(Fiqh) Macam Bentuk Thaharah / Bersuci

Jenis Thaharah part 1
sumber https://unsplash.com/photos/dXUvqrxgRPg

السَلام عَليكُم و رَحمَة الله و بركَاته

Bismillah wal hamdulillah, wasshalaatu wassalaamu ‘alaa rasulillah, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man saara ‘alaa nahjihi ilaa yaumil qiyamah, amma ba’du

Segala puji kepada Allah Rabb semesta alam, yang telah mengizinkan kita untuk melanjutkan pembahasan fiqh dari kitab shahih fiqh sunnah wa adillatuhu wa tawdiih madzaahib al arba’ah karya Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim hafidzahullahu ta’ala.

Setelah kita menyelesaikan pembahasan tentang apa itu thaharah (bersuci) di artikel sebelumnya (Klik untuk membaca artikel). Pada tulisan kali ini saya akan memaparkan tentang pembagian dan jenis – jenis thaharah

Jenis – Jenis Thaharah (Bersuci)

Sumber

Secara garis besar, para Ulama ahli fiqh mengklasifikasi thaharah menjadi dua, pertama Thaharah Haqiqiyah (Bersuci yang sesungguhnya) dan Thaharah Hukmiyah (Bersuci secara hukum)

Thaharah Haqiqiyah : Bersuci dari kotoran (Najis) yang menempel pada badan, pakaian, dan tempat

Thaharah Hukmiyah : Bersuci dari hadats, yang hanya terjadi pada badan saja. Ada 3 bentuk untuk jenis thaharah ini

  • Thaharah Kubra (Bersuci besar) dengan mandi
  • Thaharah Shugra (Bersuci kecil) dengan wudhu
  • Tayammum (Sebagai pengganti dari dua keadaan diatas jika tidak ditemukan air) dengan Debu

Pembahasan Pertama

Thaharah Haqiqiyah

Sumber

Arti dari Najasah:

Najasah (bernajis) adalah lawan dari Thaharah (bersuci), dan najis sendiri adalah “Setiap Isim (subtansi) untuk sesuatu yang menjijikan secara syariat, maka wajib bagi seorang muslim membersihkan dirinya dari hal tersebut dan mencuci apa yang mengenainya

Jenis – Jenis Najasah

Berikut hal – hal yang najis secara syariat didukung dengan dalil yang kuat

  • Kotoran Manusia dan Kencingnya

Keduanya adalah najasah sesuai kesepakatan ulama

Kotoran manusia merupakan najasah sebagaimana sabda nabi ﷺ

إذا وَطِئَ أحدُكُم بِنَعلِه الأَذى فإنَّ الترابَ لهُ طَهورٌ

“Jika salah seorang kalian menginjak Najis dibawah sandal, maka debu dan tanah setelahnya mensucikannya”

HR. Abu Dawud 385 dengan sanad shahih

Begitupula hadits tentang wajibnya beristinja (yang akan datang pembahasannya) menunjukan bahwa kotoran manusia adalah najis

Kencing manusia merupakan najasah sebagaimana yang datang dalam sebuah hadits

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita bahwasanya ada seorang arab badui yang kencing di masjid, kemudian sebagian orang berdiri untuk mengusirnya, lalu nabi ﷺ berkata “Tinggalkanlah dia jangan hentikan dia dulu” tatkala dia selesai, Rasulullah ﷺ meminta satu ember air lalu menyiramkannya pada bekas kencing tersebut. HR. Bukhari 6025 dan Muslim 284

  • al Madzy dan al Wady

al Madzy adalah : Air yang halus dan licin keluar saat syahwat bergejolak seperti bermain dengan istri (foreplay) atau memikirkan jima’ (bersetubuh) atau menginginkannya, tidak memancar dan tidak juga membuat lelah, mungkin juga tidak terasa keluarnya. Terjadi pada pria dan wanita, lebih banyak terjadi pada wanita. Ini adalah najis menurut kesepakatan ulama, karena Nabi ﷺ tatkala menjawab pertanyaan seseorang tentang madzy beliau bersabda “Hendaknya dia membilas kemaluannya kemudian berwudhu” (HR. Bukhari 269 dan Muslim 303)

adapun Wady adalah : Air yang berwarna putih keruh yang keluar setelah kencing, hukumnya najis berdasarkan ijma’ ulama sebagaimana Atsar dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma

“(air yang keluar dari kemaluan itu) Mani, Wady dan Madzy, adapun Mani maka wajib mandi sedangkan madzy dan wady beliau katakan ‘Bilaslah kemaluan kemaluan kalian kemudian berwudhulah sebagaimana wudhu untuk shalat” (Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam sunannya 1/115)

  • Darah Haid

Sebagaimana hadits dari Asma’ bintu Abi Bakar radhiyallahu ‘anhuma : “Seorang wanita datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya ‘Wahai Rasulullah salah seorang dari kami pakaiannya terkena darah haid, lalu apa yang harus dia lakukan ?’ kemudian Nabi ﷺ menjawab ‘Bersihkanlah darah itu dari pakaian dan gosoklah dengan air (hingga bersih) kemudian bilas lalu boleh dia gunakan untuk shalat’ ” (HR. Bukhari 227 dan Muslim 291)

Cukup sampai disini pembahasan kita hari ini, in syaa Allah akan kita lanjutkan di tulisan berikutnya, semoga apa yang kita baca hari ini menjadi ilmu dan bisa kita amalkan dalam kehidupan sehari hari

Allahu a’lam bisshawwab

washallallahu ‘alaa nabiyyina musthafa wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man waalah


Akhukum fillah Thariq Aziz al Ahwadzy

11 Shafar 1441H

di kota Bekasi


Referensi Terkait

Baca Juga :

(Fiqh) Pengertian Bersuci dan Urgensinya

Urgensi Tauhid Dalam Kehidupan

Syarah Hadits Arbain ke (6) Halal dan Haram

Thariq Aziz al Ahwadzy

Thariq Aziz al Ahwadzy, seorang kelahiran kota Bekasi pada 21 Juli 2000, penuntut ilmu dan CEO Menjadi Muslim yaitu Platfrom untuk belajar bersama menjadi seorang muslim seutuhnya. Belajar dan belajar itulah jalan hidupnya

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *