Sifat – Sifat Terpuji Hamba Pilihan ar Rahman (Part 1)

Sifat-Terpuji-Hamba-Arrahman

Sifat – Sifat Terpuji Hamba Pilihan ar Rahman

Disarikan dari Kitab Sifat ‘Ibadirrahman Karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al Badr حفظه الله تعالى


Bismillahi wal hamdulillah, wasshalaatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa man waalah, amma ba’du,

Sungguh penghambaan diri secara totalitas kepada Allah ﷻ adalah sebuah kemuliaan, keutamaan yang agung, yang Allah ﷻ puji dengannya para nabi dan rasul serta para waliNya yang mulia dalam banyak ayat dan hadits dari firmanNya.

Dan mereka para hamba Arrahman yang setia memiliki sifat – sifat terpuji yang menjadi ciri khas mereka, memperlihatkan jati diri sesungguhnya dari keagungan jiwa mereka, tersurat abadi dalam firman Allah ﷻ dalam kitabNya yang mulia,

Allah ﷻ berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمً (63) وَالَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَّقِيَامًا (64) وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ اِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ۖ  (65) اِنَّهَا سَاۤءَتْ مُسْتَقَرًّا وَّمُقَامًا (66) وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا (67) وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُوْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَامًا ۙ (68)  يُّضٰعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَيَخْلُدْ فِيْهٖ مُهَانًا ۙ (69) اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَاِنَّهٗ يَتُوْبُ اِلَى اللّٰهِ مَتَابًا (71) وَالَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَۙ وَاِذَا مَرُّوْا بِاللَّغْوِ مَرُّوْا كِرَامًا (72) وَالَّذِيْنَ اِذَا ذُكِّرُوْا بِاٰيٰتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوْا عَلَيْهَا صُمًّا وَّعُمْيَانًا (73) وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا (74)   

Al Furqon 63 – 74

Ayat-ayat diatas menyampaikan kepada kita, tentang sifat-sifat mulia dari hambaNya sang Maha Mulia, Allah janjikan kepada mereka kebaikan dan balasan terindah di akhirat kelak di akhir ayatnya, sifat-sifat inilah yang sudah sepatutnya kita sebagai seorang muslim menghiasi diri dengan perangai terbaik yang Allah dan rasulNya ajarkan, berusaha melaksanakannya dengan sebenar-benarnya.

 

SIFAT PERTAMA

Ketenangan dan Sikap Rendah Hati kepada Allah dan dihadapan hamba-hambaNya

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا

Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam.”

Al Furqon 63

Diantara sifat-sifat terbaik Hamba-hamba Arrahman adalah Sikap tenang dan rendah hati dihadapan Rabbnya dan orang lain. Berjalan dengan tenang, bersikap lemah lembut dan menyikapi orang yang berbuat buruk padanya dengan sikap terbaik, berbicara yang baik dan santun kepada orang bodoh yang mencela dan menghinanya

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata dalam menafsirkan ayat

(الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَرْضِ هَوْنًا) : “Yakni dengan sikap taat, menjaga diri dan rendah hati” (Tafsir at Thabari 17/491)

Diantara bentuk kerendahan hatinya adalah dengan tidak menanggapi ocehan dan komentar miring orang-orang bodoh kecuali dengan kalimat yang tepat dan selamat, selamat dari keburukan dan dosa, itulah sikap sejati seorang hamba Arrahmaan. Kita juga dianjurkan untuk selalu berdoa meminta perlindungan dari Allah ﷻ dari disesatkan atau menyesatkan, digelincirkan atau menggelincirkan, dihinakan atau menghinakan, didzhalimi atau mendzhalimi, Allahu waliyyuttaufiq

 

SIFAT KEDUA

Sikap Mereka yang Amat Bagus dalam Menjaga Shalat Terlebih Shalat Tahajjud

وَالَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَّقِيَامًا

“Dan, orang-orang yang mengisi waktu malamnya untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri.”

Al Furqon 64

Diantara sifat terpuji hamba Arrahmaan adalah menjaga shalatnya, terlebih shalat Qiyamullail yakni tahajjud, sebaik-baik shalat setelah shalat Fardhu, sebagaimana banyak hadits dan atsar yang datang menjelaskannya, diantaranya sabda Nabi ﷺ bersabda

أفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل

“Sebaik-baik shalat setelah Shalat Fardhu adalah Shalat Malam”

HR. Muslim 1163

Waktu yang paling utama melaksanakan shalat malam adalah sepertiga malam terakhir, beberapa saat sebelum masuk waktu sahur, Rasulullah ﷺ bersabda,

ينزل ربنا تبارك وتعالى إلى السماء الدنيا كل ليلة حين يبقى ثلث الليل الآخر فيقول: من يدعوني فأستجيب له، من يسألني فأعطيه، من يستغفرني فأغفر له، حتى ينفجر الفجر

“Rabb kita yang Maha Suci dan Maha Tinggi ke langit dunia setiap malam tatkala sepertiga malam terakhir, kemudian Dia berfirman ‘Barangsiapa yang berdoa kepadaKu niscaya Ku kabulkan, Barangsiapa meminta kepadaKu niscaya Ku berikan, Barangsiapa meminta kepadaKu ampunan niscaya Ku ampuni”

HR. Bukhari 1147

Shalat malam adalah anugerah terbesar dari Allah kepada hambaNya yang terpilih, istiqomah didalamnya adalah keutamaan yang tiada tara, maka hendaknya kita sebagai seorang muslim dan mukmin untuk berusaha semaksimal mungkin bisa bersujud tahajjud mengharap ridhaNya, meminta ampunanNya di sepertiga malam terakhir, kemudian beristiqomah didalamnya, Allah waliyyuttaufiq.

 

SIFAT KETIGA

Takutnya mereka  dan Kekhawatiran mereka Terhadap Adzab Neraka

وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ اِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ۖ (65) اِنَّهَا سَاۤءَتْ مُسْتَقَرًّا وَّمُقَامًا (66)

(65) “Dan, orang-orang yang berkata, “Wahai Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami (karena) sesungguhnya azabnya itu kekal.” (66) “Sesungguhnya ia (Jahanam itu) adalah tempat menetap dan kediaman yang paling buruk.”

Al Furqon 65-66

Diantara bentuk kekuatan iman hamba-hamba pilihan Arrahmaan adalah sifat Ihsan dalam diri mereka yang tertanam dengan baik, yang mana sifat ini adalah derajat tertinggi dari keislaman seseorang, sebagaimana yang dijelaskan di hadits Jibril yang terkenal, bahwa tingkatan tertinggi keislaman seseorang adalah ihsan, yang mana seseorang beribadah dengan tulus kepada Allah ﷻ seakan dia melihatNya, meski dia tidak melihat Allah secara zahir, namun sungguh dia merasa bahwa Allah memperhatikannya, maka dia memperbaiki ibadahnya karena tahu Allah senantiasa mengawasinya.

Sifat Ihsan dalam diri mereka menumbuhkan kekuatan iman dengan hal yang ghaib, mereka benar-benar takut dan khawatir jika terjatuh ke dalam neraka jahannam, karena mereka tahu bahwa diri mereka masih banyak kekurangan dalam amal sehingga mereka memperkuat amalan mereka dengan rasa harap-harap cemas jikalau Allah tidak menerima amalan mereka, mereka benar-benar hamba yang tulus beramal, benar-benar memperbaiki amal mereka sebaik-baiknya perbaikan.

Allah ﷻ mengabarkan mereka dalam salah satu firmanNya

وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ ۙ

dan orang-orang yang melakukan (kebaikan) yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya.”

Al Mukminun 60

Yakni mereka adalah orang-orang yang melakukan amalan dan ketaatan namun hati mereka takut dan berharap cemas jikalau amalan mereka ditolak hingga mereka berhak untuk mendapat adzabNya, sehingga mereka terus bersungguh-sungguh untuk memperbaiki amalan mereka dengan sebenar-benarnya, inilah tafsiran tentang ayat ini yang Nabi kita Muhammad ﷺ sampaikan dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam at Tirmidzy 3175 yang dishahihkan oleh Syaikh al Albani rahimahumallahu ta’ala.

Adapun orang munafiq semoga Allah melindungi kita dari kemunafikan mereka buruk dalam beramal, tiada ketulusan dalam perbuatan taat mereka, mereka tiada khawatir dan takut akan adzabNya yang nyata, wal’iyaadzubillah

Hamba pilihan Arrahmaan senantiasa berdoa agar dilindungi dari adzab nerakaNya yang pedih, Allah berfirman mengabarkan permintaan mereka

(رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ) “Wahai Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami”. Maka sudah sepatutnya kita sebagai seorang muslim untuk terus bermuhasabah dan memaksimalkan amal serta keikhlasan, dan juga menyadari bahwasanya Allah senantiasa mengawasi kita dalam setiap tindak tanduk yang kita lakukan, teruslah meminta ampunan dan rahmat, semoga Allah jauhkan kita dari AdzabNya yang pedih lagi menyala-nyala aamiin.

In syaa Allah sifat-sifat lainnya akan kami jelaskan dalam artikel berikutnya biidznillah, semoga apa yang kita baca ini menjadi manfaat buat pembaca dan penulis, serta bisa menjadikan kita lebih bersemangat lagi dalam memperbaiki diri dan menghiasinya dengan perangai terpuji hamba-hamba pilihan arrahman, syukran Baarakallahu fiikum


Akhukum Fillah Thariq Aziz al Ahwadzy

Bekasi, 29 Desember 2021 / 24 Jumadal Ula 1443H

Perumahan Pondok Hijau Permai


Baca Juga :

Niat Puasa Ramadhan (Daurah Ramadhan)

Syarah Hadits Arba’in (4) Memahami TakdirNya

Syarah Hadits Arbain Ke (2) Hadits Jibril

Sahabat Muslim

Thariq Aziz al Ahwadzy, seorang kelahiran kota Bekasi pada 21 Juli 2000, penuntut ilmu dan CEO Menjadi Muslim yaitu Platfrom untuk belajar bersama menjadi seorang muslim seutuhnya. Belajar dan belajar itulah jalan hidupnya

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. Januari 12, 2022

    […] Kita telah membahas sebagian sifat-sifat ini pada artikel sebelumnya Sifat – Sifat Terpuji Hamba Pilihan ar Rahman (Part 1)  […]

  2. Mei 11, 2022

    […] telah membahas sebagian sifat-sifat ini pada artikel sebelumnya Sifat – Sifat Terpuji Hamba Pilihan ar Rahman (Part 1)  dan Sifat – Sifat Terpuji Hamba Pilihan ar Rahman (Part […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: