Syirik Kecil Bernama Riya

Syirik Riya

Contents


السَلام عَليكُم و رَحمَة الله و بركَاته

Bismillah wal hamdulillah, wasshalaatu wassalaamu ‘alaa rasulillah, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man saara ‘alaa nahjihi ilaa yaumil qiyamah, amma ba’du

Rasulullah ﷺ amat sangat mencintai ummatnya. Sungguh kekhawatiran beliau jika ummatnya tersesat amatlah sangat

Salah satu yang beliau takutkan atas ummatnya, adalah apa yang beliau sampaikan dalam sebuah sabdanya

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ، قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ، يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جُزِيَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً؟

“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan terhadap kalian adalah syirik kecil” para sahabat bertanya “Apa itu syirik kecil wahai utusan Allah ?”, beliau ﷺ menjawab “Yaitu adalah Riya’, tatkala Allah ‘azza wa jalla berkata kepada mereka dihari kiamat kelak hari setiap manusia dibalas sesuai amal perbuatannya ‘Pergilah kalian kepada siapa yang kalian harapkan perhatiannya di dunia, dan lihatlah apa yang kalian dapatkan dari sisi mereka ?'”

HR. Ahmad dan Selainnya

Lalu apa yang menjadikan Rasulullah ﷺ mewanti-wanti ummatnya bahkan beliau ﷺ amat sangat khawatir akan terjerumusnya ummat beliau kedalam hal tersebut ?

Karena Riya’ adalah kesyirikan yang paling mudah terjadi, paling halus saat terbesit dalam jiwa, paling mudah dilakukan tanpa khawatir terhadap dirinya, karena dia datang saat kita sedang atau ingin melakukan kebaikan, dan semua menjadi tercampur, seolah itu adalah kebaikan padahal karenanya kebaikan tak ubahnya sebuah amalan yang sia-sia

Riya Merusak Amal

Sumber

Setiap amalan harus memenuhi dua syarat diterimanya semua amalan setelah keislaman, yang pertama Ikhlas karena Allah semata dan yang kedua Mengikuti sunnah RasulNya, dua point yang saya sebutkan adalah syarat mutlak diterimanya amalan seseorang, keduanya harus terpenuhi, jika beribadah karena ikhlas saja namun tidak mengikuti sunnah rasulNya bahkan melakukan perbuatan ibadah sendiri, maka tertolak amalannya, sebagaimana sabda beliau ﷺ

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka dia tertolak

HR. Bukhari dan Muslim

dan jika beribadah karena mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ saja, namun dihatinya tidak ada keikhlasan, mungkin ingin mendapat pujian dari orang atau penghargaan, dan itu adalah riya, maka tidaklah diterima amalan tersebut, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla dalam sebuah hadits qudsy

أنا أغنى الشركاء عن الشرك ، من عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته وشركه 

“Aku tidak membutuhkan sekutu yang dipersekutukan padaKu, barangsiapa yang beramal sebuah amalan yang padanya Aku disekutukan dengan selainKu, niscaya Aku tinggalkan dia dan persekutuannya”

HR. Muslim dan Ibnu Majah

Riya Termasuk Sifat Orang Munafik

Sumber

Orang munafik adalah makhluk yang paling hina didunia maupun diakhirat, dikarenakan mereka hidup menjadi pecundang, karena mereka bermuka dua, tidaklah mereka berani menyatakan jati diri mereka, namun mereka berpura-pura dan menyerang dari belakang, mereka menampakan keislaman karena riya’ berharap dia tidak dicela dan menjadi orang yang baik, namun sejatinya dia jahat karena hendak menikam dari dalam

Allah ﷻ berfirman tentang mereka

اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ اللّٰهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْۚ وَاِذَا قَامُوْٓا اِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالٰىۙ يُرَاۤءُوْنَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ اِلَّا قَلِيْلًاۖ – ١٤٢

Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk salat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali

Qs. An Nisaa’ 142

Pelaku Riya Yang Pertamakali Dilemparkan Ke Neraka

Sumber

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ tentang mereka yang melakukan riya’

إن أول الناس يُقضى يوم القيامة عليه رجُل اسْتُشْهِدَ، فأُتي به، فعرَّفه نِعمته، فعرَفَها، قال: فما عَمِلت فيها؟ قال: قَاتَلْتُ فيك حتى اسْتُشْهِدْتُ. قال: كَذبْتَ، ولكنك قَاتَلْتَ لأن يقال: جَرِيء! فقد قيل، ثم أُمِرَ به فَسُحِب على وجهه حتى أُلقي في النار. ورجل تعلم العلم وعلمه، وقرأ القرآن، فأُتي به فعرَّفه نِعَمه فعرَفَها. قال: فما عملت فيها؟ قال: تعلمت العلم وعلمته، وقرأت فيك القرآن، قال: كَذَبْتَ، ولكنك تعلمت ليقال: عالم! وقرأت القرآن ليقال: هو قارئ؛ فقد قيل، ثم أُمِر به فَسُحِب على وجهه حتى ألقي في النار. ورجل وَسَّعَ الله عليه، وأعطاه من أصناف المال، فأُتي به فعرَّفه نِعَمه، فعرَفَها. قال: فما عملت فيها؟ قال: ما تركت من سبيل تُحِبُّ أن يُنْفَقَ فيها إلا أنفقت فيها لك. قال: كَذَبْتَ، ولكنك فعلت ليقال: جواد! فقد قيل، ثم أُمِر به فَسُحِب على وجهه حتى ألقي في النار

“Sesungguhnya manusia yang paling pertama diadili di hari kiamat adalah seorang lelaki yang mati syahid, kemudian dia dihadapkan kepada Allah ﷻ, lalu dia menceritakan nikmatnya (mati syahid) dan Allah mengetahuinya, lalu berfirman Apa yang kau lakukan dengan nikmat itu ?” dia menjawab ‘aku berperang di jalanMu sampai aku terbunuh syahid’, Allah berkata “Tidak !, kamu berdusta !, sesungguhnya kamu berperang agar dikatakan kamu pemberani !, dan itu sudah kau dapatkan didunia”, lalu dia diperintahkan untuk diseret diatas wajahnya lalu dilemparkan ke neraka.

Kemudian ada seorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan menghafal al Qur’an, kemudian dia dihadapkan kepada Allah ﷻ, lalu dia menceritakan nikmatnya (menuntut ilmu) dan Allah mengetahuinya, lalu berfirman Apa yang kau lakukan dengan nikmat itu ?” dia menjawab ‘ aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al Qur’an karena mengharap ridha Mu’, Allah berfirman “Tidak !, kamu berdusta !, sesungguhnya kamu belajar agar kau dibilang ‘Alim dan kamu membaca al Qur’an (dan mengahafalnya) agar kamu dikatakan Qari’, dan semua itu sudah kamu dapatkan !” lalu dia diperintahkan untuk diseret diatas wajahnya lalu dilemparkan ke neraka.

Kemudian ada seorang yang Allah mudahkan rezekinya dan diberikan kelebihan harta, kemudian dia dihadapkan kepada Allah ﷻ, lalu dia menceritakan nikmatnya (harta berlimpah) dan Allah mengetahuinya, lalu berfirman Apa yang kau lakukan dengan nikmat itu ?” dia menjawab ‘Tidaklah aku melewati satu kesempatan yang mana Engkau cintai untuk bersedekah disana, maka aku bersedekah karena Mu’, Allah berfirman “Tidak !, kamu berdusta !, sesungguhnya kamu bersedekah agar kamu dikatakan dermawan, dan semua itu sudah kamu dapatkan !” lalu dia diperintahkan untuk diseret diatas wajahnya lalu dilemparkan ke neraka

HR. Muslim

Lebih Ditakutkan Dari Fitnah Dajjal

Sumber

Tatkala para sahabat membicarakan tentang dahsyatnya fitnah Dajjal, Rasulullah ﷺ mengabarkan kepada mereka seraya berkata

ألا أخبركم بما هو أَخْوَفُ عليكم عندي من المسيح الدجال؟ قالوا: بلى يا رسول الله، قال: الشرك الخفي يقوم الرجل فيصلي فَيُزَيِّنُ صلاته لما يرَى من نَظَرِ رَجُلٍ”

“Maukah kalian aku kabarkan tentang sebuah perkara yang lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (dahsyatnya) fitnah Dajjal ?” para sahabat menjawab Tentu Wahai Rasulullah, beliau ﷺ bersabda “Syirik kecil (yang tersembunyi) dimana seorang berdiri untuk shalat, lalu dia membaguskan shalatnya hanya untuk dilihat oleh orang lain”

HR. Ibnu Majah

Bentuk – Bentuk Riya’ Terselubung

Beberapa bentuk riya’ tidak begitu tampak, pelakunya pun tidak sadar bahwa dia melakukan kesalahan yang fatal karena riya’ yang menjangkitinya

Diantaranya, Mudah berfatwa dan tergesa-gesa untuk mengajar

Mudah berfatwa adalah penyakit yang banyak menjangkiti penuntut ilmu saat ini, bahkan yang lebih miris lagi, orang awam pun dengan mudahnya memberikan pendapat terhadap agama, padahal dalam membaca al Qur’an saja belum lancar, namun sudah berani beristinbath tentang agama, sungguh amat menyedihkan. Semua itu terjadi karena ingin terlihat ‘alim dan pakar dalam agama, orang seperti itu malu, jika mengakui kebodohannya, maka demi memenuhi keinginannya, berbohong atau berkata dengan tolak pikirnya yang tidak disertai dengan ilmu, lebih baik baginya dibanding dia berkata tidak tahu, karena dia akan menjadi orang yang terlihat bodoh, wal’iyaadzu billah

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullahu ta’ala berkata :

“Para ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in tidak suka tergesa dalam berfatwa, dan setiap mereka berharap agar saudaranya yang menjawab (jika ditanya). Apabila mereka melihat itu sudah menjadi keharusan baginya, maka mereka akan mengerahkan segala kemampuan yang mereka miliki, untuk mengetahui hukumnya dari al Qur’an dan sunnah ataupun pendapat khulafaa’ rasyidin”

Kitab I’laamul Muwaqqi’iin 1/33-34

Diantaranya yang lain Mencintai Perdebatan dalam Perkara Agama

Demi mendapatkan popularitas, banyak orang yang mencintai debat, terutama dalam perkara agama, ini termasuk dari ciri-ciri manusia yang terjangkiti Riya’ dalam hatinya, dia menuntut ilmu, namun digunakan untuk berdebat dengan orang yang menyelisihinya, padahal orang lain juga berdasarkan dalil dan ilmu dalam berpendapat, seandainya niat baik yang dimilikinya, maka jalan dialog tertutup lebih utama baginya daripada berdebat dengan tujuan, dianggap yang terbaik dalam ilmu agamanya, wal’iyaadzu billah

Rasulullah ﷺ bersabda

أَنا زَعِيمٌ ببَيتٍ في ربَضِ الجنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ المِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَببيتٍ في وَسَطِ الجنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الكَذِبَ وإِن كَانَ مازِحًا، وَببيتٍ في أعلَى الجَنَّةِ لِمَن حَسُنَ خُلُقُهُ

“Aku menjamin sebuah rumah dipinggiran surga bagi siapapun yang meninggalkan perdebatan walaupun dia benar, dan rumah di tengah surga bagi siapapun yang meninggalkan dusta walaupun bercanda, serta rumah surga yang tertinggi bagi siapapun yang baik akhlaknya”

HR. Abu Daud dengan Sanad yang Shahih

Penutup

Saudaraku seiman yang semoga dirahmati Allah, sudah menjadi kewajiban kita menjauhi penyakit hati yang berbahaya ini, riya’ yang terlihat ringan namun amat mengerikan akibatnya

Oleh karenanya Allah mewasiatkan kepada kita agar tidak sekali-kali menyekutukanNya dalam beribadah

قُلْ اِنَّمَآ اَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰٓى اِلَيَّ اَنَّمَآ اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا ࣖ – ١١٠

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

Qs. Al Kahfi 110

Semoga Allah jauhkan kita dan keluarga kita dari penyakit riya yang membahayakan

Washallallahu ‘alaa nabiyyinaa muhammad wa ‘alaa aalihi wa man waalah


Akhukum fillah Thariq Aziz al Ahwadzy

4 Safar 1442H

di Kota Bekasi


Baca Juga

Hukum Bertawassul Kepada Selain Allah

Rasulullah ﷺ Amat Mencintai Ummatnya

Fitnah Syahwat dan Hawa Nafsu

Thariq Aziz al Ahwadzy

Thariq Aziz al Ahwadzy, seorang kelahiran kota Bekasi pada 21 Juli 2000, penuntut ilmu dan CEO Menjadi Muslim yaitu Platfrom untuk belajar bersama menjadi seorang muslim seutuhnya. Belajar dan belajar itulah jalan hidupnya

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *