Pembagian Tauhid

pembagian tauhid 1

Contents


السلام عليكم و رحمةُ الله و بركاته

Bismillahi wal hamdulillah wasshalaatu wassalaamu ‘alaa rasulillah Muhammad bin Abdillah wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man saara ‘alaa hadyihi wa tamassaka bisunnatihi ilaa yaumil qiyaamah amma ba’du

Pada pembahasan sebelumnya kita sudah memahami darimanakah asal penggunaan kata “Tauhid” (Silahkan Baca Postingan Berikut)

Pada pembahasan ini, dengan Izin Allah kita akan sedikit memaparkan tentang “Pembagian Tauhid” dan darimana asalnya

Pertama, yang harus kita fahami, tauhid itu hanya satu pada asalnya, di Al Qur’an pun tidak ada kaidah pembagian Tauhid menjadi beberapa bagian.

Pada zaman awal manusia pun, Nabi Adam alaihissalam dan keturunannya tidak mengenal istilah pembagian tauhid ini, namun mulailah muncul kesyirikan dan penyekutuan terhadap Allah ﷻ, yang mana sebagian manusia meyakini bahwa Allah lah pencipta langit dan bumi beserta seisinya dan mengatur keduanya, namun mereka menyembah patung-patung dan sesembahan selainnya dengan alasan untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ melalui mereka yang konon adalah orang-orang shalih sebelum mereka

وَلَىِٕنْ سَاَلْتَهُمْ مَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُوْلُنَّ اللّٰهُ ۗفَاَنّٰى يُؤْفَكُوْنَ – ٦١

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka, ”Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Pasti mereka akan menjawab, ”Allah.” Maka mengapa mereka bisa dipalingkan (dari kebenaran)”

Qs. Al ‘Ankabut 61

dan Allah juga mengabarkan

اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ ۗوَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰىۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ەۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّارٌ – ٣

Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar

Qs. Az Zumar 3

Jadi orang-orang musyriklah yang membuat banyak ulama berijtihad untuk menjelaskan tauhid dengan rinci, yang sebelumnya Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya memahami bahwa tauhid hanyalah satu, yaitu mengesakan Allah dalam penciptaan dan pengaturan alam semesta serta hanyala Dia yang berhak disembah dan memiliki nama-nama yang indah

Ditambah lagi banyak dari manusia yang mentakwil sifat dan nama Allah, mereka berfikir bahwa nama dan sifat Allah yang disebut dalam al Qur’an dan as Sunnah memiliki hakikat, karena jika sifat Allah memiliki tangan sebagaimana yang difirmankan olehNya

اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَ ۗيَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ ۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِنَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖۚ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عٰهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهَ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا ࣖ – ١٠

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Dia akan memberinya pahala yang besar

Qs. Al Fath 10

mana mungkin seperti hambaNya yang memiliki tangan, jadi pasti ini bukan tangan Allah secara nyata melainkan hakikatnya adalah kenikmatan dan kebaikan (an-ni’mah wal ihsan), kekuasaan (as-sulthan), kemampuan (al-qudrah), kekuatan (al-quwwah) dan lain sebagainya.

Padahal Rasulullah ﷺ tidak pernah memberikan penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan tangan Allah, dan beliau juga tidak mengatakan bahwa tangan Allah itu seperti tangan makhluk, jadi kewajiban kita sebagai ummatnya yang setia, haruslah mengikuti sikap nabi kita ﷺ dengan tidak mentakwil makna yad Allah dan membenarkan semata-mata firman Allah secara absolut, tanpa digambarkan bahwa tangan Allah seperti tangan makhluk dan sebagainya.

Catatan : Tidak semua kata yad di al Qur’an diterjemahkan secara fisik, ada beberapa kata yad yang memang sudah masyhur maknanya secara metafora seperti dalam ayat berikut

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ يَسْعٰى نُوْرُهُمْ بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَبِاَيْمَانِهِمْ بُشْرٰىكُمُ الْيَوْمَ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۚ – ١٢

pada hari engkau akan melihat orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, betapa cahaya mereka bersinar di depan dan di samping kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Demikian itulah kemenangan yang agung.”

Qs. al Hadid 12

dan masih banyak lagi takwil-takwil tentang nama dan sifat Allah, yang in syaa Allah akan kita bahas bersama di dalam tulisan lain

Oleh karena itu, sebagian ulama memberikan penjelasan secara rinci dan terbagi sesuai dengan kesalahan yang harus dijelaskan

In syaa Allah pada tulisan berikutnya, akan kita bahas apa saja pembagian tersebut


Akhukum Fillah Thariq Aziz al Ahwadzy

10 Dzulhijjah 1441H

di Kota Bekasi


Baca Juga :

Apa itu Kitab Tauhid

Apa itu Tauhid

Urgensi Tauhid dalam Kehidupan

Thariq Aziz al Ahwadzy

Thariq Aziz al Ahwadzy, seorang kelahiran kota Bekasi pada 21 Juli 2000, penuntut ilmu dan CEO Menjadi Muslim yaitu Platfrom untuk belajar bersama menjadi seorang muslim seutuhnya. Belajar dan belajar itulah jalan hidupnya

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. Agustus 8, 2020

    […] 0 […]

  2. September 14, 2020

    […] Pembagian Tauhid […]

  3. Februari 8, 2021

    […] Pembagian Tauhid […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *