Fitnah Syahwat dan Hawa Nafsu

Ftinah Syahwat dan Hawa Nafsu

Daftar Isi


السَلام عَليكُم و رَحمَة الله و بركَاته

Bismillah wal hamdulillah, wasshalaatu wassalaamu ‘alaa rasulillah, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man saara ‘alaa nahjihi ilaa yaumil qiyamah, amma ba’du

Rasulullah ﷺ amat sangat mencintai ummatnya. Sungguh kekhawatiran beliau jika ummatnya tersesat amatlah sangat

Baca Juga : Rasulullah ﷺ Amat Mencintai Ummatnya

Salah satu yang beliau takutkan atas ummatnya, adalah apa yang beliau sampaikan dalam sebuah sabdanya

إِنَّ مِمَّا أَخشَى عَلَيكُم شَهَوَاتِ الغَيِّ فِي بُطُونِكُم وَ فُرُوجِكُم وَ مُضِلَّاتِ الهَوَى

“Sesungguhnya apa yang aku khawatirkan atas kalian Syahwat perutmu dan kemaluanmu yang menyesatkan dan hawa nafsu yang menjerumuskan

HR. Ahmad 19773

Bahaya Hawa Nafsu dan Syahwat Yang Menyesatkan

Syahwat dan Hawa Nafsu adalah saudara yang tidak dapat dipisahkan, mereka kembar namun tak serupa, kehadirannya membuat seseorang lupa akan jati dirinya, lupa akan kehormatannya, yang ada hanya bagaimana dia menuruti hawa nafsunya dan memuaskan syahwatnya, maka jadilah manusia hina karena tunduk kepada keduanya

Namun, Syahwat dan Hawa Nafsu adalah fitrah yang terpatri dalam jiwa manusia, syahwat dapat dikendalikan jika seseorang tidak mengikuti hawa nafsunya yang buruk, karena Syahwat itu ada pada hewan begitupula manusia, namun hanya manusia yang Allah anugerahkan akal untuk mengendalikan syahwat dan menundukan hawa nafsunya, lalu tidakkah terpikir jika manusia menuruti nafsunya dan memuaskan syahwatnya dan meninggalkan akal sehatnya untuk menjalankan aksinya, apa bedanya dia dengan Hewan ?


Pengikut Hawa Nafsu Bagaikan Hewan bahkan Lebih Buruk

Sumber

Mengapa hal itu terjadi ? padahal mereka juga dari bangsa manusia, lalu ?

Alasannya adalah apa yang Allah ﷻ sebutkan dalam firmanNya

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ – ١٧٩

“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah

Qs. Al ‘Araf 179

Karena Allah ﷻ ciptakan manusia dengan akal dan syahwat, namun Allah ﷻ hanya ciptakan Malaikat dengan akal tanpa syahwat yang menjadikan dia selalu ta’at kepada Rabbnya, dan Allah jadikan Hewan dengan syahwat tanpa akal, maka tidak ada hewan yang malu bersetubuh ditempat umum, karena mereka tak memiliki akal, jika manusia menjadikan syahwatnya diatas akalnya, maka lebih buruk lah ia dibanding hewan yang memang tak memiliki akal


Disesatkan Diatas Ilmu

Sumber

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةًۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ – ٢٣

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Qs. Al Jatsiyah 23

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya

“Artinya adalah dia melakukan apa yang diperintahkan hawa nafsunya, apa yang dipandangnya baik dia lakukan apa yang dipandangnya buruk dia tinggalkan”

dan juga beliau berkata

“Adapun “Allah jadikan sesat atas ilmu” ada dua makna, pertama Allah maha hikmah, maka Dia biarkan sesat orang itu karena dia berhak menjadi sesat dikarenakan dia mengikut hawa nafsunya dan mencampakan akal sehatnya, dan makna kedua dia sesat setelah dia mengetahui kebenaran (tegak hujjah padanya)” (Tafsir al Qur’an al Adzhim 7/205-206 tahqiq hani al Hajj)


Sesat dan Menyesatkan

Sumber

Seorang hamba syahwat, hanya akan menjadi manusia yang sesat dari jalan kebenaran, mereka memandang dan menyalahkan hanya dengan nafsu dan syahwatnya semata, menjadikan dirinya tertutup dari kebaikan dan kebenaran, jadilah ia orang yang paling sesat di dunia karena hawa nafsunya

وَمَنْ اَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوٰىهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ࣖ – ٥٠

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim

Qs. Al Qashas 50

dan karena kesesatannya, dia menyesatkan manusia, Allah ta’ala berfirman

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَضِلُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۢبِمَا نَسُوْا يَوْمَ الْحِسَابِ ࣖ – ٢٦

dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Qs. Shad 26


Solusi Menghadapinya

Dengan meminta petunjuk dan pertolongan Allah jalla wa ‘alaa, agar kita dijauhkan dari ketundukan kepada hawa nafsu dan syahwat yang menyesatkan

  1. Mendalami Ilmu Agama yang Benar

Karena dengan mendalami ilmu agama yang benar, seorang dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, karena menuntut ilmu itu wajib, agar tidak menjadi sesat sebagaimana yang Allah jalla wa ‘alaa firmankan

بَلِ اتَّبَعَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْٓا اَهْوَاۤءَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ فَمَنْ يَّهْدِيْ مَنْ اَضَلَّ اللّٰهُ ۗوَمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ – ٢٩

Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti keinginannya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah disesatkan Allah. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi mereka

Qs. Ar Rum 29

2. Takut akan Murka Allah dan AdzabNya

Setelah kita mempelajari ilmu agama yang benar, haruslah disertai dengan khasyatullah agar tidak menjadi sombong dan angkuh dari kebenaran, dengan kita memiliki jiwa yang sadar akan jatidirinya, maka apa yang akan kita sombongkan dihadapan Allah yang MurkaNya dahsyat dan AdzabNya pedih, akankah kita menjadi penyembah Hawa Nafsu padahal Allah yang maha kuasa dan maha mengetahui ?

اَفَاَمِنَ اَهْلُ الْقُرٰٓى اَنْ يَّأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَّهُمْ نَاۤىِٕمُوْنَۗ – ٩٧ اَوَاَمِنَ اَهْلُ الْقُرٰٓى اَنْ يَّأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَّهُمْ يَلْعَبُوْنَ – ٩٨ اَفَاَمِنُوْا مَكْرَ اللّٰهِۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْخٰسِرُوْنَ ࣖ – ٩٩

Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur? (97) Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain? (98) Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi. (99)

Qs. Al A’raf 97-99

3. Berjuang Melawan Hawa Nafsu dan Tundukan Syahwat

Melawan hawa nafsu adalah jihad yang paling utama, karena melakukan hal itu tidaklah semudah membalikan telapak tangan, fitnah syahwat yang demikian menggoda, menjadikan sedikit dari manusia yang dapat melawannya

Rasulullah ﷺ bersabda

وَ أَفضَلُ الجِهَادِ مَن جَاهَدَ نَفسَهُ فِي ذَاتِ اللهِ

“Dan jihad yang paling utama adalah jihad melawan dirinya di jalan Allah”

HR. Ibnu Nashr

Namun berjihad melawan hawa nafsu akan menjadi mudah jika kita serius menghadapinya dan terus meminta pertolongan dan petunjuk kepada Nya, Allah tidak akan menyia-nyiakan hambaNya yang berjalan kembali kepadaNya

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ ࣖ – ٦٩

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.

Qs. Al Ankabut 69

Maka mau sampai kapankah kita menjadi hamba Syahwat yang tunduk akan hawa nafsu yang menyesatkan lagi menghinakan ?

Wallahu waliyyuttaufiq wal hidayah


Akhukum Fillah Thariq Aziz al Ahwadzy

7 Muharram 1442H

di Kota Bekasi


Baca Juga

Sering Berbuat Dosa

Urgensi Tauhid Dalam Kehidupan

Terbukanya Pintu Kenikmatan

Thariq Aziz al Ahwadzy

Thariq Aziz al Ahwadzy, seorang kelahiran kota Bekasi pada 21 Juli 2000, penuntut ilmu dan CEO Menjadi Muslim yaitu Platfrom untuk belajar bersama menjadi seorang muslim seutuhnya. Belajar dan belajar itulah jalan hidupnya

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. September 15, 2020

    […] Fitnah Syahwat dan Hawa Nafsu […]

  2. September 28, 2020

    […] Fitnah Syahwat dan Hawa Nafsu […]

  3. September 28, 2020

    […] Fitnah Syahwat dan Hawa Nafsu […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: