Niat Puasa Ramadhan (Daurah Ramadhan)

Niat Puasa Ramadhan
Photo by Mickey O'neil on Unsplash

السلام عليكم و رحمة الله وبركاته

 

Bismillahi walhamdulillahi wasshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasulillahi Muhammad bin Abdillah, wa ‘alaa aalihi washahbihi wa man saara ‘alaa nahjihi ilaa yaumil qiyaamah, amma ba’du

Allah jadikan bulan Ramadhan bulan penuh keberkahan dan ampunan, Allah ajarkan kepada orang-orang yang beriman tentang arti ketakwaan padanya, dimana kita diminta melaksanakan perintahNya penuh ketaatan dan menjauhi segala laranganNya tanpa penolakan

Allah ﷻ berfirman dalam kitabnya

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ – ١٨٣

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

QS. al Baqarah 183

Pada pembahasan kali ini, in syaa Allah akan saya sampaikan tentang urgensi niat berpuasa pada bulan ramadhan, berdasarkan hadits dan alqur’an dan pendapat para ulama yang mu’tabar

Pertama : Hadits Dari Hafshah bintu Umar Radhiyallahu ‘anhuma 

 

عَنْ حَفْصَةَ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ 

«مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ»

 

Dari Hafshoh, dari Nabi ﷺ   beliau bersabda :

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya.”

Takhrij Hadits :

HR. Tirmidzi, no. 730; Abu Dawud, no. 2454; Nasai, no. 2333; dll. Dishahihkan oleh syaikh Al-Albani

Di dalam riwayat lain dengan lafazh :

 

«مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ، فَلَا صِيَامَ لَهُ»

 

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya.”

Takhrij Hadits :

HR. Nasai, no. 2331, 2332, 2334. Dishohihkan oleh syaikh Al-Albani

Kedua : Hadits Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma diriwayatkan secara Mauquf

 

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ

“لَا يَصُومُ إِلَّا مَنْ أَجْمَعَ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ”

 

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma bahwa dia berkata :

“Tidak berpuasa kecuali orang yang berniat puasa sebelum fajar.”

Takhrij Hadits :

HR. Nasai, no. 2343. Dishohihkan oleh syaikh Al-Albani

Faidah-Faidah Hadits :

1- Puasa Ramadhan memiliki dua rukun :

(1) Niat puasa di malam hari

(2) Imsaak (menahan diri) dari semua pembatal puasa mulai fajar shodiq sampai tenggelam matahari.

 

2- Niat adalah tujuan atau kehendak di dalam hati. Niat dalam pembicaraan ulama memiliki dua makna :

Pertama : Memisahkan sebagian ibadah dengan ibadah yang lain. Seperti : Memisahkan sholat zhuhur dengan ashar, memisahkan puasa ramadhan dengan puasa lainnya atau memisahkan ibadah dengan ‘adat, seperti memisahkan mandi janabat dengan mandi untuk kebersihan. Ini adalah makna niat yang banyak ditemui di dalam perkataan fuqoha (ahli hukum Islam).
Kedua : Memisahkan tujuan amal, apakah tujuannya Allah semata, atau Allah dan yang lainnya. Ini adalah makna niat yang banyak dibicarakan oleh para Salaf zaman dahulu.

(Diringkas dari kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1/65-66, karya imam Ibnu Rojab Al-Hanbali)

3- Puasa adalah ibadah, maka harus niat ikhlas untuk Allah semata. Untuk melakukan puasa wajib, seperti ramadhan, harus ada niat di setiap malam.

 

4- Puasa sunnah boleh berniat di pagi hari sebelum makan atau minum, sebagaimana pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

5- Niat itu letaknya di dalam hati, tidak diucapkan dengan lidah, sebab hal ini tidak dituntunkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Imam An-Nawawi rahimahullah –seorang ulama besar Syafi’iyah- mengatakan,

لَا يَصِحُّ الصَّوْمُ إِلَّا بِالنِّيَّةِ، وَمَحَلُّهَا الْقَلْبُ. وَلَا يُشْتَرَطُ النُّطْقُ بِلَا خِلَافٍ.

“Puasa tidak sah kecuali dengan niat. Letak niat adalah dalam hati, tidak disyaratkan untuk diucapkan. Masalah ini tidak terdapat perselisihan di antara para ulama”. (Roudhotut Tholibin wa ‘Umdatul Muttaqin, 2/350)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah –seorang ulama besar Hanabilah- mengatakan,

وَالنِّيَّةُ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ؛ فَإِنْ نَوَى بِقَلْبِهِ وَلَمْ يَتَكَلَّمْ بِلِسَانِهِ أَجْزَأَتْهُ النِّيَّةُ بِاتِّفَاقِهِمْ

“Niat itu letaknya di hati berdasarkan kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazhkan dengan lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Majmu’ Fatawa, 18/262)

Ikhwatal Islam  a’azzaniyallahu wa iyyakum semoga apa yang anda baca saat ini bisa menambah semangat dalam beribadah dan kekuatan dalam menjalani puasa Ramadhan serta memperbaiki setiap amalan kita di bulan ramadhan

Syukran Baarakallahu fiikum semoga bermanfaat

Silahkan di Share dan dapatkan kebaikan


Ditulis oleh Muslim Atsari,
Sragen, Ahad bakda zhuhur, 10-Ramadhan-1441 H / 3-Mei-2020 M

Di muraja’ah dan ditulis ulang oleh Thariq Aziz al Ahwadzy di Kota Bekasi

20 April 2021 – 08 Ramadhan 1442H


Baca Juga :

Keutamaan Bulan Ramadhan (Daurah Ramadhan)

Shalat Yang Disaksikan Malaikat – Keutamaan Shalat Jama’ah Subuh dan Ashar

Fitnah Riya Syirik

 

Thariq Aziz al Ahwadzy

Thariq Aziz al Ahwadzy, seorang kelahiran kota Bekasi pada 21 Juli 2000, penuntut ilmu dan CEO Menjadi Muslim yaitu Platfrom untuk belajar bersama menjadi seorang muslim seutuhnya. Belajar dan belajar itulah jalan hidupnya

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. April 23, 2021

    […] Niat Puasa Ramadhan (Daurah Ramadhan) […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: