, sampai-sampai ada anak yang memperbudak ibunya [10] wal’iyadzubillah.
    Besarnya dosa berbuat durhaka kepada kedua orang tua, adalah dosa yang teramat keji setelah menyekutukan Allah, yang mana Allah ﷻ menyandingkan peribadahan kepadaNya dengan perintah berbakti kepada orang tua dalam banyak firmanNya, diantaranya

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik”

Qs. Al Israa’ 23

Dan dosa berbuat durhaka kepada orang tua adalah sebesar-besarnya dosa setelah menyekutukanNya, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ yang berbunyi

أَلَا أُنبِّئُكُم بِأَكبَرِ الكَبَائِرِ (ثلاثاً) قُلنَا بلى يا رسثلَ الله و كان متَّكئاً فجلسَ “الإِشرَاكُ بِاللّهِ وَ عُقُوقُ الوَالِدَينِ وَ شَهَادَةُ الزُّورِ (أَو قَولُ الزُّورِ)” فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلنَا لَيتَهُ سَكتَ
“Maukah kalian aku kabarkan tentang sebesar-besarnya dosa yang besar (hingga tiga kali) yaitu Syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, dan persaksian dusta (perkataan dusta)” senantiasa beliau ulangi sabdanya, hingga kami berkata seandainya beliau diam (menyudahi sabdanya itu)

HR. Bukhari 2654, 5976 dan Muslim 87

Kemudian tanda-tanda kiamat selanjutnya adalah Akan ada orang yang terlihat miskin, berpakaian lusuh bahkan telanjang, tak beralas kaki, papa, pengembala domba saling berlomba-lomba untuk mendirikan bangunan yang megah
Dalam hal ini ada beberapa pendapat dalam mentafsirkannya, diantaranya yang saya ambil dalam hal ini, akan muncul orang-orang yang sebenarnya hidup dalam keadaan pas-pasan, banyak kekurangan, namun gaya hidup dan keinginan untuk terlihat mewah dengan berlomba-lomba membangun bangunan yang megah. Ini adalah tanda diantara tanda-tanda kiamat yang lainnya, seseorang rela menyusahkan dirinya hanya untuk membuat dirinya dipandang kaya raya[11], dipandang kuat dan mengharap berbagai pujian dari manusia, sedangkan dirinya dalam kesulitan dan lilitan hutang, wallahul musta’aan

Tanda-tanda hari kiamat cukup banyak, dan satu persatu tanda-tanda tersebut telah bermunculan, maka dari itu wahai saudaraku pembaca yang budiman semoga rahmat Allah tercurah padamu, mari kita persiapkan diri ini untuk menemui hari tersebut, untuk menemui kiamat pertama manusia yaitu kematian, sebagaimana firman Allah ﷻ dalam kitabNya

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Qs. Al hasyr 18

Dan Rasulullah ﷺ juga bersabda, saat menjawab seorang yang bertanya kepadanya,
Dari Abu Hamzah Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita bahwasanya ada seorang lelaki yang bertanya pada Rasulullah ﷺ, dia berkata : kapan hari kiamat tiba ? Maka Rasulullah ﷺ menjawab : “apa yang telah engkau persiapkan untuk menemuinya?”….. HR. Bukhari 3688
Maka dari itu saudaraku pembaca yang semoga rahmat Allah menyertai kita, mari kita tingkatkan iman dan takwa kita, mari kita terus perdalam ilmu kita untuk menemui saat kita bertemu denganNya, karena kelak kita akan mendapatkan hasil dari apa yang telah kita usahakan saat didunia ini.


Dan yang terakhir, saat pria yang menemui Rasulullah ﷺ beranjak pergi, beliau ﷺ melemparkan sebuah pertanyaan kepada sahabatnya periwayat hadist ini[12] “tahukah engkau wahai Umar, siapa pria tadi?” maka aku[13] pun menjawab Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui beliau ﷺ berkata “Dia adalah jibril yang datang untuk mengajari kalian tentang perkara-perkara agama kalian”
Jibril alaihissalaam menyampaikan wahyu kepada nabi ﷺ dengan beberapa cara, yang paling sulit bagi beliau adalah saat wahyu datang seperti suara lonceng beliau bisa keringat dingin saat menerimanya, dan yang paling mudah adalah beliau didatangi langsung oleh jibril alaihissalam yang menjelma bentuk manusia [14]untuk menyampaikan kepadanya wahyu seperti dalam hadits ini[15]
Sungguh banyak faidah dari hadits jibril ini, yang belum bisa saya himpun di tulisan ini, yang in syaa Allah akan saya tulis dilain kesempatan, wallahu a’lam bisshawwab wallahu waliyyut taufiq wal hidayah
Washallallahu ‘alaa nabiyyina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man tabi’ahu ilaa yaumid diin

Thariq Aziz Alahwadzy
Ma’had Tarbiyah Insan Babakan Bekasi
Sabtu, 12 rabi’ul awwal 1441H/ 9 November 2019M

Footnote :

[1] Kitab Syarah arba’in nawawiyyah Syaikh Ibnu Daqiq, Cet. Maktabah Fayshaliyyah, hal 14

[2] Kitab Syarah arba’in nawawiyyah Syaikh Ibnu Daqiq, Cet. Maktabah Fayshaliyyah, hal 14

[3] Risalah al Ushul tsalaatsah Syaikh Muhammad at Tamimi rahimahullahu ta’ala, Ashl 2

[4] Hadits Riwayat Bukhari 2856, Muslim 30, Ahmad 21991

[5] Mengesakan Allah dalam peribadahan, penciptaan dan semua asma’ dan sifatNya

[6] Istiwa’ adalah bersemayamnya Allah dilangit, Menurut Imam Jalaluddin as Syuyuthi rahimahullah dalam kitab tafsirnya saat menafsirkan ayat ini “istiwa’ adalah Menuju” dan dalam tafsir beliau dalam surat Al a’raf 54 “Singgahsana kerajaan (Allah) yang sesuai dengan keagungannya” (lihat kitab Tafsir Jalaalain, pustaka Waqfeya hal. 157), Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya juga menambahkan “Istiwa’ adalah perkara yang banyak diperselisihkan, namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat para salafusshalih, diantaranya Imam Malik, Imam al A’uza’i, Imam al Laits bin sa’ad, Imam Attsauri, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ishaq bin Rahawaih rahimahumullah dan selain mereka yaitu ‘Bersemayamnya Allah dengan semayam yang sesuai dengan keagunganNya, tanpa diserupakan dengan makhluqNya, tanpa direka, tanpa dita’wil, tanpa Ditolak (Lihat kitab Tafsir al Qur’an al ‘adzim, cet. Daar Thayyibah hal. 427)

[7] Kitab Shahih fiqh sunnah Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid as Saalim, cet. Maktabah Attaufiqiyyah, dalam Kitab Shalat hal. 220

[8] Kitab syarah al arba’in an nawawiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, Hal.41

[9] Disebutkan dalam kitab Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin dan Ibnu Daqiq al ‘Ied rahimahumullah dalam kitab keduanya tentang syarah hadits ini

[10] Kitab Syarah arba’in nawawiyyah Syaikh Ibnu Daqiq, Cet. Maktabah Fayshaliyyah, hal 16

[11] Kitab Syarah arba’in nawawiyyah Syaikh Ibnu Daqiq, Cet. Maktabah Fayshaliyyah, hal 16-17

[12] Abu Hafsh Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

[13] Abu Hafsh Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu

[14] Biasanya menjelma dalam bentuk sahabat yang mulia yang bernama Dhihyah bin Khalifah al Kalbi radhiyallahu ‘anhu

[15] Lihat dalam kitab Hadzal Habib Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yaa Muhib, Syaikh Abu Bakr al Jazaa’iri rahimahullahu ta’ala

Share:

Ust. Thariq Aziz al Ahwadzy

Thariq Aziz al Ahwadzy, seorang penuntut ilmu yang menyukai dunia pendidikan dan dakwah islam yang kaaffah, saat ini masih menempuh pendidikan di King Khalid University, Abha, Arab Saudi jurusan Ushuluddin dan Dakwah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *