Mustholahul Hadits
Beranda / Tematik / Mustholahul Hadits – Pengertian dan Pengenalan

Mustholahul Hadits – Pengertian dan Pengenalan

Reading Time: 5 minutes

Mustholahul Hadits – Pengertian dan Pengenalan

Pengenalan tentang istilah-istilah dalam ilmu hadits nabawi secara ringkas dan lengkap biidznillah


Bismillahi wal hamdulillah, wasshalaatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man waalah, amma ba’du

Setiap cabang ilmu memiliki istilah dan terma masing-masing, mustholah dari bahasa arab jika ditranslasikan ke bahasa indonesia menjadi istilah atau terma dari suatu disiplin ilmu atau perspektif tertentu. Kita mengenal banyak istilah dari berbagai macam disiplin ilmu, seperti kita mendengar kata geosentris dan heliosentris dari ilmu sains astronomi, mengenal kata seismik dalam ilmu geologi, mengenal kata neraca dalam ilmu ekonomi, mengenal kata variabel dan konstanta dalam ilmu matematika dan lainnya, yang mana kata-kata yang tadi disebut sebagai istilah dari setiap disiplin ilmu dengan makna tersendiri yang diterjemahkan oleh para pakar di bidangnya. Begitupun disiplin ilmu hadits yang fokusnya adalah menjaga kemurnian hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta atsaar para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum ajma’iin.

Ada banyak istilah dalam disiplin ilmu hadits ini, di antara yang lazim kita dengar seperti hadits shahih, hadits dha’if, riwayat, sanad, matan dan lainnya. Ternyata masih ada banyak istilah dalam disiplin ilmu ini yang in syaa Allah akan kita bahas secara ringkas istilah-istilah tersebut dari yang paling umum kita temui hingga yang lebih mendetail

Apa Itu Ilmu Mushtolah Hadits dan Apa Urgensinya?

Kita mulai dari mengenal apa itu ilmu mustholah hadits, disarikan dari kitab fathul mughits (1/22) dan kitab tadrib ar-rawi (1/26) pengertian dari ilmu mustholah hadits ialah

Menjaga Ilmu dari Hal yang Menghinakannya – Ringkasan Syarah Ta’dzhimul Ilmi

معرفة القواعد التي يتوصل بها إلى معرفة حال الراوي والمروي

“Memahami kaidah-kaidah yang dengannya dapat membantu kita memahami keadaan periwayat dan yang dia riwayatkan”

Dari pengertian ini kita dapat mengerti, bahwa mempelajari ilmu mustholah hadits tidak hanya berarti mengetahui istilah-istilah dalam disiplin ilmu hadits, namun kita dapat dengan mudah memahami bagaimana hadits itu diriwayatkan dan bagaimana periwayat hadits tersebut meriwayatkannya. Kita juga dapat mengambil kesimpulan diantara urgensi mengapa seorang muslim terlebih seorang penuntut ilmu syari harus mempelajarinya, berikut diantaranya

  1. Menguatkan keyakinan bahwa hadits-hadits yang ada itu benar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang masih terjaga kemurniannya hingga saat ini
  2. Memahami perkataan para imam dan ulama dalam hadits dengan baik dan benar
  3. Dapat memverifikasi atas kebenaran suatu hukum yang ditetapkan oleh para ulama hadits terhadap hadits-hadits yang ada

Istilah Umum Dalam Ilmu Hadits

  1. Sunnah

Secara bahasa bermakna “jalan dan sejarah” baik itu terpuji maupun tercela, secara makna dalam ilmu hadits yaitu

كلّ ما أضيف إلى النبي صلى الله عليه وسلّم من قول أو فعل أو تقرير أو صفة خَلقِية أو خُلُقية

Lingkup Pembahasan Ilmu Aqidah (Muqaddimah Ilmu Aqidah 2)

“Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam baik itu perkataan, perbuatan, penetapan, sifat fisik maupun akhlaknya beliau”

Disarikan dari kitab fathul mughits (22, 26), syarah an nukhbah (153), dan al wasith fi ulum wa mushtholah al hadits (16)

Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sunnah nabi itu tidak hanya terbatas dari sabdanya beliau, namun ada sunnah qouliyyah yang berarti sabda beliau secara verbal yang dapat kita amalkan, ada juga sunnah fi’liyyah  yang bermakna perbuatan beliau yang dapat kita tiru, ada juga sunnah taqriiriyyah yang berarti legtimasi maupun  dari sebuah perbuatan atau perkataan yang terjadi atau diucapkan di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau mengetahuinya namun membenarkan atau tidak mengingkarinya, ada juga sunnah sifat khalqiyyah yaitu tentang ciri fisik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta ada pula sikap atau sifat beliau yang tergambarkan oleh hadits yang disebut sunnah sifat khuluqiyyah.

  1. Hadits

Hadits secara bahasa adalah akronim dari “lawas” bermakna baru. Namun secara istilah ilmu hadits adalah sinonim dari makna “sunnah” yang mencakup setiap hal yang disandarkan kepada nabi shallallahu ‘alaihi wasallam baik dalam bentuk perkataan, perbuatan, penetapan, atau sifat fisik dan akhlak beliau sebagaimana disebutkan dalam kitab nuzhat an nadzhor (41), an nukat al wafiyyah (1/59), dan kitab taudih al abhar (29) serta beberapa kitab lainnya

Ada juga yang mengatakan bahwa makna hadits lebih umum daripada menjadi sinonim dari sunnah itu sendiri, yang mencakup setiap apa yang disandarkan kepada nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada para sahabatnya dan para tabi’iin sebagaimana disebutkan dalam kitab nuzhat an nadzhor (41), tadrib ar rawi (1/29), syarh syarh an nukhbah (156), dan kitab taujih an nadzhor (1/40)

Pengertian Aqidah dan Ilmu Aqidah (Muqaddimah Ilmu Aqidah 1)

Kedua makna dari hadits di atas digunakan oleh para ahli hadits, akan tetapi sebagian ulama hadits kontemporer lebih memfokuskan penggunaan kata hadits hanya untuk sesuatu yang disandarkan kepada nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saja, adapun yang disandarkan kepada para sahabat dan tabi’in lebih sering disebut atsaar, namun jika kata hadits hendak disandarkan ke pada sahabat maka para ulama akan menggunakan kalimat hadits mauquf  dan jika kata hadits disandarkan kepada tabi’in maka para ulama akan menggunakan kalimat hadits maqtu’.

  1. Al Khabar

Secara bahasa bermakna “kabar” atau “berita”, adapun secara istilah ilmu hadits al khabar dimaknai sebagai sesuatu yang lebih luas yaitu “setiap hal yang diriwayatkan, baik itu disandarkan kepada nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, atau kepada selain beliau” sebagaimana disebutkan dalam kitab nuzhat an nadzhor (41) dan tadrib ar rawi (1/29).

Namun ada beberapa perbedaan pendapat ulama dalam menggunakan istilah ini, ada yang mengatakan bahwa al khabar khusus untuk apa yang disandarkan kepada nabi saja ada pula yang berkata bahwa al khabar khusus untuk apa yang disandarkan kepada selain beliau saja sebagaimana disebutkan dalam kitab an nukat li zarkasyi (1/417) dan nuzhat an nadzhor (41)

Kedua pengertian tersebut umum digunakan di kalangan ulama hadits, akan tetapi makna pertama lebih terkenal di kalangan ulama terdahulu sedangkan makna kedua lebih terkenal di kalangan ulama kontemporer

Baca Juga : Ancaman Bagi Mereka yang Berkata Tanpa Ilmu

  1. Al Atsar

Secara bahasa bermakna “jejak” atau “tanda” dari sesuatu atau seseorang. Sedangkan secara istilah ilmu hadits bermakna “sesuatu yang umum mencakup semua yang diriwayatkan baik itu disandarkan kepada nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maupun disandarkan kepada selain beliau” sebagaimana disebutkan dalam kitab at taqrib wa at taysiir (33), ada juga makna yang mengatakan bahwa “atsar hanya khusus pada riwayat yang dinisbatkan kepada para sahabat dan tabi’in saja” sebagaimana disebutkan dalam kitab muqaddimah Ibnu Shalaah (46).

Makna yang pertama lebih masyhur dikalangan ulama hadits, akan tetapi makna yang kedua lebih sering digunakan oleh para ulama kontemporer.

  1. Sanad

Sanad atau Isnad secara bahasa bermakna “sesuatu yang naik dan tinggi”. Sedangkan secara istilah ilmu hadits memiliki pengertian yang masyhur sebagai

الطريق الموصلة إلى المتن

“Jalan yang mengantarkan kepada matan”

Kitab al Khulashoh at Thoybiy (28), Nuzhat an Nadzhor (106)

Jalan yang mengantarkan kita kepada sebuah matan suatu hadits atau khobar terdiri dari 2 unsur, yaitu silsilah urutan periwayat dan cara meriwayatkan perawi dari perawi biasanya disebut shigah seperti “حدّثنا” atau “أخبرنا” atau “عن” dan semisalnya yang menunjukan bagaimana hadits tersebut disampaikan dari satu orang periwayat ke periwayat lainnya

Baca Juga : Cara Terbaik Memuliakan Ilmu & Ringkasan Syarah Ta’dzhimul Ilmi (Bag. Pertama)

  1. Matan

Matan secara bahasa bermakna “tujuan” dari kata al mumaatanah. Adapun secara istilah ilmu hadits disebut dengan

غاية ما ينتهي إليه السند من الكلام

“Tujuan akhir sanad dari suatu kabar”

Kitab al Manhal ar Rawiy (29), dan Tadrib ar Raawi (1/28)

Agar mempermudah memahami apa itu matan dan sanad, mari kita lihat hadits berikut ini

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ: أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيُّ: أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ: سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ -رضي الله عنه- عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ:

(Sampai sini disebut sanad, adapun setelahnya adalah lafadzh dari hadits itu sendiri yang disebut sebagai matan)

(إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ).

  1. Musnid

Musnid adalah orang yang meriwayatkan hadits dengan sanadnya, baik dia memahami hadits atau khabar yang dia riwayatkan ataupun hanya meriwayatkannya saja, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab tadrib ar raawi (1/29-30)

  1. Al Muhaddits

Al Muhaddits adalah orang yang berkecimpung secara serius di ilmu hadits baik secara riwayat (ilmu hadits yang membahas sanad dan lafadz hadits serta maknanya) maupun dirayat (ilmu hadits yang membahas tentang kaidah-kaidah terkait sanad dan matan dalam tinjauan diterima atau ditolaknya suatu hadits)

  1. Al Hafidz

Al Hafidz adalah gelar besar bagi seorang ahli hadits atau muhaddits, seorang pakar yang memahami thobaqaat ruwaat dan maraatibnya, memahami jarh wa ta’dil, memahami cara membedakan hadits shahih dan dhaif, dan sudah sangat berpengalaman di bidang hadits

Saat ini kita sudah mengenal 9 istilah dalam ilmu hadits secara umum, sebenarnya masih banyak lagi, namun akan kita bahas secara lengkap in syaa Allah dalam tulisan-tulisan berikutnya, semoga dengan sedikit banyak mengenal istilah-istilah dalam ilmu hadits, kita bisa semakin banyak dan mudah mengambil faidah dari tulisan dan karya para ulama islam baik yang terdahulu maupun kontemporer saat ini.

Terimakasih telah membaca hingga point ini, semoga apa yang kita pelajari bisa menjadi manfaat untuk penulis dan pembaca serta kaum muslimin lainnya, baarakallahu fiikum

Washallallahu ‘alaa nabiyyinaa muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam


Thariq Aziz al Ahwadzy

Abha, 29 Rabi’ul Akhir 1447H / 21 Oktober 2025

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *