Wasiat Imam As Syafii
Beranda / Tematik / Wasiat Imam As Syafi’i

Wasiat Imam As Syafi’i

Reading Time: 7 minutes

Wasiat Imam As Syafi’i

Disarikan dari

Qasidah Syair Imam Syafi’i rahimahullahu ta’ala


Bismillahi wal hamdulillah, wasshalaatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man waalah, amma ba’du

Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i rahimahullah berkata :

أَخي لَن تَنالَ العِلمَ إِلّا بِسِت

Saudaraku, tak akan kau raih ilmu tanpa enam perkara

Mustholahul Hadits – Pengertian dan Pengenalan

سَأُنبيكَ عَن تَفصيلِها بِبَيانِ

Akan ku jelaskan padamu perinciannya secara gamblang

ذَكاءٌ وَحِرصٌ وَاِجتِهادٌ وَبُلغَةٌ

Kecerdasan, Semangat, Kesungguhan, Modal

وَصُحبَةُ أُستاذٍ وَطولُ زَمانِ

Bimbingan seorang guru, dan Waktu yang panjang

Menuntut Ilmu adalah hal yang penting dan wajib bagi setiap Muslim, dengan Ilmu manusia dapat bertindak rasional dan membedakan kita sebagai manusia dengan hewan yang bertindak secara insting saja.

Dengan ilmu manusia menjadi lebih Mulia dan dengan ilmu peradaban menjadi sebuah kenyataan.

Menjaga Ilmu dari Hal yang Menghinakannya – Ringkasan Syarah Ta’dzhimul Ilmi

Maka dari itu Rasulullah ﷺ menganjurkan bahkan memerintahkan ummatnya agar selalu menuntu ilmu, dan terus belajar serta berusaha, beliau ﷺ bersabda :

“Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim”
HR. Ibnu Majah 224

dan beliau ﷺ bersabda pula :

“Semangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan pada Allah, dan jangan engkau lemah (menyerah)”

HR. Muslim 2664

Melaksanakan Adab Ilmu – Ringkasan Syarah Ta’dzhimul Ilmi

Namun terkadang kita merasa sulit sekali menjadi penuntut ilmu yang sukses, atau mungkin kita merasa selalu gagal dalam belajar sehingga kita merasa bahwa kita bukanlah orang pintar, kita merasa bahwa kita orang yang bodoh dan dibawah rata-rata, lalu bagaimana cara kita bangkit dan kembali menuntut ilmu?, bagaimana cara kita meraih hasil terbaik dari menuntut Ilmu?, mari akan kita bahas tips dan trik yang Imam Syafi’i rahimahullah guru kita dari bait-bait syair sebelumnya

  1. Kecerdasan
  2. Semangat
  3. Kesungguhan
  4. Modal
  5. Bimbingan Guru
  6. Waktu yang Panjang

Dan kami tambahkan 1 lagi yaitu Ikhlash karena niat adalah awal dari segalanya

Kecerdasan 

Kecerdasan adalah perkara yang telah dianugerahkan kepada kita manusia, oleh Allah ﷻ namun memang hal itu bertingkat-tingkat, Allah ﷻ berfirman :

“Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik ciptaan” 

QS. at-Tiin 4

dan Allah ﷻ juga berfirman :

“Dan diatas orang berilmu ada yang lebih berilmu darinya” 

QS. Yusuf 76

namun, kecerdasan itu bisa dibagi menjadi dua jenis,

  1. Kecerdasan alami
  2. Kecerdasan yang diupayakan

Pertama : Kecerdasan alami Kecerdasan bawaan dari lahir, dan beberapa orang memilikinya, itu adalah anugerah dari Allah ﷻ  dan semua itu disebabkan beberapa faktor diantarannya, Keturunan, lingkungan awal, didikan pertama orang terdekat. Setiap manusia memiliki kecerdasannya masing-masing, di bidang yang berbeda-beda, ada kecerdasan Linguistik, Logika, Visual.  Ada manusia yang unggul dan mudah memahami hal-hal disekitarnya dengan pemaparan secara lugas, mereka Allah anugerahkan kecerdasan linguistik, mereka mudah memahami perkara bahasa dan seluk beluknya, mudah mengenal bahasa asing dan mempelajarinya. Ada pula manusia yang unggul dan mudah memahami hal-hal disekitarnya dengan bentuk yang logis dan pasti, mereka Allah anugerahkan kecerdasan Logika, dan mereka biasanya menguasai bidang eksak dengan baik. Ada pula manusia yang unggul dalam bidang visual dan rasa, mereka Allah anugerahkan kecerdasan dalam bidang seni dan Visual mereka bisa berfikir Out of the box dalam bidangnya, mereka faham arti estetika dan konsekuensinya. Karena setiap manusia memiliki kemampuannya masing-masing, maka kembangkanlah apa yang kita miliki untuk menuju Allah ﷻ  gunakanlah kecerdasan-kecerdasan tersebut untuk mendekatkan diri kepadaNya, janganlah menjadi seperti Fir’aun yang diberikan kekuasaan dia ingkar, dan jangan pula menjadi seperti Haman yang diberikan keahlian matematik yang baik dia mendustakan, serta jangan pula jadi seperti Qarun dianugerahkan kepadanya kesuksesan dia kufur. Allah ﷻ  berfirman :

وَاَنِيْبُوْٓا اِلٰى رَبِّكُمْ وَاَسْلِمُوْا لَهٗ مِنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُوْنَ

“Dan kembalilah kalian kepada Rabb kalian, dan berserah dirilah kalian kepada Nya sebelum datang kepada kalian adzab kemudian kalian tidak dapat diselamatkan” 

QS. az-Zumar 53

Maka bersyukurlah atas kelebihan yang kita miliki, dan jangan putus asa dari rahmat Allah, selalu minta petunjuk dariNya, agar kelebihan yang kita miliki menjadikan kita makhluk yang berguna bagi nusa dan bangsa. dan tatkala kita menjadi guru atau orang tua, tumbuhkan lingkungan positif untuk kebaikan perkembangan anak didik kita kelak.

Jauh di afrika sana, tepatnya di negeri Mauritania, negeri lahirnya ribuan penghafal al-Qur’an dari tanah afrika, seorang anak yang belum hafal al-Qur’an menjadi aib besar bagi keluarganya, disana memang negara miskin secara ekonomi, namun al-Qur’an adalah bahan ajar wajib bagi anak-anak muslim sana. Anak berumur 7 sampai 10 tahun sudah banyak yang menyelesaikan hafalan alQur’an mereka 30 Juz, karena apa? apakah karena susu formula mahal yang menjadikan mereka cerdas? atau karena fasilitas yang serba mudah dan memadai?

TIDAK namun dengan izin Allah semua itu karena orang tua mereka telah mengajarkan anak-anaknya menghafal al-Qur’an sejak dini, bahkan sejak usia kandungan, kedua orangtuanya selalu membaca al-Qur’an, setelah lahir pun, kedua orangtua disana membaca al-Qur’an di samping anak-anak mereka, maka ayat-ayat itupun terpatri dalam diri mereka, tertanam di benak mereka, jadilah ghirah (semangat) mereka kuat untuk menghafal al-Qur’an dan menjadi mudah al-Qur’an mereka hafalkan karena lingkungan yang baik dan didikan yang lurus oleh orang tua mereka dan guru-guru mereka. Banyak sekali ulama yang lahir dari tanah mauritania yang dikenal juga dengan negeri syinqith atau chinguetti. 

Seperti pengarang kitab tafsir yang fenomenal Tafsir Adhwaa’ul Bayan fii iidhahil qur’an bil qur’an yaitu Syaikh al’-Allaamah Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar as-Syinqithi rahimahumullah Kedua : Kecerdasan yang diusahakan Kecerdasan yang diraih dengan usaha dan upaya. Kecerdasan ini berbeda dengan kecerdasan yang sebelumnya, kecerdasan yang kita bahas tadi adalah basic skill (kemampuan dasar) nya manusia, namun kecerdasan yang satu ini adalah Human Experience atau Pengalaman, orang yang berusaha berbeda hasilnya dengan orang yang memiliki kemampuan namun malas berusaha, karena kemampuan lebih adalah anugerah dari Allah ﷻdan usaha dan upaya yang sungguh-sungguh adalah rahmat yang besar dari Nya untuk hamba-hambaNya yang terpilih, Allah ﷻ berfirman untuk hambaNya yang selalu berusaha untuk mencapai jalan terbaikNya

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ ࣖ

“Dan orang-orang yang terus berusaha dijalan Kami maka akan kami mudahkan mereka kejalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang baik” 

QS. al-Ankabut 69

teruslah berusaha, kau akan dapatkan apa yang kau inginkan, inilah kecerdasan yang harus dimiliki penuntut ilmu, Rasulullah ﷺ  bersabda :

“Semangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan padaNya, dan janganlah kau lemah” HR. Muslim 2664

teruslah berusaha dan jangan kau merasa lemah…

Semangat

Semangat adalah kunci utama setelah kecerdasan yang kita miliki, untuk mendapat sesuatu, kita harus bersemangat mengejar cita-cita, dan jadilah muslim yang Visioner pikirkan masa depan di dunia hingga akhiratnya Rasulullah ﷺ  bersabda :

“Orang cerdas adalah mereka yang beramal untuk apa yang akan datang setelah matinya” 

HR. Ibnu Majah 4260

Kesungguhan

Allah ﷻ berfirman dalam kitabNya

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan orang-orang yang terus berusaha dijalan Kami maka akan kami mudahkan mereka kejalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang baik” 

QS. al-Ankabut 69

Karena kesungguhan adalah bukti nyata untuk mendapatkan kesuksesan, tanpa kesungguhan tak kan ada orang hebat yang terlahir dengan izin Allah didunia ini, tanpa kesungguhan apalah makna dari kecerdasan, semua berjalan mengikuti arus tanpa ada arah tujuan.

Modal

Semua itu butuh modal dan pengorbanan, karena dengan modal tergambarkan keseriusan seseorang dalam menuntut ilmu, mau belajar maunya gratisan, mau belajar gak mau keluar satu rupiah pun, bukannya memperjual belikan ilmu, namun untuk kitab kita harus rela merogoh kocek karena ada biaya penerbitan, untuk alat tulis kita perlu membeli karena itu dibuat juga dengan bahan dan proses khusus. cukuplah contoh konkrit dari para pendahulu kita yang sukses menuntut ilmu dengan modal mereka yang tidak sedikit pula.

Imam syafi’i rahimahullah berkata : “Tidaklah layak bagi penuntut ilmu kecuali dia siap miskin” -al-Jami’ li akhlaqir rawi 1/104 no. 71. Lihatlah Imam Malik bin Anas rahimahullah yang rela menjual atap rumahnya untuk modal menuntut ilmu, namun siapakah yang tidak mengenal beliau sekarang?

Imam Muhammad bin Salam rahimahullah berkata : “Aku sumbangkan hartaku 40.000 untuk menuntut ilmu dan aku sumbangkan lagi 40.000 untuk menyebarkannya, seandainya tidak ku habiskan saat menuntut ilmu akan kuhabiskan saat menyebarkannya” –Tarikh al-Baghdadi 12/17-

Terkadang kita berfikir Mengapa sekolah, les dan sebagainya berbayar? padahal kan ilmu itu harus disebarkan cuma-cuma? Jawabnya mudah saja, semua itu butuh biaya operasional, tidakkah seyogyanya kita sebagai penuntut ilmu menanggung biaya tersebut? apakah harus guru kita, ustadz kita yang telah rela menghabiskan waktunya bersama kita membimbing kita mereka pula lah yang menanggung biaya operasional tersebut? tidak kah ada rasa terimakasih kita terhadap mereka yang telah meluangkan waktunya untuk mengajari kita jalan menuju surgaNya yang tak dapat dinilaikan? Dermawanlah dalam menuntut ilmu, kelak Allah mudahkan mereka yang baik lagi bersungguh-sungguh

Bimbingan guru

Berikutnya yaitu bimbingan ustadz, yaitu salah satu kewajiban bagi penuntut ilmu, tanpa guru (baca : ustadz) maka tak ada rujukan yang dapat dijadikan sandaran, Allah ﷻ  berfirman :

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَالًا نُّوْحِيْٓ اِلَيْهِمْ فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ

“Dan tidaklah kami utus sebelum engkau kecuali orang- orang yang kami berikan wahyu padanya, maka tanyakanlah kepada orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui” 

QS. an-Nahl 43

Ustadz adalah mereka yang faham dan mengerti betul tentang al-Qur’an dan sunnah, Ustadz adalah mereka yang mengamalkan ilmu yang mereka miliki, Ustadz adalah mereka yang mengajak pada al-Qur’an dan Sunnah, Ustadz mereka yang menjelaskan kepada ummat jalan menuju Allah sesuai dengan apa yang Rasulullah ﷺ  ajarkan kepada sahabatnya dengan apa yang mereka berjalan diatasnya begitupula yang para tabi’in berpegang teguh padanya, Bukan mereka yang mengajak untuk ‘memperbarui agama’ dengan menambah amalan-amalan yang mereka anggap baik dan terus mencari pembenaran dari al-Qur’an dan Sunnah atas apa yang mereka lakukan, wal’iyadzubillah

Imam Ibnu Sirin rahimahullah berkata : “Sesungguhnya Ilmu itu adalah agama, maka lihatlah kepada siapa kalian ambil agama tersebut” Diriwayatkan oleh Imam Muslim Carilah ilmu dari sumbernya, jangan mudah menjadikan orang yang pandai berorator menjadi guru anda

Waktu yang panjang

Terakhir yang perlu difahami oleh seorang penuntut  ilmu, adalah tak ada hal yang instan untuk mencapai kesuksesan, maka bersabar dan terus bertahan dalam menuntut ilmu adalah syarat yang penting untuk kesuksesan para penuntut ilmu, banyak kita lihat penuntut ilmu yang berani berfatwa, berani berbicara banyak hal padahal dia baru saja sebentar merasakan manisnya ilmu, kebanyakan orang yang seperti ini adalah mereka yang suka terkenal dan senang dipuji, wallahu waliyuttaufiq wal hidayah, padahal para ulama dahulu menuntut ilmu bisa bertahun-tahun, bahkan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata saat ditanya “Wahai imam sampai kapan kau terus memegang pena (untuk belajar)?”, beliau rahimahullah menjawab “Dari tempat tinta ini hingga kuburku nanti” 

Maa syaa Allah Imam Ahmad yang sudah menjadi Imam dalam bidang ilmu, mengarang kitab Musnadnya yang berisi 1 juta hadits saja masih terus belajar hingga akhir hayatnya. Imam Ahmad berkata pula “Kami mulazamah (belajar) dengan ‘Affan bin ‘Utsman 10 tahun lamanya” Qadhi Abu Yusuf rahimahullah berkata “Aku bersama Imam Abu hanifah (untuk menuntut ilmu padanya) selama tujuh belas tahun lamanya” Imam Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata “Kami dahulu mempelajari adab dan akhlaq 30 tahun lamanya” Subhaanallah kesabaran dan kesungguhan yang sangat dibutuhkan untuk menjadi penuntut ilmu sejati, nas’alullah taufiq wal huda

Ikhlas

Ini adalah tambahan namun adalah point yang sangat penting yang tak boleh terlupakan, yang mana Rasulullah ﷺ  bersabda

“Barangsiapa yang belajar ilmu agama yang seharusnya mengharap wajah Allah dengannya, dia tak mempelajarinya kecuali untuk memperoleh kedudukan diantara jabatan-jabatan dunia, maka tidak akan mendapat aroma surga di hari kiamat kelak” 

HR. Abu Daud 3664 dan Ibnu Majah 252

Ikhlas adalah sebuah keharusan karena ikhlas adalah salah satu dari syarat diterimanya ibadah hamba, dan menuntut ilmu adalah ibadah. Mari kita perbaiki niat kita karena dengannya kita mendapatkan apa yang kita harapkan kelak.

Washallallahu ‘ala nabiyyinaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi ajma’iin 


Daftar pustaka :

  1. Al-qur’an (https://quran.kemenag.go.id)
  2. Hadits
  3. https://muslim.or.id/43401-berkorban-harta-untuk-menuntut-ilmu.html
  4. https://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=4035
  5. https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=277456

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *