Tafsir Al Qur’an Surat al Fatihah

Tafsir Surat al Fatihah

Surat Makkiyah, terdiri dari 7 ayat

Bismillahi wal hamdulillah wasshalaatu wassalaamu ‘alaa rasululillah khatimul anbiyaa’i war mursalin min ‘indillah jalla jalaaluhu dzul fadli wal ihsan, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ‘alaa kulli man saara ‘alaa nahjihi ilaa yaumul qiyamah, amma ba’du

Alfatihah adalah surat pembuka dalam al Qur’an, surat yang semua muslim harus menghafalnya hingga derajat fardhu ‘ain, surat yang membuka shalat, tidak sah shalat tanpa kehadirannya

Alfatihah nama lainnya ada banyak, diantaranya Ummul Kitab, Ummul Qur’an, as Sab’ul Matsaani

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadits yang shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

الحَمدُ لِلّه أُمُّ القُرآنِ وَ أُمُّ الكِتَابِ وَ السَّبعُ المَثَانِي وَ القُرآنُ العظِيمُ

“Alhamdulillah (al Fatihah) adalah ummul qur’an, ummul kitab, as Sab’ul matsaani (tujuh yang diulang), dan al Qur’an al Adzhim” HR. Ahmad 9790 Hadits Shahih dengan Syarat Muslim

Dalam bahasa arab jika menyebutkan sesuatu yang menjadi inti, maka disebut dengan kata ‘Umm’ maka makna dari ummul kitab adalah inti dari al kitab, ummul qur’an adalah inti dari al Qur’an, disebut inti dari al Qur’an karena isinya yang mencakup alqur’an secara mujmal (global)[1]

Surat alfatihah dianjurkan dibaca dalam shalat secara perlahan, ayat per ayat tidaklah wishal atau bersambung dengan satu nafas tanpa waqaf, telah datang dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah ﷺ bersabda : Allah ﷻ berfirman

Aku bagi shalat untuk Ku dan hamba Ku, jika hambaKu berkata : “al hamdulillahi rabbil ‘aalamiin”, maka Aku jawab : ‘HambaKu telah memujiKu’, jika dia berkata : “ar-rahmaanir-rahiim” maka Aku jawab : ‘HambaKu telah menyanjungKu’, jika dia berkata “Maaliki yaumid-diin”, Aku berkata : ‘Hambaku telah mengagungkanKu’, jika dia berkata :”iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in”, Aku berkata : ‘Ini antara diriKu dengan hambaKu, dia mendapatkan apa yang dimintanya’, jika dia berkata : “ihdinas shiraathal mustaqim’ ‘shiraatal-ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdu bi ‘alaihim wa laad-dhooolliin”, Aku berkata : Ini antara diriKu dengan hambaKu, dia mendapatkan apa yang dimintanya’” HR. Muslim 395

Surat ini begitu luas makna dan cakupannya, in syaa Allah ditulisan ini akan saya paparkan sedikit penjelasan yang lugas, dengan metode tafsir para ulama, tafsir al Qur’an dengan al Qur’an, al Qur’an dengan hadits dan atsar, tanpa menampilkan ikhtilaf (perselisihan) para ulama disini, saya akan ambil pendapat yang di rajihkan mayoritas ulama biidznillah, serta dengan mengharap pertolongan dan kemudahan dari Allah agar dilancarkan dalam penulisan tafsir dari surat al Fatihah ini dan surat-surat setelahnya biidznillah

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجيمِ

Aku berlindung kepada Allah dari Syaithan yang terkutuk

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ – ١ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ – ٢ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ – ٣ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ – ٤ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ – ٥ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ – ٦ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ – ٧

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang” (1)Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam” (2) “Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang” (3) “Pemilik hari pembalasan” (4) “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan” (5) “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (6) “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (7)

  • أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجيمِ

Aku berlindung kepada Allah dari Syaithan yang terkutuk

Adalah kalimat yang dianjurkan dibaca jika kita mulai membaca setiap ayat maupun surat dalam al Qur’an, sebagaimana firmanNya

فَاِذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ – ٩٨

Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutukQS. An Nahl 98

Kalimat ini bermakna bahwa kita hanya meminta perlindungan dan bersandar kepada Allah saja dari keburukan dan gangguan Syaithan yang terkutuk.

Karena hanya Allah lah yang dapat melindungi kita dari hal-hal yang buruk apapun itu dan dimanapun itu

Allah ﷻ berfirman

قَالَ اَفَتَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْـًٔا وَّلَا يَضُرُّكُمْ ۗ – ٦٦ اُفٍّ لَّكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗاَفَلَا تَعْقِلُوْنَ – ٦٧

“Dia (Ibrahim) berkata, “Mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kamu? (66) Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti? (67)” Qs. Al Anbiyaa’ 66-67

Telah datang dari sebuah hadits shahih dari Rasulullah ﷺ

بِسمِ اللهِ الَّذي لَا يَضُرُّ مَعَ اسمِهِ شَيئٌ فِي الأرضِ وَ لَا فِي السَّمَاءِ وَ هُوَ السَّمِيعُ العَليمُ

“Dengan menyebut nama Allah yang tiada keburukan yang menyertai bersama namaNya di bumi maupun dilangit dan Dia Maha mendengar dan Maha melihat” HR. Attirmidzi 3388

Karena hanya kepada Allah sajalah kita meminta bantuan dan perlindungan bukan dengan selainnya, karena selain Allah adalah makhluq  yang lemah dan tak dapat diandalkan


  • بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang (1)

Dengan menyebutkan nama Allah yang maha mulia dan maha sempurna tiada cela padaNya, yang maha الرَّحمن yang bermakna Yang luas rahmatNya dan besar bagi seluruh makhlukNya secara umum baik Mukmin maupun Kafir dengan memberikan mereka kehidupan, rezeki, kemudahan, kesehatan, kekayaan dunia, dan segala yang ada di bumiNya karena keadilan dan kebijaksanaanNya

Dan yang maha الرَّحِيْمِ yang bermakna Pemurah dan pengasih kepada hamba-hambaNya yang beriman dengan nikmat yang dikhususkan di dunia maupun di akhirat kelak

Allah ﷻ berfirman

هُوَ الَّذِيْ يُصَلِّيْ عَلَيْكُمْ وَمَلٰۤىِٕكَتُهٗ لِيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا – ٤٣

Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. QS. Al Ahzab 43

Menyebutkan namaNya adalah bentuk tabarruk (mengharap berkah) dengan keberkahan dan keagunganNya dalam setiap bacaan al Qur’an kita atau perbuatan baik lainnya

Ada sebuah hadits yang dihasan kan oleh syaikh Ibnu Baaz rahimahullahu ta’ala dalam Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz (25/135)

كُلُّ أَمرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبدَأُ بِذِكرِ بسمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ فَهُوَ أَبتَر

“Setiap perkara yang penting namun tidak dimulai dengan Bismillahirrahmaanirrahiim maka dia sia-sia (terputus)” HR. Ahmad 329

Para ulama bersepakat akan disyariatkannya membaca Basmallah dalam setiap perkara yang penting, sebagaimana dinukil dari fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al Munajjid hafidzahullahu ta’la

Allah ﷻ membuka kitabNya yang suci dengan Basmallah menunjukkan keagungan kalimat dan ucapan ini


  • اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam (2)

Segala pujian yang mutlak tanpa ada cela padanya hanyalah milik Allah ﷻ, kata اَلْحَمْدُ bermakna Pujian secara sempurna dari segala sisinya untuk Sang pemilik Fadhilah dan Kemuliaan hanya untuk Allah semata, sedangkan selainNya adalah makhlukNya, yang memiliki ketergantungan yang sangat terhadapNya

رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ yang mengatur dan mengurus seluruh alam semesta ini dengan nikmat dan karuniaNya, dan selainNya adalah termasuk dari alam semesta yang Dia ﷻ atur sendiri dengan hikmah dan keadilanNya, dan kita termasuk dari bagian alam tersebut


  • الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ

Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (3)

Telah lalu pembahasan tentang kalimat ini, in syaa Allah akan saya perjelas kembali

(الرَّحْمٰنِ) arRahmaan nama dari nama-nama Allah yang mulia, didalamnya terdapat sifat dari sifat-sifatNya yang terpuji, yaitu Dzu Rahmatin Wasi’ah (pemilik rahmat yang luas) rahmat yang umum untuk semua makhlukNya di langit maupun di bumi, Mukmin maupun Kafir, manusia, hewan maupun tumbuhan, baik yang telah hidup maupun yang telah mati,

Dalil dari pendapat ini banyak kita temukan didalam al Qur’an, diantaranya

اَلَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِيْ سِتَّةِ اَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِۚ اَلرَّحْمٰنُ فَسْـَٔلْ بِهٖ خَبِيْرًا – ٥٩

“(Dia) yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, (Dialah) Yang Maha Pengasih, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada orang yang lebih mengetahui (Muhammad)Qs. Al Israa’ 59

Dan juga firmanNya yang lain,

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى – ٥

Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘ArsyQs. Thaha 5

Pendapat ini diajukan mayoritas Ulama Tafsir dalam menafsirkan ayat ini diantaranya Imam Ibnu Jarir at Thabari, Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya yang fenomenal Tafsir al Qur’an al Adzhim, Syaikh Abdurrahman as Sa’di dalam kitabnya yang fenomenal Taysiru Kariimir rahman fii tafsiir kalaamil manaan, Syaikh Abu Bakar Jabir al Jazaa’iri dalam kitabnya aysar tafaasiir Rahimahumullah jami’an

Sedangkan (الرَّحِيْمِ) arRahiim nama dari nama-nama Allah yang mulia, didalamnya terdapat sifat Allah yang terpuji sama seperti sifat yang terkandung dalam kata (الرَّحْمٰنِ) namun dalam kata (الرَّحِيْمِ) rahmatNya dikhususkan untuk orang-orang yang beriman dan bertakwa, rahmatNya yang dikhususkan di dunia dan akhirat kelak untuk mereka yang beriman, sebagaimana firmanNya

هُوَ الَّذِيْ يُصَلِّيْ عَلَيْكُمْ وَمَلٰۤىِٕكَتُهٗ لِيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا – ٤٣

Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. QS. Al Ahzab 43


  • مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ

Pemilik hari pembalasan (4)

Hari dimana manusia dibalas sesuai apa yang telah ia perbuat di dunia, tiada yang mampu melakukan apapun pada hari itu kecuali Allah ﷻ dan siapa yang Dia kehendaki saja

رَّبِّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمٰنِ لَا يَمْلِكُوْنَ مِنْهُ خِطَابًاۚ – ٣٧ يَوْمَ يَقُوْمُ الرُّوْحُ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ صَفًّاۙ لَّا يَتَكَلَّمُوْنَ اِلَّا مَنْ اَذِنَ لَهُ الرَّحْمٰنُ وَقَالَ صَوَابًا – ٣٨

“Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Yang Maha Pengasih, mereka tidak mampu berbicara dengan Dia (37) Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan dia hanya mengatakan yang benar (38)” Qs. An Naba’ 37-38

Pada hari itu akan tampak secara jelas bahwa semua tunduk padaNya di kerajaanNya dalam kuasaNya, akan tampak pada hari itu bahwa Dialah Ilah yang mutlak, tiada selainNya kecuali makhlukNya yang lemah dan tak mampu berbuat apa-apa, tidak ada yang dapat menolak perintahNya,

قَالَ قَرِيْنُهٗ رَبَّنَا مَآ اَطْغَيْتُهٗ وَلٰكِنْ كَانَ فِيْ ضَلٰلٍۢ بَعِيْدٍ – ٢٧ قَالَ لَا تَخْتَصِمُوْا لَدَيَّ وَقَدْ قَدَّمْتُ اِلَيْكُمْ بِالْوَعِيْدِ – ٢٨ مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَآ اَنَا۠ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِ – ٢٩

“(Setan) yang menyertainya berkata (pula), “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dia sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh (27) (Setan) yang menyertainya berkata (pula), “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dia sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh (28) Keputusan-Ku tidak dapat diubah dan Aku tidak menzalimi hamba-hamba-Ku (29)” Qs. Qaf 27-29

Pada hari itu mereka yang menyembah selainNya akan bingung karena tiada yang berkuasa pada hari itu kecuali diriNya, semua sesembahan selainNya akan tunduk kepadaNya dan berlepas diri dari yang menyembah mereka didunia dahulu

اِذْ تَبَرَّاَ الَّذِيْنَ اتُّبِعُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْا وَرَاَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْاَسْبَابُ – ١٦٦

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti, dan mereka melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputusQs. Al Baqoroh 166

وَاِذَا رَاَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْا شُرَكَاۤءَهُمْ قَالُوْا رَبَّنَا هٰٓؤُلَاۤءِ شُرَكَاۤؤُنَا الَّذِيْنَ كُنَّا نَدْعُوْا مِنْ دُوْنِكَۚ فَاَلْقَوْا اِلَيْهِمُ الْقَوْلَ اِنَّكُمْ لَكٰذِبُوْنَۚ – ٨٦ وَاَلْقَوْا اِلَى اللّٰهِ يَوْمَىِٕذِ ِۨالسَّلَمَ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ – ٨٧

“Dan apabila orang yang mempersekutukan (Allah) melihat sekutu-sekutu mereka, mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang dahulu kami sembah selain Engkau.” Lalu sekutu mereka menyatakan kepada mereka, “Kamu benar-benar pendusta (86) Dan pada hari itu mereka menyatakan tunduk kepada Allah dan lenyaplah segala yang mereka ada-adakan” (87) Qs. An Nahl 86-87

Maha suci Allah yang maha Merajai hari pembalasan


  • اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan (5)

Hanya untukNya semua ibadah kita, kita berserah diri padaNya secara totalitas sebagai hamba yang tunduk, dan tidak menjadikan ibadah kita kecuali hanya untukNya semata,

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ – ١٦٢ لَا شَرِيْكَ لَهٗ ۚوَبِذٰلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُسْلِمِيْنَ – ١٦٣

“Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, (162) tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim)” (163) QS. Al An’am 162-163

Langsung kita meminta kepadaNya, secara langsung juga kita menyembahNya, tiada sekutu dan perantara menujuNya

اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ ۗوَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰىۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ەۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّارٌ – ٣

Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkarQs. Az Zumar 3

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ – ١٨٦

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaranQs. Al Baqoroh 186

Rasulullah ﷺ bersabda

فَإِذَا سَأَلتَ فَاسأَلِ اللهَ فَإِذَا استَعَنتَ فَاستَعِن بِاللهِ

“Dan jika engkau meminta, maka mintalah (langsung) pada Allah, dan jika engkau hendak meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan langsung kepada Allah” HR. Attirmidzi 2516

Kalimat ini اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ adalah kalimat yang lugas dan jelas, disebutkan اِيَّاكَ di depan sebagai maf’ul bih (Objek) yang disembah bermakna pembatasan yaitu bahwasanya hanya Allah lah semata yang berhak disembah, hanya Allah sajalah yang berhak dimintai pertolongan

Isti’anah atau meminta pertolongan termasuk dari bentuk ibadah, maka kita tidak boleh meminta pertolongan diluar kemampuan manusia kepada selain Allah atau melalui selainNya, tidak boleh melalui para mayyit, orang-orang shalih, para ulama yang telah wafat dan semua makhlukNya yang lain

Dan tidak termasuk isti’anah dalam hal ini, jika kita meminta bantuan kepada makhlukNya yang hidup dalam konteks yang mampu dilakukan oleh makhlukNya, maka tidaklah mengapa

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖوَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ – ٢

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-NyaQs. Al Maidah 2


  • اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ

Tunjukilah kami jalan yang lurus (6)

Tunjukkanlah kepada kami dan bimbinglah kami menuju jalan yang lurus dengan mengenal dan memeluk agama yang Haqq ini, yaitu menuju jalan kembali kepada Allah, menuju surgaNya dan menuju keridhaanNya yang abadi, ini adalah hidayah al Bayan wal Irsyad tugas terbesar para Nabi, tugasnya para ulama dan da’i untuk mengenalkan dan menjelaskan manusia akan jalan kebenaran dan mengajak mereka untuk menempuhnya

Allah ﷻ berfirman

وَكَذٰلِكَ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ رُوْحًا مِّنْ اَمْرِنَا ۗمَا كُنْتَ تَدْرِيْ مَا الْكِتٰبُ وَلَا الْاِيْمَانُ وَلٰكِنْ جَعَلْنٰهُ نُوْرًا نَّهْدِيْ بِهٖ مَنْ نَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِنَا ۗوَاِنَّكَ لَتَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۙ – ٥٢ صِرَاطِ اللّٰهِ الَّذِيْ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ اَلَآ اِلَى اللّٰهِ تَصِيْرُ الْاُمُوْرُ – ٥٣

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus (52) (Yaitu) jalan Allah yang milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, segala urusan kembali kepada Allah” (53) Qs. As Syuuraa 52-53

Rasulullah ﷺ bersabda saat memberikan panji di hari penaklukan Khaibar kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu

اُنفُذ عَلَى رِسلِكَ حتَّى تَنزلَ بِساحَتهِم ثُمَّ ادعُهُم إِلَى الإِسلَام وَ أخبِرهُم بِمَا يَجِبُ عَلَيهِم مِن حَقِّ اللهِ تَعَالى فِيهِ, فَوَ اللهِ لِأَن يَهدِيَ اللهُ بِكَ رجُلًا وَاحِداً خَيرٌ لَكَ مِن خُمُرِ النَّعَم

“Dimudahkan jalanmu hingga mencapai pekarangan mereka, kemudian ajaklah mereka kepada islam, kemudian kabarkanlah apa yang diwajibkan atas mereka haq Allah dalam islam, maka demi Allah, jika ada seseorang yang Allah beri hidayah melalui dirimu, sungguh itu lebih baik dari unta merah” HR. Bukhari 3701

Disebut unta merah karena unta merah adalah harta termahal dikalangan arab pada masa itu, permisalan ini menunjukan bahwa barang siapa yang bisa mengajak manusia menuju agama dan jalan yang benar, maka sungguh jika satu orang saja yang mendapat hidayah melalui tangannya itu jauh lebih baik dari harta dunia termahal sekalipun

Kemudian tunjukan dan bimbinglah kami dalam jalan yang lurus ini, agar kami bisa istiqomah dan senantiasa beramal dengan ilmu dan niat yang benar, agar kami bisa berada diatas kebaikan ini hingga ajal menjemput kami sedang kami dalam keadaan muslim

Serta bimbinglah kami di dalam jalan yang lurus ini, dengan taufiq dan ilhamNya agar tetap istiqomah didalam jalan yang lurus ini hingga ajal menemui kami, ini disebut dengan Hidayah Taufiq wal Ilham hanya ditanganNya lah hidayah itu

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ – ٣٠

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu” Qs. Fusshilat 30

Dan Rasulullah ﷺ juga bersabda

عَن أَبي عمرٍو سُفيانَ ابنِ عَبدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنهُ قَالَ : يَا رَسُولَ الله قُل لِّي فِي الإِسلَامِ قَولًا لَا أَسأَلُ عَنهُ أَحَدًا

غَيرَكَ قَلَ ﷺ : “قُل آمَنتُ بِاللهِ ثُمَّ استَقِم” رواه مسلم

Dari Abu ‘Amr Sufyan bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : “Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku sebuah perkataan dalam islam yang aku tidak akan tanyakan lagi pada selainmu”, beliau ﷺ menjawab : “Katakanlah ‘aku beriman kepada Allah’ kemudian istiqomahlah (diatasnya)” HR. Muslim 38

Istiqomah, yaitu berjalan di jalan yang lurus, tidak condong ke kanan maupun ke kiri keluar jalan syariat yang lurus ini, berpegang teguh dalam agama ini adalah perkara yang tidak mudah, maka kita diajarkan untuk terus meminta hidayah kepada Allah dalam setiap shalat kita agar hati kita ini menetap dalam kebenaran

الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ Makna dari kalimat ini banyak pendapat, ada yang berkata itu adalah islam, ada yang berkata itu adalah alqur’an namun masing-masing tidaklah bertentangan

وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ ۚوَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ – ١٥٣

Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwaQs. Al An’am 153

Semoga Allah jadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang istiqomah dijalanNya hingga ajal menemui kita, kemudian kita beranjak menemuiNya dihari pembalasan hari tiada yang berbicara dan berkomentar kecuali seizinNya


  • صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (7)

Jalan yang lurus dalam surat ini diperinci lagi olehNya, yaitu jalan orang-orang yang Allah beri nikmat berupa keimanan dan keistiqomahan serta kesabaran layaknya para nabi alaihimussalaam, orang-orang shalih, para syuhada(yang mati syahid di jalan Allah) dan siapapun yang menempuh jalan mereka

Allah ﷻ berfirman

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا – ٦٩ ذٰلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللّٰهِ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ عَلِيْمًا – ٧٠

Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya” (69) “Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan cukuplah Allah yang Maha Mengetahui” (70) Qs. An Nisaa’ 69-70

Dan bukan jalannya الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ yaitu jalannya orang-orang yang Allah murkai, mereka adalah orang-orang yahudi dan siapapun yang berjalan diatas jalan mereka, karena mereka mengerti kebenaran namun menolaknya, mereka berilmu namun tidak beramal dengannya

Dan juga bukan jalannya الضَّاۤلِّيْنَ yaitu orang-orang yang tersesat, mereka adalah orang-orang nashrani dan siapapun yang berjalan diatas jalan mereka, mereka dikatakan sesat karena mereka beribadah kepada Allah namun tanpa didasari ilmu yang benar, mereka beramal diatas kebodohan dan nafsu belaka.

Sebenarnya kedua ummat tersebut adalah ummat yang tersesat dan dimurkai oleh Allah ﷻ karena mereka berpaling dari kebenaran dan mendustakan Rasulullah ﷺ dan apa yang dibawanya, namun dikhususkan kalimat الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ atas orang-orang yahudi karena Allah ﷻ berfirman,

قُلْ هَلْ اُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِّنْ ذٰلِكَ مَثُوْبَةً عِنْدَ اللّٰهِ ۗمَنْ لَّعَنَهُ اللّٰهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيْرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوْتَۗ اُولٰۤىِٕكَ شَرٌّ مَّكَانًا وَّاَضَلُّ عَنْ سَوَاۤءِ السَّبِيْلِ – ٦٠

Katakanlah (Muhammad), “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang fasik) di sisi Allah? Yaitu, orang yang dilaknat dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah Thaghut.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurusQs. Al Maidah 60

Dan kalimat الضَّاۤلِّيْنَ dikhususkan untuk orang-orang nashrani karena Allah ﷻ berfirman,

قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوْٓا اَهْوَاۤءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوْا مِنْ قَبْلُ وَاَضَلُّوْا كَثِيْرًا وَّضَلُّوْا عَنْ سَوَاۤءِ السَّبِيْلِ – ٧٧

Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurusQs. Al Maidah 77

Dan yang terakhir, sebagai pengingat, bahwa kalimat آمِين  bukan bagian dari surat al Fatihah, namun dia disunnahkan untuk dibaca oleh imam dan makmum saat shalat berjamaah shalat jahriyyah yaitu shalat Shubuh, Maghrib, Isya, shalat Jum’at dan shalat-shalat sunnah yang di keraskan bacaan padanya seperti shalat i’ed shalat gerhana dan lain sebagainya[2]


Ringkasan

Surat ini adalah surat yang sarat makna, surat yang mencakup makna yang luas yang terdapat dalam alqur’an secara lugas dan singkat

Dalam surat ini terdapat penjelasan tentang akidah seorang muslim sejati, yaitu Tauhid uluhiyyah (Hanya Allah lah yang berhak diibadahi bukan selainnya dan tidak melalui perantara apapun dan siapapun) seperti dalam firmanNya

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan (5)

Dan juga mencakup akidah seorang muslim yang amat penting juga, yaitu tauhid rububiyyah (Bahwasannya hanya Allah saja lah raja diraja, pencipta tunggal yang tak butuh bantuan selainNya, raja hari pembalasan, hari dimana tiada yang bertindak kecuali  atas izinNya) seperti dalam firmanNya

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam (2)

Dan juga dalam firmanNya

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ

Pemilik hari pembalasan (4)

Dan surat ini juga mencakup akidah seorang muslim yang paripurna juga, yaitu akidah tentang asmaa’ was shifaat (Hanya Allah lah pemilik nama-nama yang agung dan sifat-sifat yang mulia, kita mempercayai dan menerimanya tanpa penyerupaan kepada makhlukNya, tanpa kita tolak mentah-mentah, tanpa kita takwil kecuali ada dalil yang kuat didalamnya, karena segala pujian hanya milikNya dan Dia tidaklah serupa dengan makhlukNya sebagaimana firmanNya dalam surat ini

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ – ١ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ – ٢ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ – ٣

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang(1)Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam(2)Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang (3)

Dan Allah ﷻ juga berfirman dalam surat lain, Allah adalah pemilik nama-nama yang baik, maka berdoalah kepadaNya dengan nama-nama yang baik itu

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۖ – ١٨٠

Dan Allah memiliki Asma’ul-husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma’ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakanQs. Al A’raf 180

Dan Allah ﷻ juga berfirman, bahwasannya Dialah pemilik nama dan sifat yang mulia, namun Dia tidaklah diserupakan dengan hambaNya, Dia pemilik tunggal setiap sifatNya tanpa ada kesamaan dengan makhlukNya

فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّمِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًاۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ – ١١

“(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat” Qs. Asy Syuuraa 11

Didalam surat yang agung ini juga terdapat dalil kenabian, dalam firmanNya

اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus (6)

Karena tanpa adanya nabi yang Allah ﷻ, maka siapakah yang akan menunjukan manusia kejalan Allah yang benar sesuai dengan apa yang Allah inginkan

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmusshaalihaat, telah selesai dengan izinNya tafsir singkat dari surat al Fatihah ini, yang in syaa Allah akan saya lanjutkan dengan tafsir alqur’an per pembahasan biidznillah

Semoga kita bisa mendapat banyak faidah dan ilmu dari tulisan singkat saya ini, dan semoga kita bisa menjadi orang-orang yang menempuh jalan kebenaran hingga akhir hayat kita kelak, Aamiin

Washallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammadin, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam, Hamdan wa Syukran lillah, laa ilaaha illa huwal aziizul hakiim

Thariq Aziz Alahwadzy

Bekasi, 29 November 2019/ 2 Rabi’uts Tsaanii 1441H

Ma’had Tahfidz Tarbiyah Insan Bekasi

Daftar Pustaka

  1. Alqur’an al Karim (Matan dan Terjemah) Dari al Qur’an Elektronik Kementrian Agama Republik Indonesia 2019
  2. Tafsir al Qur’an al Adzhim, Imam Abul Fidaa’ Ismail bin Umar bin Katsir rahimahullahu ta’ala cetakan Daarut Taybah tahun cetak 1999, Riyadh
  3. Tafsir Aisar Tafaasiir, Syaikh Abu Bakar Jabir al Jazaairi rahimahullahu ta’ala cetakan Nahrul Khair tahun cetak 1990, Jeddah
  4. Tafsir al Jalaalain, Syaikh Jalaaluddin as Suyuti dan Syaikh Jalaaluddin al Mahalli rahimahumallahu ta’ala cetakan Maktabah Lubnaan Naasyiruun, Beirut
  5. Tafsir Taysir kariimir rahmaan fii tafsiir kalaamil mannan, Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di rahimahullahu ta’ala cetakan Daarus Salaam tahun cetak 2002, Riyadh
  6. Syarah al Arba’in an Nawawiyyah, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullahu ta’ala cetakan Daar Tsaraayaa tahun cetak 2004
  7. Web 1
  8. Web 2
  9. Web 3

Footnote

[1] Tafsir al Qur’an al Adzhim, Imam Abul Fidaa’ Ismail bin Umar bin Katsir rahimahullahu ta’ala, jilid 1 hal.102

[2] Berdasarkan Hadits nabi ﷺ : إِذَا أمَّن الإمَام فَأَمِّنُوا فَإِنَّه من وَافق تَأمينُهُ تَأمِينَ المَلائِكَة غُفِرَ لُهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِه

“Jika Imam berkata Aamiin maka aminkanlah, karena barangsiapa yang aminnya berbarengan dengan aminnya malaikat maka dihapuskan dosanya yang telah lalu” HR. Bukhari 111 dan Muslim 128

Thariq Aziz al Ahwadzy

Thariq Aziz al Ahwadzy, seorang kelahiran kota Bekasi pada 21 Juli 2000, penuntut ilmu dan CEO Menjadi Muslim yaitu Platfrom untuk belajar bersama menjadi seorang muslim seutuhnya. Belajar dan belajar itulah jalan hidupnya

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. Juli 2, 2020

    […] Baca Juga : Tafsir Surat Al Fatihah […]

  2. September 14, 2020

    […] Tafsir Al Qur’an Surat al Fatihah […]

  3. Maret 22, 2021

    […] Tafsir al Fatihah […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: