Beranda / Syarah Hadits / Syarah Hadits Arbain Ke 3 Rukun Islam yang Lima

Syarah Hadits Arbain Ke 3 Rukun Islam yang Lima

Reading Time: 14 minutes

Syarah Hadits Arbain Ke 3 Rukun Islam yang Lima

Disarikan dari Syarah al Arba’in an Nawawiyah Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin


Bismillahi wal hamdulillah, wasshalaatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man waalah, amma ba’du,

Setiap sesuatu pasti ada dasar yang membangunnya, pasti memiliki rukun penopangnya, yang jika hilang salah satu dari keduanya, maka rusaklah sesuatu tersebut

Begitu juga islam, agama yang haq dan hanif ini, agamanya para nabi dan rasul, tanpa ada perselisihan dari satu nabi ke nabi yang lain, semuanya sama dibangun atas asas dan tujuan yang sama, yaitu asas penyembahan hanya kepada Allah semata tiada sekutu bagiNya, yang disebut sebagai “islam”, dan rukun islam itu sendiri ada 5, yang akan kami bahas di dalam tulisan ini

Matan Hadits Ketiga

Rukun Islam yang Lima

Syarah Hadits Arbain ke 9 (Kewajiban Sesuai Kemampuan)

 

 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ : ‏ بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ ‏

Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata: Aku mendengar nabi ﷺ bersabda :

“Dibangun islam atas lima pondasi, yaitu Syahadat Laa ilaaha illallah wa Asyhadu anna muhammad rasulullah, dan mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan berhaji di ka’bah, serta berpuasa ramadhan”

HR. Imam Bukhari 8 dan Imam Muslim 16

Takhrij Hadits

Syarah Hadits Arbain ke 8 (Kemuliaan Seorang Muslim)

Sumber

Hadits ini diriwayatkan Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardizbah al Bukhari rahimahullah (194-256H) dalam shahihnya Kitab al Iman Bab Du’aau kum iimaanu kum  nomor hadits 8

dan diriwayatkan pula oleh Imam Muslim bin Hajjaj bin Muslim al Qusyairi an Naisaburi rahimahullahu ta’ala (204-261H) dalam shahihnya Kitab al Iman Bab Bayaan arkaanil islam wa da’aa imihil ‘idzham nomor hadits 16

Sekilas Profil Periwayat Hadits

Sumber

Syarah Hadits Arbain ke 7 Agama adalah Nasihat

Abu Abdirrahmaan Abdullah bin Umar bin Al khattab bin Nufail al Qurasy al Azdi radhiyallahu ‘anhuma adalah sahabat Rasulullah ﷺ yang mulia, lahir di bumi makkah pada tahun 612 Masehi, 10 tahun sebelum hijrah, beliau masuk islam bersama ayahnya Umar bin al Khattab radhiyallahu ‘anhu sedang umurnya belum genap 10 tahun

Beliau adalah sahabat yang cerdas dan wara’, termasuk dari fuqahaa’ madinah`, mufti dan  muhaddits besar, beliau dari kecil ingin sekali mengikuti peperangan bersama rasulullah ﷺ dari mulai perang badar, uhud dan perang-perang kecil lain, beliau selalu ditolak untuk terjun oleh Rasulullah ﷺ karena umurnya yang masih belia, sampai akhirnya beliau boleh terjun ke medan perang saat umur beliau genap lima belas tahun

Beliau termasuk periwayat hadits nabi yang banyak, hingga mencapai 2630 Hadits, beliau adalah muslim yang wara’, beliau terus berkhidmah untuk ummat, beliau terjun ke medan dakwah maupun medan perang untuk menegakkan kalimatullah dimuka bumi ini. Beliau ikut berbagai penaklukan setelah wafatnya rasulullah ﷺ dimasa pemerintahan ayahnya Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Sampai tiba saatnya khalifah berganti, dan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu memimpin, banyak fitnah yang mulai mencuat, khalifah Utsman meminta agar Abdullah bin Umar menjadi Qadhi (Hakim tertinggi) namun beliau menolak karena takut salah mengambil keputusan dan mendzhalimi darah seorang muslim, hingga fitnah pun membesar, beliau termasuk dari pasukan yang menjaga khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu di hari pengepungan rumah beliau, hingga akhirnya khalifah ‘Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu terbunuh, semoga Allah ﷻ meridhainya dan menjadikan tempat kembalinya sebaik-baik tempat kembali

Beliau selalu menolak setiap tawaran untuk menjadi khalifah, bahkan saat manusia melihat bahaya yang besar terhadap persatuan ummat, mereka meminta agar Abdullah mau pergi ke syam dan dibaiat menjadi khalifah disana, namun beliau tetap menolak, karena beliau menjadikan nomor satu kehormatan darah seorang muslim. Selama Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berperang dalam perseteruannya dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu tidak pernah ikut terjun, baginya menjaga darah seorang muslim adalah perkara nomor satu. Beliau selalu taat kepada siapa saja yang menjadi khalifah atau amir di madinah, beliau selalu shalat dibelakang para amir yang telah ditetapkan, kecuali dibelakang al Hajjaj bin Yusuf, karena al Hajjaj suka mengakhirkan shalat

Beliau adalah salah satu dari fuqahaa’ madinah, yang banyak para tabi’in berguru padanya, tentang hadits-hadits nabi dan perkara-perkara agama lainnya, hingga beliau wafat radhiyallahu ‘anhu dikota Suci Makkah pada tahun 73 Hijriah, dikuburkan di makam Muhaajirin disamping lembah Dzi Thuwa, semoga Allah meridhainya dan kita sungguh menghormatinya

Syarah dan Faidah Hadits

Sumber

Islam bermakna Berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkanNya dan tunduk padaNya dengan keta’atan dan berlepas diri dari kemusyrikan dan pelakunya[1]

Hadits ini mencakup rukun islam yang lima,Rukun Islam yang disebutkan dalam hadits ini ada 5

• Dua kalimat syahadat
• Mendirikan Shalat
• Menunaikan Zakat
• Berpuasa Ramadhan
• Berhaji ke baitullah al haram

  1.  Dua kalimat syahadat (أَشهَدُ أَن لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ أَشهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُولُ اللهِ), dua kalimat syahadat adalah rukun pertama keislaman seseorang, dengannya seseorang bisa menjadi muslim yang haram darah dan hartanya serta kehormatannya.

Namun kalimat syahadat bukanlah kalimat biasa yang diucapkan seseorang tanpa sebuah konsekuensi dan tanggung jawab, namun kalimat yang harus disertakan dengan konsekuensi yang mengikutinya.

Konsekuensi kalimat laa ilaaha illallah

  • MengesakanNya dalam hal Rububiyyah (penciptaan dan kerajaanNya)

Kita sebagai seorang hamba yang tunduk dan diciptakan olehNya Rabb semesta Alam, Rabb yang tiada yang membantunya dalam menciptakan, Rabb yang berdiri sendiri, tak butuh siapapun dan apapun, Rabb yang tunggal dilangit maupun dibumi

Kita meyakini hal ini karena tidaklah akal yang sehat menolaknya, adalah hal yang tak dapat dipungkiri bahwasannya Allah lah sang pencipta dan pengatur alam semesta ini, siapapun yang memiliki akal sehat maka tidak akan mengingkari bahwa segala hal yang sempurna keteraturannya ini, tiada kesalahan maupun keganjilan didalamnya tercipta dan ada begitu saja, tanpa ada yang mencipta dan mengaturnya, sebuah alam semesta yang kompleks dan amat teramat luas berjalan tanpa ada hambat dan kegagalan, berjalan begitu saja tanpa ada yang memberikan konfigurasi padanya?

Hanya Allah lah yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya sendiri tanpa lelah dan tanpa dibantu, sebagaimana firmanNya

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dia (Allah) lah yang menciptakan untuk kalian apa yang ada dibumi semuanya kemudian Dia beristiwa’[ii] di langit lalu Dia sempurnakan tujuh lapis langit itu dan Dia mengetahui segala sesuatu”

Qs. Al Baqoroh 29

اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَلَمْ يَعْيَ بِخَلْقِهِنَّ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يُّحْيِ َۧ الْمَوْتٰى ۗبَلٰٓى اِنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan bumi dan Dia tidak merasa payah karena menciptakannya, dan Dia kuasa menghidupkan yang mati? Begitulah; sungguh, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu”

Qs. Al Ahzab 33

Dan firmanNya dalam surat lain bahwasannya Dialah pengatur alam semesta ini dalam perkara apapun,

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti”

Qs. Al Baqoroh 164

Dan masih banyak lagi dalil-dalil dari alqur’an tentang hal tersebut, tinggal siapa saja yang mau berfikir dan merenunginya

  • MengesakanNya dalam hal Uluhiyyah (peribadahan)

Kita sebagai seorang Muslim yang benar dan baik, berserah diri kepadaNya dengan penuh penghambaan dan ketundukan, maka kita harus menjadi hamba yang tunduk dan patuh, kita harus esakan Dia dalam peribadahan kita kepadaNya tidak untuk selainNya

Hal ini disebut oleh para Ulama sebagai Tauhid Uluhiyyah
Allah ﷻ berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah padaKu”

Qs. Adz Zaariyaat 56

Allah ﷻ juga berfirman :

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۙ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَاۤىِٕمًاۢ بِالْقِسْطِۗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Maha-bijaksana”

Qs. Ali ‘Imran 18

Dan dari sebuah hadits shahih yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah ﷺ berkata padanya saat Mu’adz di bonceng beliau ﷺ diatas keledai,
Beliau ﷺ bersabda

“Wahai Mu’adz tahukah engkau apa hak Allah atas hambaNya dan hak hambaNya atas Allah?” Aku (Mu’adz) berkata Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui Beliau ﷺ bersabda “Hak Allah atas hambaNya yaitu mereka sembah Allah tanpa menyekutukanNya dengan suatu apapun, dan hak hamba atas Allah yaitu Allah tidak akan mengadzabnya jika hambaNya tidak menyekutukanNya dan beribadah hanya kepadaNya semata” lantas aku berkata “Wahai Rasulullah bolehkah aku kabarkan kepada manusia?” beliau ﷺ menjawab “Jangan (aku khawatir) mereka bersandar (hanya mengandalkan tauhid tanpa memperhatikan amalannya)”[3]

Dan konsekuensi lain juga ada di ayat al Qur’an

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh telah kami utus kepada setiap ummat seorang Rasul, agar beribadah kepada Allah dan menjauhi Thagut”

Qs. An Nahl 36

Dan dalam ayat lain disebutkan pula

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan beribadahlah kepada Allah dan jangan sekali-kali kalian sekutukan Dia dengan sesuatu apapun serta berbuat baiklah kalian terhadap kedua orang tua”

Qs. An Nisaa 36

Dalam firmanNya ﷻ disebutkan pula

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mensekutukanNya dan mengampuni dosa selain itu bagi mereka yang Allah kehendaki barangsiapa yang mensekutukan Allah sungguh dia telah berbuat dosa yang amat besar”

Qs. An Nisaa 48

Mentauhidkan[4] Allah tidak hanya dalam hal penciptaan dan peribadahan kepadaNya saja, namun juga keyakinan kita bahwa Allah ﷻ mempunyai nama-nama yang suci nan mulia, serta sifat-sifat yang Agung yang sesuai dengan kemuliaannya

  • Mengesakan Allah dalam Asma’ dan Shifatnya

Menjadikan Allah ﷻ zat yang tunggal pemilik segala kemuliaan pemilik segala pujian, yang tak ada cela sedikitpun padaNya, nama-namaNya adalah nama-nama yang sempurna tanpa ada kurang padaNya

Allah ﷻ berfirman

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ – (١)اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ – (٢)الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ – (٣)مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ – (٤)

“Dengan menyebut nama Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang (1) Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam (2) Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (3) Maha Merajai hari pembalasan (4)”

Qs. Al Fatihah 1-4

Dan Allah ﷻ juga berfirman

وَلِلّٰهِ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى فَادْعُوْهُ بِهَاۖ وَذَرُوا الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْٓ اَسْمَاۤىِٕهٖۗ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۖ – ١٨٠

“Dan Allah memiliki Asma’ul-husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya Asma’ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”

Qs. Al A’raf 180

Dia lah pemilik nama dan sifat yang banyak yang mulia yang Dia tetapkan baik didalam kitabNya maupun kalam nabiNya

Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah doa yang beliau ajarkan

اللهمَّ إني عبدُك ، و ابنُ عبدِك ، و ابنُ أَمَتِك ، ناصيتي بيدِك ، ماضٍ فيَّ حكمُك ، عدلٌ فيَّ قضاؤُك ، أسألُك بكلِّ اسمٍ هو لك سميتَ به نفسَك ، أو علَّمتَه أحدًا من خلقِك ، أو أنزلتَه في كتابِك ، أو استأثرتَ به في علمِ الغيبِ عندَك ، أن تجعلَ القرآنَ ربيعَ قلبي ، و نورَ صدري ، و جلاءَ حزني ، و ذَهابَ همِّي

“Ya Allah aku adalah hambaMu, anak dari hambaMu yang laki-laki, dan anak hambaMu yang perempuan, ubun-ubunku ditanganMu, keputusanMu berlaku padaku, qadhaMu adil untukku, aku meminta kepadaMu dengan dengan setiap nama yang baik milikMu, Engkau namakan DiriMu dengannya, atau yang Engkau Turunkan dalam kitabMu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah Seorang hambaMu, atau yang Engkau sembunyikan di dalam ilmu ghaib disisiMu, (aku memohon) agar Engkau jadikan al Qur’an penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku, penghapus gundahku”

HR. Ahmad 3712 Hadits Shahih

Dari doa diatas, ada beberapa kata yang saya cetak tebal, yang menjadi syahid dari pembahasan kita sekarang, yaitu nama-nama Allah yang banyak, nama-nama yang Allah tetapkan sendiri, Allah tetapkan melalui kitabNya, melalui lisan rasulNya, dan nama-nama lainNya yang hanya Dia yang mengetahuinya

Kita wajib mengimani nama dan sifatNya semuanya tanpa perlu ditakwil, dikurangi, apalagi ditolak karena tidak ada dalil dalam takwil dari nama-nama dan sifat-sifatNya

Namun kita imani dan jangan kita samakan nama dan sifatNya dengan nama dan sifat makhluq, karena Allah ﷻ berfirman

فَاطِرُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا وَّمِنَ الْاَنْعَامِ اَزْوَاجًاۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ – ١١

“(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat”

Qs. As Syuuraa 11

Jadi konsekuensi dari kalimat laa ilaaha illallah adalah Mengesakan Allah dalam peribadahan dan Penciptaan serta segala perbuatan ketuhananNya serta segala pujian dan nama yang mulia hanya milikNya

Konsekuensi syahadat Muhammad Rasulullah

Dalil dari alqur’an tentang syahadat Muhammad bin Abdullah bin Abdulmuthalib al Qurasy adalah seorang nabi dan rasul yang kita harus mengakuinya dan mengikutinya ada banyak, diantaranya

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman”

Qs. At Taubah 128

Dalam ayat lain Allah ﷻ juga menyebutkan

قُلْ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ جَمِيْعًا ۨالَّذِيْ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۖ فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ النَّبِيِّ الْاُمِّيِّ الَّذِيْ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَكَلِمٰتِهٖ وَاتَّبِعُوْهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ قُلْ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ جَمِيْعًا ۨالَّذِيْ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۖ فَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهِ النَّبِيِّ الْاُمِّيِّ الَّذِيْ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَكَلِمٰتِهٖ وَاتَّبِعُوْهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk”

Qs. Al A’raaf 158

Dan juga syarat kita menjadi seorang muslim adalah mentaati beliau ﷺ sebagaimana firmanNya

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا

“Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka”

Qs. An Nisaa’ 80

Dan yang harus kita lakukan untuk mentaati beliau adalah sebagaimana yang Syaikh Muhammad at Tamimi rahimahullahu ta’ala berkata dalam risalahnya

“Mentaatinya atas apa yang diperintahkan, membenarkannya atas apa yang beliau kabarkan, menjauhi apa yang beliau larang dan kecam, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali sesuai dengan apa yang disyariatkan”

  • Kita mentaati beliau ﷺ atas apa yang datang dari perintah beliau, tanpa mempertanyakan apalagi menolak atau membenci

Sebagaimana firman Allah ﷻ dalam kitabNya

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”

Qs. An Nisaa’ 59

Dan firmanNya yang telah saya paparkan diatas

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا

“Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka”

Qs. An Nisaa’ 80

  • Kita membenarkan apa yang datang dari beliau baik dari kabar yang sudah maupun yang belum terjadi, baik di dunia ini atau apa yang datang setelahnya
  • Kita menjauhi apa yang beliau larang dari perbuatan-perbuatan maupun perkataan hingga keyakinan yang tidak beliau ridhai
  • Kita tidak melakukan perkara ibadah apapun baik wajib maupun sunnah kecuali apa yang beliau tuntunkan

Empat hal diatas adalah syarat dan kosekuensi yang harus kita lakukan jika kita benar-benar bersyahadat bahwasanya beliau adalah utusan Allah ﷻ yang menjadi panutan kita di dunia maupun di akhirat

  1.  Shalat

Shalat adalah Beribadah kepada Allah dengan bacaan dan gerakan khusus (yang dituntunkan-pen) dibuka dengan takbir dan diakhiri dengan salam disertai niat dengan syarat-syarat khusus[5]

Allah ﷺ juga menegaskan tentang hukum shalat ini dalam firmanNya

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Dan jika kalian sudah menyelesaikan shalat, maka berdzikirlah kepada Allah berdiri maupun duduk dan dalam keadaan berbaring, dan jika kalian telah merasa tenang maka dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan (waktunya) bagi orang-orang yang beriman”

Qs. An Nisaa’ 103

  1.  Zakat yang wajib dilaksanakan bagi mereka yang memilik harta lebih dari harta yang wajib dizakati, seperti emas, perak, uang, hasil panen, dan sebagainya, dikeluarkan dengan ketentuan yang telah syariat tetapkan[6]

Allah ﷻ juga berfirman tentang zakat dalam banyak ayat di dalam kitabNya, diantaranya

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)”

Qs. Al Bayyinah 5

  1.  Berhaji ke baitullah al-haram yang mana ini adalah rukun islam yang keempat yang disebut dalam hadits ini, yang mana biasanya rukun haji setelah rukun puasa namun ini tidaklah bermasalah, menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullahu ta’ala dalam syarah beliau terhadap hadits ini adalah, “Ini adalah mendahulukan secara kata namun tidak secara makna”

Amalan yang dilakukan jika kita mampu melakukannya, hal ini yaitu mampu juga berlaku untuk amalan shalih lain, diantara syaratnya adalah ‘mampu’ sebagaimana firman Allah ﷻ dalam surat at Taghabun ayat 16, namun dikhususkan penyebutannya dalam haji dalam konteks ini, karena Allah ﷻ mengetahui akan banyaknya ummat manusia yang mengalami kesulitan akan menunaikan amalan ini karena beberapa sebab yang telah kita ketahui bersama [7]. Allah ﷻ juga berfirman dalam kitabNya

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Dan kewajiban bagi manusia untukNya adalah berhaji ke al-baitu (Ka’bah) bagi mereka yang mampu melaksanakannya, dan barangsiapa yang kafir (mengingkarinya) maka sesungguhnya Allah maha kaya dari semesta ini”

Qs. Ali Imran 97

  1. Puasa Ramadhan amalan wajib yang sudah sangat familiar dengan kita, namun sangat disayangkan sebagian dari kaum muslimin yang sudah mulai meninggalkannya, banyak yang sudah menganggap remeh perkara puasa ini, padahal Allah ﷻ yang mewajibkannya dalam firmanNya

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa (ramadhan) sebagaimana orang-orang sebelum kalian juga diwajbkan untuk berpuasa agar kalian bertakwa”

Qs. Al Baqoroh 183

Dan sungguh termasuk dosa besar bagi mereka yang berbuka sebelum waktunya, yaitu yang mereka berbuka (tidak berpuasa) pada saat orang-orang berpuasa, mereka berbuka sebelum saatnya datang (hari raya idul fitri), mereka melalaikan puasa ramadhan, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ

بينا أنا نائم إذ أتاني رجلان فأخذا بضبعي فأتيا بي جبلا وعرا فقالا لي : اصعد فقلت : ” إني لا أطيقه ” ، فقالا : إنا سنسهله لك فصعدت حتى إذا كنت في سواء الجبل إذا أنا بأصوات شديدة فقلت : ” ما هذه الأصوات ؟ ” قالوا : هذا عوى أهل النار ، ثم انطلق بي فإذا أنا بقوم معلقين بعراقيبهم مشققة أشداقهم تسيل أشداقهم دما قال : قلت : ” من هؤلاء ؟ ” قال : هؤلاء الذين يفطرون قبل تحلة صومهم “

“Tatkala aku tidur, datanglah kepadaku dua orang lelaki kemudian keduanya membawaku untuk mendaki sebuah gunung, aku katakan pada mereka ‘aku tidak mampu’ mereka menjawab ‘akan kami mudahkan untuk kamu’ maka akupun mulai naik, sampai aku berada diatas gunung aku dikejutkan dengan suara yang keras, maka aku bertanya ‘suara apa ini?’ mereka menjawab ‘ ini suara teriakan penghuni neraka’ kemudian keduanya beranjak lagi bersamaku, hingga kami melewati kaum yang tergantung dengan urat kakinya (diatas) sedang rahang-rahang mereka pecah mengalirkan darah. Lantas aku bertanya ‘siapa mereka?’ dia menjawab (salah seorang dari keduanya) ‘mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum halal bagi mereka’”

HR. An Nasaa’i 246, Ibnu Hibban 536, Ibnu Khuzaimah 137, hadits shahih sesuai syarat Muslim

Wasshallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin

Thariq Aziz Alahwadzy

18 November 2019 M/ 19 Rabi’ul Awwal 1441 H

Ma’had Tarbiyah Insan Bekasi

Daftar Pustaka

  1. Al Qur’an al Karim
  2. Kitab Syarah Arba’in an-Nawawi karangan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah cetakan daar tsaarayaa 2004
  3. Kitab Syarah al-Arba’in hadiitsan an-Nawawiyah karangan Ibnu Daqiq al-I’ed rahimahullah cetakan Maktabah fayshaliyah
  4. Kutub Hadits al Aaly
  5. Web 1
  6. Web 2

Footnote

[1] Risalah al Ushul tsalaatsah Syaikh Muhammad at Tamimi rahimahullahu ta’ala, Ashl 2

[ii] Istiwa’ adalah bersemayamnya Allah dilangit, Menurut Imam Jalaluddin as Syuyuthi rahimahullah dalam kitab tafsirnya saat menafsirkan ayat ini “istiwa’ adalah Menuju” dan dalam tafsir beliau dalam surat Al a’raf 54 “Singgahsana kerajaan (Allah) yang sesuai dengan keagungannya” (lihat kitab Tafsir Jalaalain, pustaka Waqfeya hal. 157), Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya juga menambahkan “Istiwa’ adalah perkara yang banyak diperselisihkan, namun pendapat yang lebih kuat adalah pendapat para salafusshalih, diantaranya Imam Malik, Imam al A’uza’i, Imam al Laits bin sa’ad, Imam Attsauri, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ishaq bin Rahawaih rahimahumullah dan selain mereka yaitu ‘Bersemayamnya Allah dengan semayam yang sesuai dengan keagunganNya, tanpa diserupakan dengan makhluqNya, tanpa direka, tanpa dita’wil, tanpa Ditolak (Lihat kitab Tafsir al Qur’an al ‘adzim, cet. Daar Thayyibah hal. 427)

[3] Hadits Riwayat Bukhari 2856, Muslim 30, Ahmad 21991

[4] Mengesakan Allah dalam peribadahan, penciptaan dan semua asma’ dan sifatNya

[5] Kitab Shahih fiqh sunnah Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid as Saalim, cet. Maktabah Attaufiqiyyah, dalam Kitab Shalat hal. 220

[6] Secara singkat zakat wajib bagi seorang Muslim, ‘Aqil, Baligh, Merdeka. Hartanya harus mencapai nishab tertentu dan juga harus miliknya sendiri serta disalurkan kepada 8 golongan sebagaimana yang disebutkan dalam surat at Taubah ayat 60, yaitu,

Faqir (Papa), Miskin (Kekurangan harta), ‘Amil Zakat (pengurus zakat yang ditunjuk oleh pemerintah resmi), Muallaf (Orang yang baru masuk islam), Riqab (Bermakna sangat banyak, Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid rahimahullah dalam tulisan beliau di islamqa.info menjabarkan beberapa perkataan ulama tentang Riqab, 1. Seorang Budak Muslim yang memerdekakan dirinya dari majikannya dengan membayar jumlah tertentu maka harta zakat bisa menanggung biaya tersebut, 2. Seorang Budak Muslim yang hendak dibebaskan dengan membayar jumlah tertentu maka harta zakat bisa menanggung biaya tersebut, 3. Seorang Muslim yang ditawan dalam peperangan atau karena diculik dan dibebaskan dengan membayar jumlah tertentu maka zakat bisa menanggungnya), Gharim (orang yang berhutang, yaitu dibagi menjadi tiga sebagaimana yang dinukil dari tulisan Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid rahimahullah, 1. Berhutang untuk mashlahat ummat, 2. Berhutang untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, 3. Berhutang karena Mubaddzir tidak dapat memanfaatkan uang sebagaimana mestinya, dari ketiga kelompok tadi, yang berhak menerima zakat adalah kelompok 1 dan 2, dan yang ketiga maka tidak berhak menerima zakat), Fi Sabilillah (Orang yang berjihad dijalan Allah berperang untuk menegakkan KalimatNya serta orang yang fokus untuk menuntut ilmu syar’i dan tidak selain keduanya), Ibnu Sabil (Seorang Musafir yang kehabisan bekal/ uang untuk kembali)

[7] Kitab syarah al arba’in an nawawiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, Hal.41

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *