Keutamaan Sahur Untuk Berpuasa (Daurah Ramadhan)

Keutamaan Sahur
Photo by Jay Wennington on Unsplash

السلام عليكم و رحمة الله وبركاته

Bismillahi walhamdulillahi wasshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillahi Muhammad bin Abdillah, wa ‘alaa aalihi washahbihi wa man saara ‘alaa nahjihi ilaa yaumil qiyaamah, amma ba’du

Allah jadikan bulan Ramadhan bulan penuh keberkahan dan ampunan, Allah ajarkan kepada orang-orang yang beriman tentang arti ketakwaan padanya, dimana kita diminta melaksanakan perintahNya penuh ketaatan dan menjauhi segala laranganNya tanpa penolakan

Allah ﷻ berfirman dalam kitabnya

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ – ١٨٣

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

QS. al Baqarah 183

Pada pembahasan kali ini, in syaa Allah akan saya sampaikan tentang sahur untuk berpuasa khususnya puasa ramadhan, berdasarkan hadits dan alqur’an dan pendapat para ulama yang mu’tabar

Pertama : Sahur Diperintahkan Oleh Rasulullah ﷺ Kepada Ummatnya

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 

“تَسَحَّرُوا، فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً”

Dari Anas bin Malik, dia berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Hendaklah kamu makan sahur, karena sesungguhnya di dalam sahur terdapat barokah”

Takhrij Hadits :

HR. Bukhari, no. 1923; Muslim, no. 1095; Tirmidzi, no. 708; Nasai, no. 2146; Ibnu Majah, no. 1692; Ahmad, no. 11950, 13245

Dalam hadits lain Rasulullah ﷺ bersabda ;

 – عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم

« السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى المُتَسَحِّرِينَ »

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sahur itu makanan yang barokah, janganlah kalian meninggalkannya walaupun hanya menelan seteguk air, karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur”

Takhrij Hadits :

HR. Ahmad, no. 11086; 11396. Dishohihkan oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth di dalam Takhrij Musnad Ahmad. Dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shohihul Jami’, no. 3683

Faidah Hadits :

1- Perintah sahuur dan larangan meninggalkannya. Secara bahasa sahuur artinya : makanan atau minuman di waktu sahar. Sedang sahar artinya akhir malam sebelum subuh. Pada waktu sahur dianjurkan pula untuk perbanyak istighfar, sebagaimana orang-orang shalih yang disebutkan dalam firman Allah dalam kitabNya

وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ – ١٨

“Dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah)”

QS. Adz Dzariyaat 18

2- Sahuur tidak harus makan besar, bisa dengan minum air, dan sebaik-baik sahuur adalah makan korma.

3- Diantara keutamaan sahuur adalah makanan yang barokah. Barokah adalah kebaikan yang banyak, tetap dan bertambah, dan barokah sahur didapatkan di dunia dan di akhirat.

4- Diantara keutamaan sahuur adalah mendapatkan shalawat dari Allah dan malaikat-Nya. Shalawat dari Allah adalah pujianNya di hadapan malaikat. Adapun shalawat dari malaikat adalah doa malaikat kepada Allah.

5- Barakah itu dicari dengan tuntunan Allah dan RasulNya, bukan dengan cara-cara yang tidak dituntunkan. Seperti mencari berkah dengan ziarah ke kubur-kubur keramat, dan semacamnya. Ziarah kubur adalah sunnah untuk mengingat kematian, dan mendoakan ahli kubur. Bukan untuk mencari keberkahan dari kuburan, atau berdoa kepada ahli kubur.

Kedua : Dianjurkan Mengakhirkan Waktu Sahur

: عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ . قُلْتُ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallohu ‘anhu dia berkata :

“Kami makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berdiri untuk melakukan shalat”.
(Anas bertanya kepada Zaid bin Tsabit): “Berapa lama jarak antara adzan dan sahur?” Zaid menjawab, “Kira-kira (membaca) 50 ayat (Al-Qur’an)”

Takhrij Hadits :

HR. Bukhari, no. 1921 dan Muslim, no. 1097

Para sahabat pun biasa mengakhirkan sahur karena itu juga kebiasaan baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam 

‘Amr bin Maimun Al-Audi berkata :

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَسْرَعَ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأَهُمْ سَحُوْرًا

“Dahulu para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling segera berbuka dan paling lambat sahuur”

Takhrij Atsar :

Riwayat Abdurrozaq di dalam Al-Mushonnaf 4/226, no. 7591; dishohihkan oleh Al-Hafizh di dalam Fathul Bari, 4/199 dan Al-Haitsami di dalam Al-Majma’, 3/154, no. 4874

Faidah Hadits :

1- Keutamaan sahabat Zaid bin Tsabit radhiyallohu ‘anhu, karena beliau pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2- Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam makan sahur bersama sahabatnya.

3- Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengakhirkan makan sahur, jarak antara adzan dan sahur kira-kira membaca 50 ayat Al-Qur’an sekitar 15-20 menit jika dikonversikan ke waktu saat ini.

4- Memanfaatkan waktu untuk hal-hal bermanfaat, seperti mengisi waktu luang dengan membaca Al-Qur’an, atau hal-hal bermanfaat lainnya.

5- Para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling segera berbuka dan paling lambat sahuur.

6- Anjuran mengakhirkan makan sahur meneladani Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau.

7- Generasi sahabat adalah generasi manusia terbaik, maka kewajiban umat Islam mengikuti jalan sahabat di dalam beragama.

Ketiga : Akhir Dari Waktu Sahur

 : عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُؤَذِّنَانِ بِلَالٌ وَابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ الْأَعْمَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“إِنَّ بِلَالًا يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ”

قَالَ : وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَهُمَا إِلَّا أَنْ يَنْزِلَ هَذَا وَيَرْقَى هَذَا

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, “Dahulu Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam memiliki dua muadzin, yaitu Bilal (biasa beradzan di saat fajar kadzib) dan Ibnu Ummi Maktum seorang yang buta (biasa beradzan di saat fajar shodiq). Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi was salam bersabda :

“Sesungguhnya Bilal beradzan di waktu malam, maka makanlah dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum beradzan”

Perawi berkata, ‘Jarak keduanya adalah dia (Bilal) turun dan dia (Ibnu Ummi Maktum) naik’

Takhrij Hadits :

HR. Muslim, no. 38-1092

Bagaimana jika saat sedang sahur kita mendengar adzan (kedua) menunjukan masuk waktu subuh ?

-عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم

« إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِىَ حَاجَتَهُ مِنْهُ »

Dari Abu Hurairah ia berkata ; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Apabila salah seorang diantara kalian mendengar adzan, sedangkan bejana (wadah makanan) masih ada di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya hingga ia menyelesaikan hajatnya (sahurnya).”

Takhrij Hadits :

HR. Abu Dawud, no.2350; Ahmad, no. 10629; dan Al-Hakim, no. 729, 740, 1552. Dishahihkan oleh Al-Hakim, Adz-Dzahabi, Syu’aib Al-Arnauth, dan Al-Albani

Dalam riwayat lain ada tambahan lafadz

وَكَانَ الْمُؤَذِّنُ يُؤَذِّنُ إِذَا بَزَغَ الْفَجْرُ

“Dan muadzin mengumandangkan adzannya jika fajar telah terbit”.

Takhrij Hadits :

HR. Ahmad, no. 10630 dan Thobari, no. 3016), Ibnu Hazm juga meriwayatkannya di dalam kitab Al-Muhalla 6/232, dari riwayat Hammad bin Salamah, dan ada tambahan di akhirnya: Hammad berkata, dari Hisyam bin ‘Urwah yang berkata, “Bapakku berfatwa dengan ini”. (Tafsir Thabari 3/527, catatan kaki no. 2

Faidah Hadits-Hadits Diatas :

1. Adzan subuh di zaman Nabi shalallahu ‘alaihi was salam dilakukan dua kali. Hal ini juga merupakan pendapat imam Malik, Syafi’i, Auza’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Abu Yusuf, dan Ibnu Hazm (Lihat Shohih Fiqih Sunnah 1/277). Sekarang masalah ini tidak diketahui oleh banyak kaum muslimin, apalagi diamalkan.

2. Adzan subuh pertama dilakukan oleh Bilal di saat terbit fajar kadzib (Saat cahaya fajar menyinari horizon secara vertikal dan datang hanya sesaat kemudian hilang kembali), sebelum masuk waktu subuh, oleh karena itu adzan Bilal ini tidak menghalangi untuk sahur.

3. Di zaman sekarang jika adzan subuh dikumandangkan sebelum waktunya, maka masih boleh melakukan sahur.

4. Adzan subuh kedua dilakukan oleh Ibnu Ummi Maktum di saat terbit fajar shodiq (Saat cahaya fajar menyinari horizon secara horizontal dan terus bertambah kuat seiring meningginya matahari), ketika masuk waktu subuh, oleh karena itu adzan ini waktu akhir untuk sahur.

5. Jarak dua adzan subuh itu tidak lama, sekitar 15 menit. Wallahu a’lam

6. Mulai imsaak puasa (menahan diri dari makan minum dsb.) adalah ketika adzan subuh setelah terbit fajar shodiq. Dan termasuk kesalahan, anggapan imsaak 10 menit sebelum adzan subuh. Ini adalah sesuatu yang baru dan bertentangan dengan petunjuk agama Islam.

7. Ketika seseorang sedang makan sahur lalu mendengar adzan subuh, boleh menyelesaikan makannya berdasarkan hadits di atas. Maka tidak benar anggapan harus memuntahkannya.

8. Kemudahan agama Islam yang memberikan keringanan makan sahur di saat adzan subuh berkumandang.

9. ‘Urwah bin Zubair, seorang ulama Madinah, berfatwa mengikuti dalil.

10. Agama dilakukan dengan tuntunan, bukan hanya sekedar akal atau perasaan. Wallahu a’lam

Ikhwatal Islam  a’azzaniyallahu wa iyyakum semoga apa yang anda baca saat ini bisa menambah semangat dalam beribadah dan kekuatan dalam menjalani puasa Ramadhan serta memperbaiki setiap amalan kita di bulan ramadhan

Syukran Baarakallahu fiikum semoga bermanfaat

Silahkan di Share dan dapatkan kebaikan


Ditulis oleh Muslim Atsari di Kabupaten Sragen

Di muraja’ah dan ditulis ulang oleh Thariq Aziz al Ahwadzy di Kota Bekasi

21 April 2021 – 10 Ramadhan 1442H


Baca Juga :

Keutamaan Bulan Ramadhan (Daurah Ramadhan)

Niat Puasa Ramadhan (Daurah Ramadhan)

Muslim Rayakan Malam Tahun Baru

Thariq Aziz al Ahwadzy

Thariq Aziz al Ahwadzy, seorang kelahiran kota Bekasi pada 21 Juli 2000, penuntut ilmu dan CEO Menjadi Muslim yaitu Platfrom untuk belajar bersama menjadi seorang muslim seutuhnya. Belajar dan belajar itulah jalan hidupnya

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: